Sarwendah Bantah Larang Ruben Bertemu Anak, Tantang Minola Bawa Psikolog ke Pengadilan
Menyajikan ulasan tajam seputar film lokal, internasional, dan dunia perfilman.

Sarwendah membuka suara lewat video unggahan Rabu (16/9) menjawab serangkaian narasi yang dikembangkan Minola Sebayang, kuasa hukum Ruben Onsu, soal perebutan hak asuh anak di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Mantan personnel Cherrybelle itu menegaskan tidak pernah melarang mantan suaminya bertemu anak-anak, justru menuding pengacara lawan menyebarkan informasi keliru yang merusak citranya di mata publik.
"Jadi, Pak Minola, masalahnya kan mau ketemu anak-anak. Dari awal, saya sudah bilang, saya tidak pernah melarang untuk ketemu anak-anak," ucap Sarwendah dalam video yang dikutip CNNIndonesia.com. Ia menantang kubu Ruben menunjuk psikolog kompeten untuk menilai apakah ia pernah mendoktrin atau memengaruhi anak-anak, seperti yang dinarasikan Minola selama ini.
Pemicu perseteruan ini bermula dari gugatan hak asuh yang diajukan Ruben Onsu ke PN Jakarta Selatan 1 Juli lalu, setelah perceraian resmi 24 September 2024. Mediasi gagal mencapai titik temu, memicu eskalasi ke persoalan finansial dan kesehatan yang disoroti masing-masing pihak di ruang publik.
Soal tes kesehatan, Sarwendah mengaku sudah menyerahkan hasil pemeriksaan sesuai permintaan Minola, namun menilai kubu Ruben justru menghindari hal yang sama. "Saya pun sudah melakukan hasil tes kesehatan sesuai dengan permintaan Pak Minola. Kalau memang itu bukan persoalan, kenapa permintaan itu terus dihindari?" tuturnya. Ia memperingatkan Minola untuk fokus pada proses hukum, bukan framing narasi di media sosial.
Minola Sebayang merespons pada hari yang sama lewat Instagram, membantah tuduhan manipulasi opini publik. "Di sini tidak ada opini siapa pun yang coba digiring... Apa pun yang saya sampaikan itu hanya untuk menyampaikan kebenaran," kata advokat itu. Ia menegaskan tidak ada rasa takut kalah di ranah hukum, argumentasi hukumnya cukup banyak, dan putusan kembali diserahkan ke majelis hakim.
Analisis Redaksi
Perang narasi ini mencerminkan bagaimana kasus hak asuh anak selebritas mudah tergulung ke arena opini publik, di mana keduanya justru saling mengorbankan kepentingan terbaik anak demi memenangkan simpati netizen. Sarwendah memilih strategi transparansi — menantang evaluasi psikolog independen — sedangkan Minola bertahan pada legitimasi peran advokat sebagai penampung kebenaran hukum kliennya. Kedua sisi sama-satu mengklaim kebenaran, tapi tidak ada yang benar-benar memindahkan pertarungan ke meja hakim dengan bukti-bukti keras yang netral.
Yang perlu diwaspadai: semakin lama kasus ini dimainkan di media sosial, semakin tipis ruang perlindungan bagi anak-anak yang justru jadi objek perebutan. Hakim PN Jakarta Selatan nanti akan menghadapi tekanan tidak terucap dari opini publik yang sudah terbagi dua. Langkah logis selanjutnya adalah pengadilan memerintahkan pemeriksaan psikolog Gerichtsgutachter (ahli pengadilan) yang netral, serta menyegel segala percakapan soal perkara ini di ruang publik demi kepentingan anak. Tanpa itu, anak-anak justru jadi korban perang ego orang dewasa.


