Aldila Sutjiadi Targetkan Asian Games 2026 Lewati Ujian WTA 500 Singapura
Mantan jurnalis olahraga yang kini berfokus pada analisis taktik sepak bola lokal maupun Eropa.

Petenis ganda andalan Indonesia, Aldila Sutjiadi, akan memulai petualangan di WTA 500 Singapura sebagai arena uji coba terakhir sebelum bertarung di Asian Games 2026 yang digelar di Jepang. Sang atlet berangkat dari Jakarta pada Sabtu (19/9) pagi setelah menjalani serangkaian latihan intensif di ibukota. Keputusan ini menandai fase transisi strategis bagi Aldila, yang harus beradaptasi cepat dari ritme turnamen profesional WTA ke tekanan multi-event besar beregu nasional.
Di Singapura, Aldila akan kembali berpasangan dengan Erin Routliffe, rekan sekunder asal New Zealand yang pernah membawanya meraih perempat final US Open 2026. Duet ini terhenti di tangan pasangan tuan rumah Ashlyn Krueger dan Robin Montgomery di Grand Slam terakhir. Prestasi itu menjadi tolok ukur kekuatan Aldila di kancah internasional sebelum ia harus mengubah fokus sepenuhnya ke nomor ganda campuran di ajang bergengsi Asia.
Target utama Aldila di Asian Games 2026 jelas: hanya bertanding di nomor ganda campuran bersama Christopher Rungkat. Nama Priska Madelyn Nugroho, rekan ganda putrinya, tidak tercantum dalam daftar pengirim Asian Games kali ini. "Aku hanya akan bertanding di ganda campuran bersama Christo saja nanti di Asian Games, karena Priska enggak main di Asian Games," ujar Aldila via pesan instan kepada ANTARA. Keputusan ini memaksa Aldila mengorbankan peluang medali ganda putri demi memaksimalkan peluang emas di nomor campuran.
Kimia Aldila dan Christo bukan rahasia lagi. Keduanya pernah mengukir sejarah emas di Asian Games 2018 di Palembang-Jakarta, lalu mendominasi SEA Games berturut-turut di Filipina 2019, Vietnam 2021, Kamboja 2023, serta meraih perunggu di Thailand 2025. Sekarang, peran Christo ganda: rekan sekunder sekaligus pelatih utama Aldila. Dinamika unik ini jadi modal sekaligus tantangan tersendiri dalam membangun kekompakan di bawah tekanan harapan publik.
Jadwal padat menunggu Aldila pasca-Singapura. Ia harus segera menyesuaikan gaya bermain dari format ganda putri yang menuntut kekuatan baseline dan servis agresif, ke ganda campuran yang mengandalkan refleks cepat di net, komunikasi visual, dan strategi servis-return yang disesuaikan dengan kekuatan lawan laki-laki. Transisi teknis dan mental dalam waktu singkat ini akan menentukan apakah Indonesia bisa menambahkan emas tenis ke medali Asian Games.
Analisis Redaksi
Fokus Aldila pada ganda campuran adalah langkah pragmatis mengingat kedalaman timnas putri yang tipis tanpa Priska. Namun, risikonya besar: semua telur diletakkan dalam satu keranjang Christo. Jika kimia mereka tersandung atau Christo cedera, Indonesia kehilangan peluang emas tenis total. Pengelola PBSI harus memastikan program cadangan dan pemulihan fisik Christo berjalan optimal, mengingat usia dan beban ganda sebagai pemain-pelatih.
WTA 500 Singapura bukan sekadar turnamen persiapan, tapi uji validitas ranking dan formen Aldila di level elit. Kemenangan di sana akan memberi momentum psikologis vital sebelum tekanan Asian Games. Sebalikkan, kekalahan dini berpotensi menggerus kepercayaan diri. Kunci ada pada kemampuan Aldila memisahkan identitas profesional WTA dari tanggung jawab beregu nasional โ keterampilan mental yang hanya dimiliki atlet berpengalaman sejati.
BERITA TERKAIT (Olahraga)

Janice Tjen Diproyeksi Ulangi Kejayaan sebagai Unggulan Pertama Chennai Open 2026

Jokowi dan Shin Tae Yong Saksi Ijab Bahagia Pernikahan Asnawi & Yuriska

Toraja Academy Turunkan 100 Atlet untuk Tembus Prestasi di CNN Indonesia Taekwondo Championship
