Selasa, 3 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Film Horor Kolaborasi Indonesia-Malaysia Khadam Tayang 16 September, Aghniny Haque Hadapi Warisan Gaib

SelebritiAyu LestariAyu LestariSumber: CNN Selebriti
Ayu Lestari
Ayu Lestari
Wartawan Selebriti

Selalu update dengan kabar terbaru dari dunia artis dan infotainment tanah air.

Film Horor Kolaborasi Indonesia-Malaysia Khadam Tayang 16 September, Aghniny Haque Hadapi Warisan Gaib
BAGIKAN:

Film horor kolaborasi Indonesia-Malaysia Khadam (2026) resmi tayang di bioskop Indonesia mulai 16 September 2026, mengusung latar pedalaman Malaysia tahun 1957 dan kisah warisan makhluk gaib yang menjerumuskan keluarga ke dalam kegelapan. Karya produksi bersama Redfilms, Komet Productions, Sil-Metropole Organisation, Magma Entertainment, Applause Entertainment, Visual Media Studio, Golden Screen Cinemas, dan Primeworks Studios ini mendapatkan klasifikasi penonton DEWASA.

Kisah bermula ketika Melor, diperankan Aghniny Haque, mengayuh sampan menyusuri sungai menuju rumah nenek moyang di pedalaman untuk menemui Nek Mak, ibunya yang sudah sakaratul maut. Di pinggiran kematian, Nek Mak hanya menuntut satu hal: Melor harus menerima warisan khadam, makhluk gaib yang telah lama ia pegang. Penolakan Melor justru memicu deretan malapetaka pasca pemakaman.

Makhluk berwujud Nek Mak itu meneror Melor beserta dua anaknya, Puteh (Zarra Zhaff) dan Hitam (Karl El). Puteh bahkan dirasuki hingga nyaris celaka. Tersudut, Melor akhirnya menerima jadi tuan khadam itu. Situasi kunjung membaik โ€” hingga adik iparnya, Manis (Siti Khadijah Halim), tiba dari Bandar dan memperingatkan jangan melanjutkan ritual nenek moyang mereka.

Peringatan Manis terlewat. Melor sudah merasakan "kemudahan" hidup berkat khadam, apalagi saat suaminya Awang (Remy Ishak) pulang dengan sikap kasar, egois, dan membuat Melor tidak aman. Khadam jadi alat balas dendam pribadi Melor menghadapi kekejaman Awang. Namun semakin lama, Melor telat sadar harga mahal yang harus dibayar atas tindakan musyriknya itu.

Di kursi sutradara duduk Shamyl Othman, nama di balik Kau vs Aku 2 (2024) dan Hikayat Batu Belah Batu Bertangkup (2025). Skenario ditulis Fariza Azlina Isahak. Pemain pendukung meliputi Zarra Zhaff sebagai Puteh dan Karl El sebagai Hitam. Produksi melibatkan tujuh perusahaan dari dua negara, menandakan kolaborasi lintas batas yang serius di genre horor.

Analisis Redaksi

Khadam tidak sekadar menumpang tren horor Asia Tenggara yang lagi naik daun. Latar 1957 dan setting pedalaman Malaysia memberi tekstur sejarah yang jarang dieksplorasi film horor komersial โ€” ruang di mana kepercayaan animisme, Islam perdesaan, dan patriarki bertabrakan tanpa pamflet. Pilihan Shamyl Othman menempatkan wanita (Melor, Manis, Nek Mak) sebagai poros konflik spiritual dan domestik adalah langkah cerdas: horor jadi metafora ketidakberdayaan perempuan dalam struktur keluarga feudal.

Yang perlu diwaspadai: apakah film ini hanya mengeksploitasi estetika "mistik Melayu" untuk jump-scare, atau benar-benar mengurai biaya moral bertransaksi dengan gaib? Akhir cerita yang mengisyaratkan "harga musyrik" membuka peluat narasi tragis, bukan sekadar final terbuka untuk sekuel. Jika eksekusi sutradara konsisten dengan premise, Khadam bisa jadi titik balik horor Indonesia-Malaysia dari formula pocong-kuntilanak ke horor psikologis berakar budaya. Tayang 16 September akan jadi uji nyata: apakah penonton siap menghadapi ketakutan yang tidak hanya datang dari gelap, tapi dari ruang tamu sendiri.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ