Janice Tjen 2026: Dua Gelar Ganda, Tunggal Masih Jadi Rumit

Olahraga
Dimas PratamaDimas Pratama
Sumber: CNN Olahraga
Dimas Pratama
Dimas Pratama
Pengamat Olahraga

Mantan jurnalis olahraga yang kini berfokus pada analisis taktik sepak bola lokal maupun Eropa.

Janice Tjen 2026: Dua Gelar Ganda, Tunggal Masih Jadi Rumit
BAGIKAN:

Petenis Indonesia Janice Tjen menutup seri turnamen hingga September 2026 dengan rekor bercerai: dua gelar juara ganda putri kontras dengan ketidakmampuan menembus babak kedua tunggal secara konsisten di 26 ajang yang disandangnya sejak Januari.

Musim dibuka di ASB Classic dengan manis pahit. Di sektor tunggal, atlet kelahiran Jakarta 24 tahun itu ambruk di babak pembuka, namun berpasangan dengan Caty McNally di ganda putri ia melaju hingga semifinal sebelum rekan senegaranya memutuskan walkover. Minggu berikutnya di Hobart International, skenario serupa terulang: tunggal gugur dini, tapi ganda justru menghadirkan gelar pertama musim bersama Katarzyna Piter.

Debut Grand Slam di Australian Open jadi momentum tersendiri. Janice berhasil menembus babak kedua tunggal — hasil terbaiknya di sektor itu tahun ini — meski perjalanan ganda terhenti di putaran awal. Momentum ganda kembali menyala di bulan-bulan tengah tahun. Semifinal Merida Open Akron dan Abu Dhabi Open menjadi landasan sebelum puncak musim tiba di Juni: gelar juara Birmingham Classic diraih berpasangan dengan Talia Gibson.

Kejayaan Birmingham ternyata jadi puncak terakhir. Pasca Juni, Janice tak lagi menyentuh podium. Di nomor tunggal, ia terjebak pola kalah di babak kedua, termasuk di Guadalajara Open 2026 usai dikalahkan Sloane Stephens. Peringkat dunia ke-51 WTA itu kini menghadapi ujian mental di Singapore Open yang bergulir 21 September mendatang.

Keputusan strategis sudah diambil: Janice akan melanjutkan ke China Open 2026, turnamen WTA 1000 wajib, yang secara otomatis membuatnya absen di Asian Games 2026. Pilihan itu menandai pergeseran prioritas dari kebutuhan medali multikontinental ke pengejaran poin ranking di sirkuit elit.

Analisis Redaksi

Polanya jelas: Janice Tjen saat ini adalah pemain ganda yang handal di level WTA 250 hingga 500, tapi masih mencari identitas di tunggal. Dua gelar juara dengan tiga pasangan berbeda — Piter, Gibson, dan hampir McNally — membuktikan adaptasi lapang dan kemampuan baca permainan jaring yang matang. Di sisi lain, rekor tunggal yang mentok di babak kedua, bahkan lawan lawan peringkat jauh di bawahnya, mengisyaratkan adanya blokade teknis atau taktis yang belum terpecahkan oleh tim pelatih.

Absennya di Asian Games adalah taruhan tinggi. Poin China Open 1000 bisa melonjakkan ranking ke area top 40-an, membuka akses seeding di Grand Slam mendatang dan menghindari undian brutal di putaran awal. Namun, biaya oportunitasnya besar: hilangnya peluang emas beregu atau ganda di Hangzhou, momen yang tak terulang dalam karir atlet nasional. Ke depan, konsistensi di Singapore jadi penentu: apakah Janice mampu menerjemahkan kepercayaan diri dari gelar Birmingham ke sektor tunggal, atau justru memutuskan untuk berspesialisasi penuh di ganda — jalur yang kini jaminan naik kelas paling realistis.

Meow! Tanya Nesi!
😸