Biaya Perang AS-Iran Tembus Rp670 Triliun, Anggota DPR Dorong Impeachment Menteri Pertahanan
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Kantor Anggaran Kongres AS (CBO) mencatat biaya operasi militer melawan Iran telah menelan US$38 miliar, setara Rp670 triliun, hingga 1 Agustus 2026, angka yang berpotensi membengkak setiap bulan selama konflik berlanjut. Di tengah tekanan biaya itu, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS Thomas Massie mengajukan resolusi impeachment terhadap Menteri Pertahanan Pete Hegseth pada Selasa (15/9), menuduh pejabat senior itu melanggar kewenangan Kongres dengan melanjutkan operasi militer tanpa otorisasi legislatif.
Resolusi Massie dilontarkan setelah DPR berulang kali gagal mengemas kuda perang pemerintahan Donald Trump melalui mekanisme pembatasan anggaran. "Hegseth menentang kewenangan Kongres dan secara ilegal melanjutkan operasi militer AS di Iran," tuduh Massie dalam surat resolusinya, mengesankan adanya benturan konstitusional yang memanas di Washington. Langkah ini menandai eskalasi serius dalam perebutan kekuasaan perang antara eksekutif dan legislatif.
Laporan CBO yang bersifat nonpartisan, dikutip AFP, menegaskan bahwa per 1 Agustus 2026, Kementerian Pertahanan AS sudah mengeluarkan US$38 miliar untuk konflik yang pecah sejak Februari lalu. Badan itu memperingatkan beban fiskal itu masih terbuka lebar, dengan potensi tambahan miliaran dolar per bulan selama tidak ada titik akhir diplomatik. Angka Rp670 triliun itu bukan sekadar statistik, melainkan beban nyata pada pembiayaan negara yang sudah tekanan.
Eskalasi di Timur Tengah juga memaksa Kementerian Luar Negeri AS menerbitkan peringatan perjalanan Level 3 "Reconsider Travel" untuk Arab Saudi pada hari yang sama, Selasa (15/9). Peringatan itu secara eksplisit menyebut risiko serangan drone dan rudal Iran yang menargetkan kepentingan AS, serta konflik bersenjata yang melibatkan milisi Houthi dari Yaman. Warga AS diimbau mengevaluasi keperluan kehadiran di Riyadh dan sekitarnya.
Milisi Houthi sendiri membantah tuduhan menyerang kota suci Mekkah dan Madinah, isu yang kembali menghangatkan suasana pada Rabu (16/9). Penolakan itu datang di tengah pertukaran tembakan yang tak kunjung reda dengan koalisi Arab Saudi. Ketegangan di Merah dan Teluk Persia menciptakan lingkaran api yang semakin menyempit ruang manuver diplomasi, sekaligus mengancam aliran minyak global.
Analisis Redaksi
Angka Rp670 triliun dari CBO bukan hanya soal uang, tapi bukti nyata bagaimana perang "terbatas" bisa meleset jadi beban fiskal jangka panjang tanpa strategi keluar yang jelas. Gerakan Massie, meski peluang lolosnya tipis di DPR yang dikendalikan partai sendiri, memaksa diskusi publik soal legalitas perang — topik yang sering dibungkam demi solidaritas partai. Jika Hegseth bertahan, presiden Trump akan semakin bebas tangan, tapi legitimasi domestik perang akan semakin robek.
Peringatan Level 3 untuk Arab Saudi mengisyaratkan Washington tidak lagi yakin bisa menjamin keamanan sekutunya paling dekat di Teluk dari ancaman proksi Iran. Ini mengubah kalkulasi keamanan regional: negara-negara Teluk mungkin mulai mencari payung keamanan alternatif atau mempercepat normalisasi dengan Tehran demi survival. Hati-hati, eskalasi tak terduga di Selat Hormuz bisa memicu lonjakan harga energi global yang akan terasa hingga ke pasar tradisional di Tanah Abang.


