Selasa, 3 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Sains Jelaskan Perairan Masalembo, Bukan Segitiga Bermuda Penyebab KM Virgo 8 Terbalik

TeknologiFitriani NingsihFitriani NingsihSumber: CNN Teknologi
Fitriani Ningsih
Fitriani Ningsih
Jurnalis Siber

Fokus pada isu keamanan siber, kecerdasan buatan, dan tren teknologi masa depan.

Sains Jelaskan Perairan Masalembo, Bukan Segitiga Bermuda Penyebab KM Virgo 8 Terbalik
BAGIKAN:

Perairan Masalembo menjadi sorotan setelah KM Virgo Transport 8 terbalik di Laut Jawa pada Minggu (13/9). Hingga Rabu (16/9), 129 orang masih dalam pencarian. Insiden itu memunculkan kembali cerita lama tentang Segitiga Bermuda Indonesia, sebutan yang selama bertahun-tahun dilekatkan pada kawasan ini. Namun, anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menegaskan, dari perspektif sains, Masalembo bukan wilayah misterius yang otomatis menenggelamkan kapal.

Daryono menjelaskan, Perairan Masalembo selama bertahun-tahun sering dikaitkan dengan berbagai cerita mistis dan bahkan disebut sebagai 'Segitiga Bermuda Indonesia'. Dari kacamata sains, kawasan ini dipahami sebagai bagian dari sistem laut Indonesia dengan dinamika oseanografi dan meteorologi maritim yang kompleks. "Kompleksitas tersebut tidak berarti Masalembo memiliki fenomena laut yang misterius atau unik yang secara otomatis menyebabkan kapal tenggelam," kata Daryono dalam keterangan tertulisnya, Rabu (16/9).

Menurut dia, risiko pelayaran di kawasan ini lebih tepat dipahami sebagai hasil interaksi berbagai faktor, antara lain angin, gelombang, arus, pasang surut, kondisi atmosfer, batimetri, karakteristik kapal, muatan, serta keputusan dan prosedur navigasi. Masalembo berada dalam sistem perairan yang berhubungan dengan Laut Jawa, Selat Makassar, dan Laut Flores. Selat Makassar merupakan salah satu jalur penting Arus Lintas Indonesia (Arlindo) yang membawa massa air dari kawasan Pasifik menuju perairan Indonesia bagian selatan.

Sementara itu, Laut Jawa dan Laut Flores memiliki karakteristik sirkulasi yang dipengaruhi oleh konfigurasi kepulauan, pasang surut, serta perubahan musiman akibat sistem monsun. "Artinya, kawasan ini bukan sekadar tempat bertemunya tiga laut, melainkan bagian dari sistem pertukaran massa air yang dinamis. Perbedaan temperatur, salinitas, densitas, kedalaman, dan arah arus dapat membentuk struktur laut yang kompleks, baik secara horizontal maupun vertikal," jelas dia.

Daryono menuturkan, dalam kondisi tertentu, perbedaan densitas antarlapisan dapat menghasilkan stratifikasi laut dan shear arus, yaitu perbedaan kecepatan atau arah arus antara satu lapisan dengan lapisan lainnya. Proses ini dapat berhubungan dengan turbulensi, pencampuran massa air, maupun fenomena gelombang internal. Namun, fenomena itu tidak boleh langsung dianggap sebagai penyebab kapal kehilangan daya apung atau kendali. Faktor atmosfer juga sangat penting. Masalembo berada dalam wilayah yang dipengaruhi sistem monsun Asia-Australia. Perubahan arah dan kecepatan angin dapat memengaruhi pembentukan serta propagasi gelombang. Dalam kondisi tertentu, gelombang yang datang dari arah berbeda dapat bertemu dan membentuk cross-sea, yaitu kondisi ketika terdapat sistem gelombang dari lebih dari satu arah.

"Cross-sea dapat meningkatkan gerakan kapal, terutama rolling (miring ke kiri dan kanan) dan pitching (mengangguk ke depan dan belakang), serta menambah beban dinamis pada struktur kapal. Namun, pembentukan cross-sea tidak semata-mata disebabkan oleh benturan angin dengan arus," ujar dia menambahkan. Menurutnya, kondisi tersebut dapat terbentuk dari kombinasi gelombang lokal yang dibangkitkan angin dengan gelombang yang datang dari wilayah lain. Cuaca konvektif juga perlu diperhitungkan. Laut yang hangat menyediakan uap air dan energi bagi atmosfer, tetapi suhu permukaan laut yang tinggi tidak otomatis menghasilkan badai ekstrem, dan perlu kondisi atmosfer lain yang mendukung pertumbuhan awan konvektif.

Daryono menjelaskan, ketika awan Cumulonimbus berkembang kuat, dapat terjadi hujan lebat, petir, downdraft, dan gust front. Hembusan angin yang berubah cepat dapat menyebabkan kondisi laut berubah dalam waktu relatif singkat. "Bagi kapal, perubahan mendadak pada angin dan gelombang dapat meningkatkan beban dan gerakan kapal. Kombinasi angin, gelombang, dan arus merupakan parameter penting yang perlu diperhatikan dalam pelayaran," tuturnya. Selain kondisi atmosfer dan laut, batimetri atau bentuk serta kedalaman dasar laut juga berperan. Perubahan kedalaman dapat memengaruhi propagasi gelombang melalui proses seperti shoaling dan refraksi. Ketika gelombang memasuki perairan yang lebih dangkal, kecepatannya dapat berkurang dan karakteristiknya berubah.

Namun, perubahan kedalaman tidak selalu berarti tinggi gelombang akan meningkat secara drastis. Besarnya perubahan bergantung pada periode dan arah datang gelombang, kedalaman laut, bentuk dasar laut, pasang surut, serta kondisi arus setempat. Oleh sebab itu, menurutnya, kondisi laut yang berbahaya di Masalembo seharusnya tidak dijelaskan dengan satu mekanisme tunggal. Ia menekankan bahwa risiko pelayaran merupakan hasil interaksi antara faktor lingkungan dan faktor manusia serta kapal. Faktor lingkungan dapat berupa angin, gelombang, arus, pasang surut, cuaca konvektif, dan batimetri. Sementara itu, faktor kapal dan operasional meliputi stabilitas, distribusi dan pengamanan muatan, kondisi teknis, kecepatan pelayaran, kemampuan manuver, kompetensi awak, serta keputusan navigasi.

"Dalam kondisi gelombang besar, misalnya, kapal dapat mengalami rolling dan pitching yang signifikan. Apabila stabilitas kapal terganggu atau terjadi pergeseran muatan, kondisi tersebut dapat menjadi semakin serius," jelas dia. Ia mengatakan bahwa fenomena oseanografi dan meteorologi terkait hal ini tidak bisa dianggap sebagai kesimpulan penyebab kecelakaan Virgo Transport 8. Fenomena tersebut merupakan faktor lingkungan yang secara fisik dapat memengaruhi kondisi pelayaran, tetapi kontribusi masing-masing faktor harus dibuktikan melalui data dan investigasi kecelakaan.

Analisis Redaksi

Insiden KM Virgo Transport 8 memperlihatkan bagaimana narasi mistis masih mudah menempel pada wilayah laut yang secara ilmiah jauh lebih rumit. Daryono tidak menarik kesimpulan penyebab kecelakaan, melainkan memberi kerangka berpikir: kondisi lingkungan dan faktor kapal-manusia sama-sama diperhitungkan. Publik perlu menahan diri dari simplifikasi yang menyebut Masalembo sebagai penyebab tunggal hanya karena label Segitiga Bermuda Indonesia.

Yang perlu diwaspadai, risiko pelayaran tidak ditentukan satu mekanisme. Cross-sea, cuaca konvektif, batimetri, arus, pasang surut, ditambah stabilitas kapal, distribusi muatan, kompetensi awak, dan keputusan navigasi, semuanya bisa saling menguatkan. Karena itu, prakiraan cuaca maritim, prosedur keselamatan, dan manajemen muatan semestinya terus diperkuat, terutama di jalur padat seperti Laut Jawa.

Langkah selanjutnya yang logis adalah menunggu investigasi berbasis data untuk memastikan kontribusi tiap faktor. Tanpa itu, label mistis hanya mengaburkan persoalan keselamatan pelayaran. Fokus publik sebaiknya diarahkan pada perbaikan sistem, bukan pada cerita yang tidak bisa diuji.

BERITA TERKAIT (Teknologi)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ