20 Talenta Vokasi RI Berangkat ke Shanghai untuk WorldSkills Competition 2024
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Dua puluh talenta vokasi Indonesia berangkat ke Shanghai, China, untuk mengikuti WorldSkills Competition (WSC) ke-48 yang mempertaruhkan keterampilan dengan peserta dari lebih dari 80 negara. Kontingen Merah Putih terdiri dari 20 kompetitor dan 17 expert yang akan bertanding dalam 17 bidang keahlian, mulai dari teknologi manufaktur hingga layanan kreatif.
Para kompetitor dipilih dari siswa dan alumni SMK serta talenta unggulan institusi mitra industri. Tidak hanya dibekali keterampilan teknis, mereka ditempa mental, kedisiplinan, integritas, hingga kemampuan bekerja mengacu standar internasional. "Mereka berangkat bukan sekadar membawa koper, melainkan membawa nama besar Indonesia," tegas Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Tatang Muttaqin, Kamis (17/9).
Tatang menegaskan keikutsertaan Indonesia tidak semata-mata mengejar medali. Ajang ini dijadikan moment untuk mengukur kemampuan talenta muda dengan benchmark global, sekaligus menyerap pengalaman serta perkembangan teknologi terbaru. "Target kita bukan hanya pulang membawa medali, tetapi juga membawa pengalaman, teknologi, dan standar global untuk memajukan pendidikan vokasi di tanah air," ujarnya.
WSC dikenal sebagai arena pengujian ketat kesiapan tenaga muda memenuhi standar keterampilan yang dituntut dunia kerja. Hasil kompetisi nantinya akan menjadi bahan evaluasi mendasar bagi pengembangan pendidikan vokasi domestik—mencakup kurikulum, metode pembelajaran, penguasaan teknologi, hingga standar kompetensi yang diterapkan.
Pendidikan vokasi saat ini dituntut tidak hanya menguasai teori, tapi memastikan lulusan memiliki keterampilan relevan dengan kebutuhan industri. Kesenjangan antara output sekolah dan kebutuhan lapangan masih jadi rumah sakit klasik. Pengalaman kontingen di Shanghai diharapkan jadi cermin nyata: di mana posisi kita, dan seberapa jauh jarak yang harus ditempuh.
Analisis Redaksi
Pengiriman kontingen ke WSC bukan sekadar partisipasi simbolik. Ia menguji nyata apakah reformasi vokasi yang digulirkan pemerintah—mulai kurikulum Merdeka Belajar hingga kemitraan industri—sudah menyentuh garis depan kompetensi global. Jika 20 talenta ini pulang tanpa medali tapi membawa peta kekurangan teknis yang jelas, itu sudah kemenangan strategis.
Yang perlu diwaspadai: jangan biarkan evaluasi pasca-kompetisi jadi laporan yang tertumpuk di laci. Kementerian Pendidikan, Kultur, Riset, dan Teknologi harus menerjemahkan temuan Shanghai ke revisi kurikulum yang cepat, pelatihan instruktur yang berkelanjutan, dan standar fasilitas yang setara industri. Talenta-talenta ini adalah investasi; pulang mereka harus membawa perubahan, bukan hanya kenangan.

