Prabowo Tegaskan Tak Pandang Bulu: Serahkan Dadan ke Kejaksaan, Sita Hotel Sultan Kawan Sendiri
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Presiden Prabowo Subianto menegaskan kembali komitmen tidak pandang bulu dalam penegakan hukum korupsi, mengutik kasus dugaan suap yang menjerat Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana serta penyitaan aset Hotel Sultan milik Pontjo Sutowo, kawan dekatnya, dalam Program Presiden Menjawab yang tayang Rabu (16/9) lalu.
Soal Dadan, Prabowo mengaku secara pribadi yang mengangkat mantan anggota tim sukses dan tim pakarnya itu menjabat Kepala BGN. "Saya sudah buktikan. Pak Dadan itu tim sukses saya, tim pakar saya. Saya yang angkat di Kepala BGN. Saya juga yang serahkan ke kejaksaan," ucapnya mengutip rilis Bakom RI, menegaskan bahwa kedekatan politik tidak membekalkan kekebalan hukum bagi siapapun.
Narasi serupa dilontarkan saat menyentuh kasus Hotel Sultan. Presiden mengakui arus lobi masif masuk ke meja kerjanya saat aparat menyita aset milik Pontjo Sutowo, sosok yang diakenal sebagai kawan. "Hotel Sultan itu, wah yang lobi ke saya banyak. Mungkin Pak Pontjo itu dianggap tokoh, dan memang kawan saya juga. Tapi saya enggak ada kawan, ini negara," tegasnya, menolak campur tangan dalam proses hukum yang berjalan.
Ketegasan itu bukan lahir semata-mata di Istana. Prabowo membuka jendela ke masa lalu, tepat malam pertama diresmikan sebagai Menteri Pertahanan Oktober 2019. Ia mengumpulkan seluruh keluarga dan orang dekat di lingkungan Gerindra, melarang keras mereka mencari bisnis di Kementerian Pertahanan demi menghindari konflik kepentingan sejak hari pertama.
Polanya diulang saat naik ke Palacio do Planalto. Prabowo mengaku telah memperingatkan kader Gerindra sejak awal: jangan harap dilindungi jika berbuat kesalahan hanya karena ia Presiden. "Anda bisa lihat, berapa bupati (dari) Gerindra yang ditangkap (aparat penegak hukum), berapa wali kota, dan sebagainya," ujarnya, merujuk realita sejumlah kepala daerah partainya yang tersandung kasus korupsi.
Penegasan ini datang di tengah mata rantai publik yang menilai konsistensi anti-korupsi sebagai ujian mutlak legitimasi moral administrasi baru. Kedua kasus yang disinggungāDadan sebagai personifikasi aparatur negara baru dan Pontjo sebagai representasi kekuatan bisnis lamaāmenjadi batu uji nyata apakah doktrin "negara di atas kawan" mampu bertahan di ruang praktik politik yang penuh tekanan.
Analisis Redaksi
Prabowo sengaja menggunakan narasi personalā"Saya yang angkat, saya yang serahkan"āuntuk membangun citra kepemimpinan yang berani memotong daging sendiri. Dalam jurnalistik politik, ini merupakan strategi framing klasik untuk menjawab skeptisisme publik soal janji kampanye anti-korupsi, dengan menyajikan bukti empiris berupa tangkapan bupati dan wali kota Gerindra sebagai track record. Namun, kredibilitas narasi ini akan diuji tidak pada retorika, melainkan pada kecepatan dan keadilan proses hukum Dadan Hindayana di pengadilan, serta apakah penyitaan Hotel Sultan benar-benar tuntas tanpa kompromi di balik layar.
Yang perlu diwaspadai: tekanan lobi yang diakui Prabowo sendiri soal Hotel Sultan mengisyaratkan struktur kekuatan lama masih berusaha menegosiasikan keadilan. Langkah logis selanjutnya yang harus dipantau adalah transparansi proses perkara Dadan di Kejaksaan Agungāapakah akan berjalan cepat dan terbukaāserta sikap partai Gerindra internal dalam memproses kader-kadernya yang tersandung, untuk membuktikan apakah peringatan Presiden berupa sanksi organisasi nyata atau hanya appellasi lisan.


