Campus League Lahirkan Juara Perbanas dan Calon Timnas, Gozali Targetkan 'Manusia Super' Lewat Ekosistem Student-Athlete
Selalu terdepan dalam menyajikan berita balap motor dan olahraga bola basket.

Perbanas Institute meraih gelar juara Campus League Basketball Putra Season 1 2026 usai mengalahkan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) 47-45 di The Nationals Final, Sabtu malam, dengan Haikal Malik mencatat double-double 15 poin dan 11 rebound serta terpilih MVP Final. Pertandingan berlangsung ketat hingga detik terakhir: papan skor menunjukkan 45-45 tersisa 1 menit 36 detik sebelum Samuel Kafiar gagal mengonversi three-point play, Haikal mengamankan defensive rebound, lalu mencetak lay up penentu lewat assist teman di detik-detik tersisa. Peluit panjang berbunyi, Haikal baru sadar laga berakhir usai teman-teman berbondong-bondong masuk lapangan memeluknya.
Kemenangan itu hadiah manis bagi Haikal, mahasiswa tahun pertama asal Bengkulu yang pernah gagal menembus tim basket SMP dan melihat tingginya melonjak dari 169 ke 181 sentimeter dalam setahun saat pandemi. Prestasi akademiknya yang 'biasa saja' tak menyangka bisa membawanya kuliah gratis via beasiswa basket usai terpilih DBL All Star dan direkrut pelatih Perbanas, Afrizal. Posisi starting five tidak datang instan; Haikal bekerja keras setahun penuh sambil menjalani rutinitas padat: kuliah hingga pukul 14.00-15.00, gym, lalu latihan tim pukul 20.00 malam. "Saya alihkan rasa lelah dengan cerita ke teman-teman. Mereka juga bantu ingatkan tugas saat saya tanding," ujarnya.
Di sisi putri, Anastasya Firly dari Binus University memanfaatkan panggung Campus League untuk meloncat ke training camp Timnas Indonesia. Meskipun tak menembus skuad akhir, Firly menilai pengalaman berlatih bersama senior sebagai investasi tak ternilai. Jadwalnya lebih menakutkan: saat pemusatan latihan, ia mengerjakan UAS online, lalu pulang ke Jakarta untuk ujian susulan tiga hari. "Student di depan, athlete di belakang. Kuliah dulu yang harus selesai," tegas Firly yang juga aktif organisasi kampus dan jadi ambassador beasiswa. Waktu main dan santai jadi korban, tapi ia mengatur jadwal ketat agar tidak ada agenda dadakan.
Keduanya merepresentasikan visi Ryan Gozali, CEO Campus League, yang membawa pulang konsep NCAA dari Amerika Serikat. "Ekosistem olahraga kampus di sana luar biasa. NCAA entitas kedua terbesar setelah NFL. University of Michigan main, setengah kota nonton. Dampak sosial, ekonomi, kontribusi ke olahraga profesional sangat besar," ujar Gozali. Campus League bergulir 2025 lewat Season 0 futsal, lalu Season 1 2026 multi-cabang. Tujuannya jelas: naikkan jumlah lulusan S1, jadi jembatan pembinaan olahraga nasional, dan lumbung atlet ke liga profesional hingga Timnas.
"Student-athlete itu kami coba ciptakan 'manusia super' dalam tanda kutip. Harus hidup seimbang: mahasiswa dan atlet. Pengaturan waktu harus bagus. Nanti mereka hadapi konflik, tekanan, deadline—itu sekolah kehidupan," tutup Gozali. Haikal dan Firly adalah bukti nyata: juara nasional dan kandidat Timnas yang tetap lulus ujian, bayar biaya kuliah dari keringat sendiri, dan belajar dewasa sebelum usia 21 tahun. Campus League tak hanya menggelar turnamen; ia menanamkan disiplin ganda yang akan jadi modal mereka di dunia kerja nanti, apakah di parket atau di luarnya.
Analisis Redaksi
Kisah Haikal dan Firly menunjukkan Campus League sudah berfungsi sebagai lebih dari sekadar kompetisi—ia jadi filter alami yang menyaring mahasiswa dengan ketahanan mental dan manajemen waktu di atas rata-rata. Sistem beasiswa berbasis olahraga di Indonesia selama ini sering dikritik karena menciptakan 'atlet murid' yang akademiknya terabaikan, tapi model student-athlete yang ditekankan Gozali memaksa institusi dan individu untuk bersinergi. Jika Perbanas dan Binus bisa jadi teladan, universitas lain akan terpaksa mengikuti standar serupa demi reputasi dan daya tarik calon mahasiswa.
Tantangan besar ada pada keberlanjutan ekonomi dan struktur kompetisi. NCAA Amerika didukung industri media, sponsor, dan alumni yang siap mengeluarkan miliaran dolar; Campus League baru Season 1 dan masih bergantung pada visi pendirinya. Tanpa liga profesional putri yang kredibel—seperti yang diklaim Firly—talenta seperti ia berisih terjebak 'dead end' usai lulus. Langkah logis selanjutnya: Campus League harus membuka jalur komersial (hak siar, sponsorship, merchandise) agar tidak hanya jadi turnamen elit tapi juga bisnis berkelanjutan yang membiayai beasiswa dan fasilitas latihan jangka panjang.
BERITA TERKAIT (Olahraga)

Janice Tjen Diproyeksi Ulangi Kejayaan sebagai Unggulan Pertama Chennai Open 2026

Jokowi dan Shin Tae Yong Saksi Ijab Bahagia Pernikahan Asnawi & Yuriska

Toraja Academy Turunkan 100 Atlet untuk Tembus Prestasi di CNN Indonesia Taekwondo Championship
