Ed Sheeran Hapus Macklemore dari Tur Loop: Artis Pendukung Seret Mundur
Menyajikan ulasan tajam seputar film lokal, internasional, dan dunia perfilman.

Ed Sheeran resmi menghapus nama Macklemore dari jadwal tur The Loop, memicu gelombang penarikan diri massal oleh artis pendukung lain. Keputusan ini diambil setelah penyanyi pembuka tersebut menyampaikan dukungan terbuka terhadap warga Palestina di Stadion MetLife, New Jersey, pada Jumat-Sabtu (4-5/9/2026). Tindakan Ed Sheeran bukan inisiatif pribadi, melainkan hasil tekanan final dari pihak venue dan promotor konser.
Macklemore tampil sebagai pembuka di dua malam pertama tur tersebut. Dalam pertunjukannya, ia menyuarakan solidaritas dengan Gaza dan menegaskan hak kebebasan bagi setiap manusia. "Saya percaya bahwa setiap manusia yang berjalan di muka bumi ini berhak atas kebebasan yang sama persis," kata Macklemore, seperti dilansir Variety pada Minggu (6/9/2026). Pernyataan serupa juga ia sampaikan kembali pada pertunjukan hari kedua.
Respons terhadap pernyataan Macklemore datang cepat dari Dewan Israel-Amerika. Mereka meluncurkan petisi yang menuntut pencabutan Macklemore dari rangkaian tur. Petisi itu menyoroti bahwa konser bukanlah ruang untuk rapat umum politik atau aktivisme sepihak. "Pertanyaannya adalah di mana batasan harus ditarik ketika seorang penampil pembuka menggunakan platform konser global untuk memajukan agenda politik," bunyi petisi tersebut.
Dinamika ini menarik perhatian Pink, penyanyi asal AS, yang mendukung Macklemore melalui unggahan media sosialnya. Aksi Pink justru membawa konsekuensi serius karena ia menerima ancaman. Sebagai seorang ibu dan perempuan Yahudi, Pink mengungkapkan ketakutan mendalamnya. Ia meminta hak untuk menyatakan bahwa situasi membuat dirinya dan orang-orang tercinta takut, tanpa label propaganda atau tuduhan setuju dengan genosida.
Pascakontroversi viral dan petisi bergulir, Macklemore mengonfirmasi pengeluarannya dari delapan dari sepuluh pertunjukan tersisa. Melalui Instagram, ia menulis bahwa Ed Sheeran dan timnya telah mengambil keputusan. Namun, Macklemore tetap bangga dengan dua penampilannya di depan 90 ribu penonton. "Saya tidak butuh 10 pertunjukan dari Ed. Saya hanya butuh dua. Dua kesempatan tampil... dan mengatakan sesuatu yang terkadang menjadi sangat berbahaya untuk dikatakan," tegasnya.
Analisis Redaksi
Peristiwa ini menunjukkan betapa rapuhnya batas antara seni dan politik dalam industri hiburan global. Meskipun Ed Sheeran berulang kali menegaskan bahwa keputusan pemecatan berasal dari promotor dan venue untuk menghindari pembatalan acara, reputasi musiknya turut terdampak. Ketidakmampuan menjembatani perbedaan antara kebebasan berekspresi seniman dan kekhawatiran keamanan finansial venue menciptakan luka permanen dalam ekosistem konser.
Kelompok artis pendamping seperti Finneas, Aaron Rowe, Lukas Graham, dan Beoga memilih mundur serentak. Langkah Finneas yang secara eksplisit mendukung Palestina memperkuat narasi bahwa isu Timur Tengah kini menjadi titik patah etis bagi banyak musisi. Penonton masa kini semakin kritis; mereka tidak lagi sekadar ingin ditunggui musik, tetapi juga menilai integritas moral para kreator yang mereka dukung.
Ahli hukum dan manajemen event akan kesulitan mengatur preseden baru dari kasus ini. Pertanyaan tentang apakah platform besar boleh membungkam suara minoritas atau aktivis di atas panggung komersial masih belum tuntas. Jika tren penarikan diri ini berlanjut, industri konser mungkin perlu merombak kontrak sponsor dan klausul moral yang sebelumnya dianggap standar.
BERITA TERKAIT (Selebriti)

Bioskop Trans TV Perkenalan Civil War (2024) di Layar Kaca, Hadirkan Rangkaian Film Aksi dan Horor 2-8 November 2026

Angga Dwimas Sasongko Proyeksikan Krisis Industri Film: Produksi Melonjak, Penonton Anjlok

Lolox Ungkap Kesedihan Kehilangan Ayah di Gala Premiere Film GAK ADA MATINYA
