Timnas Indonesia di Era Herdman: Identitas Permainan Masih Menunggu Konsistensi di Tengah Persiapan ASEAN Cup 2026

Olahraga
Maya SariMaya Sari
Sumber: CNN Olahraga
Maya Sari
Maya Sari
Wartawan Olahraga

Ahli dalam liputan bulu tangkis dan berbagai event olahraga internasional.

Timnas Indonesia di Era Herdman: Identitas Permainan Masih Menunggu Konsistensi di Tengah Persiapan ASEAN Cup 2026
BAGIKAN:

Timnas Indonesia masih belum menemukan identitas permainan yang kokoh setelah sembilan bulan dibimbing John Herdman, terlebih saat menghadapi tantangan lawan bertahan kuat di FIFA ASEAN Cup 2026. Pengamat sepak bola nasional, Supriyono Prima, mengkritik inkonsistensi gaya bermain Garuda Putih yang terlihat sejak FIFA Series hingga Piala AFF 2026, meski pelatih asal Australia telah mengerahkan berbagai variasi taktis.

Kekhawatiran utama Supriyono terfokus pada ketergantungan sistem serangan yang masih terlalu bergantung pada Dony Tri Pamungkas sebagai penembus utama dari sayap kiri. Ketika pemain asal PSM Makassar tersebut tertekan defensif, tim merasa buntu bagaimana memecahkan pertahanan lawan. “Ketika buntu, mau masuk di area tengah itu kreativitasnya seperti apa?” tanya Supriyono saat dihubungi CNN Indonesia, Selasa (15/9) siang.

Analisis lebih dalam menunjukkan pembagian tugas yang belum jelas di lapangan, terutama saat menghadapi lawan yang menerapkan low block. Supriyono menegaskan, Miliano Jonathans — yang baru pulih dari cedera — menjadi kunci untuk menambah variasi serangan. Pemain asal PSSI Primavera ini, menurutnya, memiliki potensi serupa dengan Arjen Robben Belanda: “Dia punya bola, cutting inside ke dalam dengan kaki kiri. Dia punya kecepatan, ada eksplosifnya juga.”

Kegagalan Timnas Indonesia di Piala AFF 2026 tidak sepenuhnya dibebankan pada absen tujuh pemain diaspora, menurut Supriyono. Ia mengingatkan bahwa pada kalahan 1-0 dari Bulgaria di FIFA Series, Garuda Putih sempat menunjukkan dominasi permainan. Namun, justru ketergantungan ke pemain tertentu menjadi alasan utama kegagalan. “Sepak bola itu sistem. Mau siapa pun yang main, kalau sistemnya sudah benar, sebenarnya aman.”

Timnas Indonesia, yang tergabung di Grup A bersama Singapura, Malaysia, dan Bangladesh, akan memulai laga perdana FIFA ASEAN Cup 2026 melawan Singapura pada Jumat (25/9) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Pertandingan ini menjadi ujian pertama bagi Herdman untuk mengukur sejauh mana kemajuan Timnas dalam menemukan identitas yang konsisten.

Analisis Redaksi

Kritikan Supriyono tidak hanya mengenai performa individu, melainkan juga konsistensi sistematik Timnas. Sejak Herdman mengambil alih, Garuda Putih telah berusaha mengadopsi pendekatan possession-based, namun belum mampu menjadikannya sebagai identitas utama. Hal ini terlihat dari fluktuasi hasil yang tidak stabil, baik dalam kalahan menggelikan maupun kemenangan yang terasa terpaksa. Tantangan terbesar masih ada pada bagaimana tim mengatasi lawan bertahan kuat tanpa bergantung pada satu atau dua pemain kunci.

Dampak dari ketidakjelasan identitas permainan tidak hanya berdampak pada performa di lapangan, tetapi juga pada kepercayaan publik. Pemain dan penggemar membutuhkan sinyal yang jelas bahwa Timnas sedang dalam proses transformasi yang terukur. Miliano Jonathans, sebagai pemain yang baru pulih, menjadi harapan baru, namun tanpa struktur taktis yang lebih matang, potensi individu tersebut sulit dimanfaatkan secara maksimal. Herdman kini dihadapkan pada pertanyaan: Apakah Timnas mampu menemukan identitas yang kuat sebelum turnamen ini dimulai, atau hanya akan terus beradaptasi tanpa arah yang jelas?

Langkah selanjutnya yang logis adalah penyesuaian taktis yang lebih cepat, termasuk pengembangan variasi serangan yang tidak terlalu bergantung pada satu pemain. Selain itu, Herdman juga perlu memperkuat komunikasi di lapangan agar pembagian tugas menjadi lebih transparan, terutama dalam menghadapi lawan bertahan. Jika tidak, risiko kegagalan di turnamen ini akan lebih besar dari pada absen pemain-pemain diaspora yang sering dijadikan alasan.

Meow! Tanya Nesi!
😸