Pakar ITS Sebut Cuaca Laut Jawa Tidak Ekstrem, Data AIS Rekam Anomali KM Virgo 8

Berita Daerah
Budi SantosoBudi Santoso
Sumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Pakar ITS Sebut Cuaca Laut Jawa Tidak Ekstrem, Data AIS Rekam Anomali KM Virgo 8
BAGIKAN:

Pakar Lingkungan Laut Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menampik terjadinya cuaca ekstrem saat KM Virgo Transport 8 terbalik di Laut Jawa, Minggu (13/9) dini hari, dan menunjuk anomali teknis dari data hidrometeorologi serta jejak navigasi sebagai petunjuk penting.

Pakar Teknik Pantai ITS, Dr Eng Kriyo Sambodho, menyebut kondisi cuaca di Laut Jawa pada malam kejadian tidak masuk kategori ekstrem. Hal itu sebagaimana juga dijelaskan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Berdasarkan pantauan pihaknya, tinggi gelombang di Laut Jawa saat kejadian tercatat hanya di kisaran 1,6 hingga 2 meter, dengan kecepatan angin 20 knot dan embusan maksimal (gust) 30 knot.

"Kondisi hidrometeorologi pada saat kejadian tidak menunjukkan ekstrem menurut klasifikasi BMKG," kata akademisi yang akrab disapa Dhodot ini saat ditemui di ITS Surabaya, Selasa (15/9).

Menurut Dhodot, cuaca tetap bisa jadi triggering factor. Meski belum bisa dimasukkan kategori ekstrem, gejala yang menunjukkan adanya kondisi adverse marine condition atau tidak sedang baik-baik saja. "Namun menunjukkan adverse marine conditions,berupa angin tenggara sekitar 20 knot,dengan gust hingga 30 knot dan tinggi gelombang 1,9-2,0 m. Orientasi kapal terhadap kondisi lingkungan berpotensi menurunkan stabilitas kapal," ucapnya.

Dhodot mengatakan dengan tinggi gelombang 2 meter, air laut sangat mungkin masuk ke geladak kapal melalui ramp door, bila kapal diduga tidak tertutup rapat atau tak kedap. Keadaan ini bisa memicu reaksi berantai yang berujung pada hilangnya keseimbangan hingga miringnya lambung kapal. "Masih kemungkinan, jadi kapal sudah miring dari awal. Entah karena kargonya yang miring atu bergeser, water ingress (air masuk) yang mengurangi kesetimbangan, kegagalan mesin, atau kombinasi dari semuanya," ujarnya.

Selain itu Dhodot juga membedah data pergerakan KM Virgo 8 melalui rekaman Automatic Identification System of ITS (AISITS). Analisis data navigasi ini berhasil memetakan anomali sesaat sebelum kapal yang membawa 243 orang tersebut terbalik di perairan Laut Jawa. Data AISITS awalnya sempat merekam pergerakan kapal yang berjalan normal sejak keluar dari pelabuhan menuju jalur pelayaran Banjarmasin. Namun, sempat muncul kesalahpahaman di ruang publik bahwa perairan Masalembu merupakan 'titik mati' yang membuat sinyal tiba-tiba lenyap secara misterius.

"Banyak yang mengira di perairan Masalembu sinyalnya sengaja hilang, padahal jangkauan AIS ITS habis di daerah itu karena batas penerimaan transmitter dan responder radio kapal sudah di luar jangkauan (blank spot)," ujarnya. Kendati demikian, sebelum jangkauan sinyal tersebut habis pada pukul 01.00 WIB, pantauan data AISITS dan kompilasi laporan berikutnya merekam adanya perubahan situasi yang drastis.

Berdasarkan data yang dikumpulkan, terdapat titik balik anomali pada koordinat terakhir saat nakhoda melaporkan kapal mulai miring pada pukul 00.49 WIB. Pada saat itu, kecepatan kapal tercatat merosot tajam hingga tersisa sekitar 6 knot saja. Tidak hanya melambat, data pergerakan juga menunjukkan bahwa haluan (heading) kapal sudah berubah dan melenceng dari jalur pelayaran semestinya menuju Banjarmasin. "Kapal sempat shifting, keluar dari jalur. Kenapa tidak pada jalurnya? Apakah karena mesinnya sudah mati sehingga tidak bisa beramanuver, atau terbawa arus?" kata Dhodot menguraikan dugaan anomali tersebut.

Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8 dilaporkan hilang kontak di perairan Laut Jawa pada Minggu (13/9), pukul 02.00 WITA, saat berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin sejak Sabtu (12/9). KM Virgo mengangkut 243 orang penumpang, awak kapal hingga kru, serta 89 kendaraan. Dari 243 korban, telah terevakuasi sebanyak 108 korban dalam kondisi selamat dan 6 korban dalam kondisi meninggal dunia, Sementara itu, sebanyak 129 orang lainnya masih dalam pencarian.

Analisis Redaksi

Temuan Dhodot memindahkan pusat perhatian dari cuaca ekstrem ke rantai kejadian teknis. Data hidrometeorologi yang tidak ekstrem tidak serta-merta membersihkan faktor lingkungan, karena angin tenggara 20 knot dan gust 30 knot tetap bisa menjadi pemicu bila orientasi dan stabilitas kapal sudah bermasalah. Di titik ini, pertanyaan utama bukan lagi sekadar cuaca, melainkan mengapa kapal kehilangan kemampuan bermanuver dan keluar dari jalur pelayaran.

Rekaman AISITS juga memberi pelajaran penting: hilangnya sinyal di perairan Masalembu bukan misteri, melainkan batas jangkauan transmitter dan responder radio. Karena itu, ruang publik perlu membaca data navigasi secara utuh, bukan potongan. Perubahan drastis pada pukul 00.49 WIB, saat kecepatan merosot sekitar 6 knot dan haluan melenceng, adalah bahan investigasi yang harus diverifikasi dengan temuan lapangan, bukan disimpulkan sepihak.

Yang perlu diwaspadai berikutnya adalah kombinasi faktor yang disebut Dhodot: kargo bergeser, water ingress, kegagalan mesin, atau campuran semuanya. Langkah logisnya, otoritas mesti memeriksa ramp door, tata muat kendaraan, rekaman mesin, dan jalur pelayaran sebelum menarik kesimpulan final. Bagi publik, prioritas tetap pada pencarian 129 orang yang belum ditemukan, sambil memastikan proses evakuasi dan investigasi berjalan transparan.

Meow! Tanya Nesi!
😸