Pemkot Bandung dan GO Gelar TCR Karakter, Farhan: Karakter Kunci Hadapi Persaingan Global
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Pemerintah Kota Bandung bersama Ganesha Operation (GO) menggelar grand final The Champion Race (TCR) Karakter di Cornerstone Auditorium, Selasa (15/9), mempertemukan 16 murid terbaik jenjang SD dan SMP se-Kota Bandung yang berebut Piala Wali Kota. Kompetisi ini menandai transformasi TCR dari ajang e-sport pendidikan berbasis akademik yang telah berjalan tiga tahun dan meraih rekor MURI, menjadi wadah pengukuran dan penguatan karakter siswa.
Gagasan bergesernya format bermula dari kekhawatiran Wali Kota Bandung Muhammad Farhan soal tekanan pencapaian akademik yang menggeser pendidikan karakter. Farhan meminta GO mengembangkan varian TCR yang mengintegrasikan Enam Kebajikan Universal, Panca Waluya — Cageur, Bageur, Bener, Pinter, Singer — serta empat pilar Bandung Masagi: Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh, dan Silih Wawangi. "Skor Matematika anak-anak sekolah kita memang terus kita kejar supaya makin tinggi. Tapi jangan sampai kita kehilangan kesempatan memberikan dasar-dasar pendidikan karakter pada anak-anak kita karena tantangannya sekarang jauh lebih besar," ujar Farhan saat membuka grand final.
Wali Kota menegaskan persaingan anak kini melampaui batas geografis. "Sekarang, anak-anak kita bersaing bukan hanya dengan anak-anak Indonesia, tapi dengan anak-anak dari seluruh dunia," katanya. Respons positif datang dari Ketua Umum DPP Forum PLKP Indonesia Zoelkifli M. Adam yang hadir menyaksikan. Menurutnya, TCR Karakter memperluas gagasan The Champion Race dari kompetisi akademik murni menjadi wadah pendidikan karakter yang berbasis teknologi pendidikan.
Pelaksanaan tetap memanfaatkan aplikasi GO Expert yang sudah familiar di tangan siswa. Bob Foster, Direktur Utama GO, mengungkap desain ini terinspirasi data penelitian: anak-anak menghabiskan rata-rata empat jam sehari dengan gadget untuk bermain dan media sosial. "Daripada melarang, kami desain konsep belajar, berlatih, bertanding lewat GO Expert supaya gadget yang biasanya mereka pakai untuk main, kini dipakai untuk membangun karakter," kata Prof. Bob. Mekanisme lomba mempertahankan ciri khas TCR: pemenang ditentukan dari jumlah jawaban benar dalam waktu tercepat, dengan leaderboard real-time di layar besar.
Penilaian grand final melibatkan dewan juri akademisi yang diketuai Dr. Ade Mulyanah dari BRIN, bersama Prof. apt. Nasrul Wathoni (Unpad) dan Dr. Mochamad Whilky Rizkyanfi (UPI). Babak penyisihan berlangsung 27 Agustus, semifinal di GOR Doea SMPN 2 Bandung pada 5 September. Setiap sekolah mengirim empat murid SD dan enam murid SMP. Juara pertama SD diraih Azkia Narashya Shanum (SDN 201 Sukaluyu), sedangkan jenjang SMP dimenangi Windri Fadilla (SMPN 53 Bandung). Bob menegaskan: "Your competence can bring you to the top, but only character can maintain you at the top."
Analisis Redaksi
Kolaborasi Pemkot Bandung dan GO melahirkan model intervensi pendidikan karakter yang langka: berbasis data, terukur, dan tertanam dalam kebiasaan digital siswa. Alih-alih mengeluarkan ceramah moral abstrak, TCR Karakter mengubah gadget — sering dikritik sebagai penyebab degradasi karakter — menjadi instrumen pengukuran nilai-nilai Pancasila dan kearifan lokal Bandung Masagi. Pendekatan ini cerdas karena berbicara dalam bahasa generasi Z dan Alpha.
Yang perlu diwaspadai adalah keberlanjutan. Edisi perdana ini didorong momentum kebijakan Wali Kota Farhan, tapi uji nyata ada pada apakah format ini bisa berdiri sendiri tanpa dorongan politik, dan apakah indikator karakter yang diukur via aplikasi benar-benar merepresentasikan perilaku sehari-hari, bukan hanya kemampuan menjawab soal situasional. Langkah logis selanjutnya adalah studi longitudonal: melacak perkembangan karakter para pemenang dan peserta dalam 6–12 bulan ke depan, serta standarisasi modul agar bisa diadopsi kota lain tanpa hilang nuansa lokal.
Jika terbukti efektif, TCR Karakter bisa jadi prototipe kebijakan nasional: mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam kurikulum merdeka melalui gamifikasi yang terukur, bukan sekadar ekstrakurikuler. Tapi jangan terburu klaim sukses. Data juara hari ini baru titik nol. Bukti nyata ada di kelas, rumah, dan komunitas — bukan di leaderboard.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Siap-Siap, Warga Jawa dan Sumatra: BMKG Prediksi Hujan Ringan Landa Sebagian Besar Wilayah Hari Ini

Penambahan Daratan 32,8 Hektare di Sekitar Anak Krakatau Diverifikasi, Status 'Pulau Baru' Masih Menunggu Konfirmasi Lapangan

Fenomena Gerah di Indonesia: BMKG Jelaskan Penyebab Udara Lembap Meski Hujan Belum Rutin
