Macklemore Dikeluarkan dari Tur Ed Sheeran Usai Suarakan Solidaritas Palestina
Pengamat budaya pop dan tren media sosial yang tahu persis apa yang sedang viral.

Rapper asal Seattle, Macklemore, dikonfirmasi dikeluarkan dari deretan penampilan pembuka konser Loop Tour milik Ed Sheeran di Amerika Serikat setelah ia menyampaikan pidato mendukung Palestina di atas panggung. Pengumuman tersebut disampaikan rapper berusia 41 tahun itu melalui unggahan media sosialnya pada Senin (14/9), mengakhiri spekulasi soal ketidakhadirannya dalam jadwal tur stadion yang tersisa.
Macklemore sebelumnya dijadwalkan tampil di delapan dari sepuluh pertunjukan tersisa, dimulai dari laga di Philadelphia pada 19 September mendatang. Keputusan pencabutan kontrak tersebut, menurut narasi Macklemore, dipicu oleh tekanan yang diterima Ed Sheeran dari para pemilik stadion, yang ia sebut dikomandoi oleh Robert Kraft, pemilik New England Patriots sekaligus Stadion Gillette di Foxborough.
Dalam unggahan panjangnya, Macklemore menegaskan bahwa korban utama dalam insiden ini bukan dirinya, Ed Sheeran, maupun penyanyi Pink yang ia sebut ikut terpengaruh setelah menolak ikut serta dalam kampanye advokasinya. Ia menuliskan pesan bahwa fokus harus tetap pada penderitaan rakyat Gaza, bukan pada nasib karier para artis yang terlibat.
Keterlibatan Robert Kraft menambah lapisan kompleksitas, mengingat figur pengusaha media dan olahraga itu dikenal memiliki kedekatan politik dengan pemerintahan Israel serta track record filantropi pro-Israel yang terbuka. Stadion Gillette miliknya merupakan salah satu venue utama dalam rute tur Sheeran, memberikan leverage nyata bagi tekanan finansial dan kontraktual.
Ed Sheeran dan manajemen tur hingga berita ini ditulis belum mengeluarkan pernyataan resmi menanggapi klaim tekanan maupun alasan pembatalan kontrak Macklemore. Diamnya pihak penyelenggara tur menciptakan ruang spekulasi publik, sementara Pink yang disebutkan Macklemore juga belum memberikan klarifikasi soal keterlibatannya dalam alur kejadian ini.
Analisis Redaksi
Insiden ini memperlihatkan betapa rapuhnya ruang ekspresi politik di industri hiburan mainstream AS ketika menyentuh isu Israel-Palestina. Tekanan dari pemilik venue yang bersifat bisnis โ bukan artistik โ mengindikasikan bahwa struktur kekuasaan ekonomi tetap menentukan batas-batas kebebasan bicara di atas panggung stadion besar.
Langkah selanjutnya yang logis adalah kemungkinan gugatan hukum dari sisi Macklemore atas pelanggaran kontrak, atau setidaknya negosiasi kompensasi finansial. Secara publik, narasi ini kemungkinan besar akan memperkuat gerakan boikot budaya terhadap artis atau korporasi yang dianggap mengakomodasi tekanan pro-Israel, memperdalam polarisasi di tengah audiens global.
BERITA TERKAIT (Selebriti)

Angga Dwimas Sasongko Proyeksikan Krisis Industri Film: Produksi Melonjak, Penonton Anjlok

Lolox Ungkap Kesedihan Kehilangan Ayah di Gala Premiere Film GAK ADA MATINYA

Ashanty Bangga Arsy Ikut MUN 2026, Warisi Bakat Diplomasi Mendiang Kakek
