Rabu, 4 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Prabowo Yakinin Investasi Besar Masuk Pekan Depan, Sebut Fundamental Kuat dan Inflasi 2,92%

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNN Ekonomi
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Prabowo Yakinin Investasi Besar Masuk Pekan Depan, Sebut Fundamental Kuat dan Inflasi 2,92%
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Akan besar-besaran." Angka realisasi investasi hingga Juni 2026 dicatat mencapai Rp1.010 triliun, sementara sepanjang 2025 totalnya menyentuh Rp1.931 triliun.
  • Menurut Kepala Negara, angka-angka ini membuktikan aktivitas penanaman modal berjalan selaras dengan target APBN, bukan sekadar proyeksi di atas kertas.
  • Ia menegaskan bahwa 2,7 juta lapangan kerja baru tercipta sepanjang 2025 dan 1,4 juta posisi tambahan hingga 2026 berjalan adalah buah langsung dari aktivitas investasi swasta, bukan program pemerintah.

Presiden Prabowo Subianto memastikan arus investasi besar-besaran akan menggeliat masuk Indonesia dalam beberapa pekan mendatang, keyakinan yang ia bangun atas pertemuan langsung dengan pelaku usaha global dan data fundamental ekonomi yang dinilai tetap solid. Pernyataan itu disampaikannya dalam acara "Presiden Prabowo Menjawab", Rabu (16/9), dengan nada yang menuntut perhatian: "Ini beberapa minggu ke depannya, tunggu saja, akan ada investasi besar-besaran masuk ke Indonesia. Akan besar-besaran."

Angka realisasi investasi hingga Juni 2026 dicatat mencapai Rp1.010 triliun, sementara sepanjang 2025 totalnya menyentuh Rp1.931 triliun. Menurut Kepala Negara, angka-angka ini membuktikan aktivitas penanaman modal berjalan selaras dengan target APBN, bukan sekadar proyeksi di atas kertas. Ia menegaskan bahwa 2,7 juta lapangan kerja baru tercipta sepanjang 2025 dan 1,4 juta posisi tambahan hingga 2026 berjalan adalah buah langsung dari aktivitas investasi swasta, bukan program pemerintah.

Dasar optimisme Prabowo tak hanya bersandar pada angka historis. Ia mengungkap telah bertemu "pemain-pemain besar di dunia" yang hadir ke Indonesia setelah memastikan fundamental ekonomi negara ini kuat dan aman. Para investor global, kata dia, menghitung risiko sebelum menanamkan modal โ€” dan Indonesia lulus uji itu dengan indikator makro yang mengesankan.

Inflasi diklaim tercatat di level 2,92 persen, "salah satu terendah di dunia". Defisit anggaran dikendalikan di bawah 3 persen, jauh lebih ramping dibanding Filipina (6 persen), India (4,6 persen), hingga Prancis (5,4 persen). Perbandingan itu sengaja disorot untuk menegaskan posisi relatif Indonesia di tengah gejolak ekonomi global yang masih mewabah.

Proyeksi jangka panjang pun jadi pelengkap narasi. Prabowo merujuk estimasi Goldman Sachs yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia pada 2050 โ€” peringkat ke-4 hingga ke-6. "Dunia yakin Indonesia akan menjadi ekonomi ke-6, ke-5, ke-4. Dunia. Dalam tahun 2050, which is 25 tahun ke depan," ujarnya. Dengan landasan itu, pemerintah berkomitmen menjaga stabilitas sekaligus mendorong arus masuk modal sebagai mesin penggerak ekonomi dan penyedia lapangan kerja.

Analisis Redaksi

Klaim investasi "besar-besaran" dalam hitungan minggu itu nyata, tetapi pengalaman mengajarkan agar angka realisasi nanti dibandingkan dengan komitmen yang diucapkan di meja pertemuan. Sering kali, MoU bertumpuk di awal tahun, tapi realisasi fisik baru terlihat di semester kedua โ€” kalau tidak tersandung izin, tanah, atau ketidakpastian regulasi. Kunci bukan siapa yang bertemu Presiden, tapi seberapa cepat menyelesaikan hambatan teknis di lapangan.

Data inflasi 2,92 persen dan defisit di bawah 3 persen memang patut jadi bangga, namun angka agregat itu menyembunyikan tekanan harga pangan yang dirasakan rumah tangga dan ketidakseimbangan struktural anggaran yang masih bergantung pada pendapatan tidak pajak yang volatil. Jika arus modal global berbalik arah akibat kebijakan Fed atau geopolitik, buffer fundamental ini akan diuji keras. Langkah selanjutnya yang logis: mempercepat reformasi perizinan dan pastikan tenaga kerja terlatih agar investasi yang masuk benar-benar menciptakan lapangan kerja berkualitas, bukan hanya mengejar angka realisasi untuk laporan bulanan.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ