Selasa, 3 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Reza Arap Bangun 27 Sekolah di NTT dari Dana Pribadi, Tanpa Galang Dana

SelebritiAyu LestariAyu LestariSumber: KapanLagi
Ayu Lestari
Ayu Lestari
Wartawan Selebriti

Selalu update dengan kabar terbaru dari dunia artis dan infotainment tanah air.

Reza Arap Bangun 27 Sekolah di NTT dari Dana Pribadi, Tanpa Galang Dana
BAGIKAN:

Reza Arap, selebgram dan YouTuber, membangun 27 sekolah di Nusa Tenggara Timur yang rusak akibat gempa bumi, seluruhnya dibiayai dari uang pribadi tanpa galang dana. Kebijakan itu ia umumkan melalui akun X pada Selasa (15/9/2026), menjawab sekaligus pertanyaan netizen soal sumber pendanaan sebelum pertanyaan itu diajukan.

Rincian bantuan mencakup 20 sekolah dasar (SD), empat sekolah menengah pertama (SMP), dan tiga sekolah menengah atas (SMA). "Anyway, I'm currently build in total 27 schools around NTT. 20 SDs, 4 SMPs, & 3 SMAs," tulisnya dalam bahasa campuran, menegaskan tidak ada niat pamer karena sudah pernah membangun sekolah sebelumnya.

Latar belakang aksi ini adalah kerusakan parah pasca gempa. Bangunan tak lagi memiliki atap, memaksa siswa belajar di bawah terpal dalam kondisi serba terbatas. "Itu 27 sekolah yang hancur karena bencana gempa kemarin. Sementara, mereka belajar pake terpal soalnya ndak punya atap," jelas Reza, menggambarkan urgensi di lapangan.

Bentuk bantuan difokuskan pada kebutuhan mendesak, bukan gedung permanen. Reza menyebut dukungan berupa terpal dan atap sementara, buku serta alat tulis, hingga santunan bagi guru honorer dan petugas lapangan. "Yang gue support itu terpal & atap sementara (bukan bangunan karena satu dan lain hal wkwk), buku + alat tulis, santunan guru-guru honorer, sama santunan buat orang lapangan," rincinya.

Soal jangka waktu, Reza tidak menetapkan batas pasti. "Kalau masalah jangka waktu, gue sekarang cuma bisa jawab 'semampu gue'," tulisnya. Pelaksanaan di lapangan melibatkan warga setempat, organisasi remaja, guru honorer, hingga badan keuskupan. Adiono disebut sebagai salah satu kontak untuk memantau perkembangan bantuan.

Unggahan itu menarik respons positif ribuan netizen, banyak yang berterima kasih karena membagikan kabar baik di tengah hiruk pemberitaan negatif. Reza menjawab dengan jujur: "Sebenernya dipost biar gue kaga lupa juga si, bukan gimana-gimana banget niatnya." Ia juga membuka kemungkinan membantu sekolah terpencil lain, tapi menegaskan mungkin tidak akan dipublikasikan: "Mungkin. Dan andai iya, tidak dipublish. Ini lagi gabut aja."

Analisis Redaksi

Aksi Reza Arap menampilkan model filantropi yang jarang terlihat di era media sosial: tanpa galang dana, tanpa jaminan transparansi formal, dan tanpa deadline. Keputusan menolak publisitas untuk bantuan mendatang justru memperkuat kredibilitas niat, meski justru menutup ruang verifikasi publik. Pola ini mencerminkan pergeseran kekuatan narasi kebaikan dari institusi ke individu berpengaruh.

Fokus pada kebutuhan darurat โ€” atap sementara, buku, santunan guru honorer โ€” mengakui keterbatasan kapasitas individu di hadapan skala bencana. Keterlibatan keuskupan dan organisasi remaja menunjukkan kolaborasi lintas sektor yang organik, bukan terencana. Namun, ketiadaan batas waktu dan struktur pelaporan menciptakan risiko keberlanjutan: apa jadi jika "semampu gue" habis sebelum bangunan permanen berdiri?

Langkah selanjutnya yang logis adalah formalisasi komitmen melalui MoU dengan dinas pendidikan atau yayasan pendidikan setempat, agar santunan guru honorer dan perbaikan fisik sekolah terjamin kelanjutannya. Tanpa itu, kebaikan ini berpotensi jadi proyek "selama stok uang dan mood cukup" โ€” manis di awal, rapuh di tengah jalan. Publik dan media perlu mengawasi, bukan hanya mengapresiasi.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ