Mantri BRI Lubuklinggau Dampingi Ratusan Debitur, Edukasi Keamanan Data

- Teti Ernawati menekuni profesi tenaga pemasar mikro atau Mantri BRI Unit Garuda, Branch Office Lubuklinggau, sejak 2017.
- Ia membina ratusan debitur yang tersebar di empat kelurahan, yakni Lubuk Tanjung, Tanjung Aman, Tanjung Indah, dan Watas.
- Usaha yang didampingi paling banyak bergerak di sektor perkebunan karet dan perdagangan.
Teti Ernawati menekuni profesi tenaga pemasar mikro atau Mantri BRI Unit Garuda, Branch Office Lubuklinggau, sejak 2017. Ia membina ratusan debitur yang tersebar di empat kelurahan, yakni Lubuk Tanjung, Tanjung Aman, Tanjung Indah, dan Watas. Usaha yang didampingi paling banyak bergerak di sektor perkebunan karet dan perdagangan. Untuk menjangkau wilayah binaan, Teti melakukan kunjungan rutin berdasarkan letak wilayah agar bekerja produktif sekaligus memaksimalkan potensi di setiap kelurahan.
Dalam kunjungannya, Teti bertemu langsung dengan pelaku usaha untuk melihat perkembangan usaha sekaligus memperoleh gambaran mengenai kebutuhan mereka. Ia membantu pelaku UMKM yang usahanya berkembang melalui pembiayaan, mendorong pelaku usaha perdagangan yang strategis menjadi BRILink Agen, serta membantu nasabah memperoleh berbagai produk dan layanan perbankan. “Menjadi Mantri BRI adalah kepuasan dan kebahagiaan tersendiri karena dapat memberikan kontribusi untuk banyak kehidupan. Saya berkembang, baik untuk diri sendiri maupun orang lain, melalui interaksi langsung di lapangan. Banyak seni kehidupan yang diperoleh, dan itu membuat saya mendapatkan ilmu baru untuk menjadi lebih baik,” ujar Teti dikutip dari keterangan tertulis, Selasa (15/9/2026).
Lubuklinggau, Sumatera Selatan, berkembang sebagai kota dengan aktivitas masyarakat yang beragam. Perdagangan menjadi salah satu penggerak ekonomi, sementara di sejumlah wilayah masyarakat juga menggantungkan penghidupan dari perkebunan. Bagi Teti, karakter wilayah binaan yang cukup menantang menjadi bagian dari profesinya. Sejak menjadi Mantri BRI pada 2017, ia membina ratusan debitur di empat kelurahan itu. Beragam usaha dijalankan para debitur, dengan perkebunan karet dan perdagangan sebagai sektor yang paling banyak didampinginya.
“Sebagai Mantri BRI, saya memilih pendekatan melalui interaksi dan komunikasi yang baik. Proses penyesuaian diri dengan kebutuhan nasabah dapat menyatukan satu tujuan yang sama. Awal mula hubungan yang baik dimulai dari cara komunikasi yang baik. Memahami kebutuhan nasabah adalah kunci bagaimana kita mengambil tindakan untuk selanjutnya,” ungkapnya. Interaksi dengan nasabah juga membuat Teti menemukan persoalan yang tidak selalu berkaitan dengan perkembangan usaha. Di wilayah perkotaan, ia masih menjumpai nasabah yang belum memahami pentingnya menjaga data pribadi saat beraktivitas di ranah digital.
Karena itu, ia turut memberikan edukasi agar nasabah lebih berhati-hati dalam menjaga informasi pribadi ketika menggunakan layanan keuangan. Bagi Teti, pertemuan dengan banyak karakter dan cerita kehidupan masyarakat menjadi bagian penting dari pekerjaannya. Dari sana, ia belajar lebih bijak dalam mengambil keputusan sekaligus menemukan kebanggaan karena dapat memberi arti bagi orang lain. “Ada banyak hal yang membahagiakan, salah satunya ikut tumbuh dan berperan terhadap keberhasilan pelaku usaha yang sudah kita biayai. Ada kepuasan tersendiri ketika melihat pelaku usaha yang kita dampingi terus berkembang dan sukses,” ujar Teti.
Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan bahwa pengalaman Teti menunjukkan bagaimana peran Mantri BRI dibangun melalui kedekatan dengan masyarakat dan pemahaman terhadap kebutuhan mereka. “Kedekatan dengan masyarakat membuat Mantri BRI dapat memahami perkembangan usaha dan kebutuhan mereka secara langsung. Hal tersebut menjadi bagian penting dalam upaya BRI untuk terus mendampingi pelaku usaha dan memperluas akses layanan keuangan di berbagai wilayah,” pungkas Dhanny.
Analisis Redaksi
Kisah Teti memperlihatkan bahwa pekerjaan Mantri BRI bukan sekadar menyalurkan pembiayaan. Kunjungan rutin, pemetaan wilayah, dan komunikasi langsung membuat bank memiliki kanal informasi yang dekat dengan denyut usaha masyarakat. Di Lubuklinggau, kombinasi perkebunan karet dan perdagangan menjadi basis ekonomi yang menuntut pendampingan berbeda antara satu kelurahan dan kelurahan lain.
Yang perlu diwaspadai adalah celah keamanan data pribadi. Temuan Teti bahwa masih ada nasabah di wilayah perkotaan yang belum memahami pentingnya menjaga data pribadi saat bertransaksi digital menjadi sinyal bahwa literasi keuangan tidak berhenti pada akses. Edukasi semacam itu perlu menjadi bagian rutin dari kunjungan, bukan sekadar pelengkap.
Langkah selanjutnya yang logis adalah memperkuat peran Mantri sebagai penyampai pesan keamanan transaksi sekaligus pendamping usaha. Dengan kedekatan yang sudah terbangun, BRI dapat memastikan pelaku usaha tidak hanya tumbuh, tetapi juga terlindungi dari risiko penyalahgunaan data. Publik pun berkepentingan agar akses layanan keuangan yang meluas diiringi pemahaman yang memadai.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

KSPI Tekan Pemerintah: Naikkan Batas Bebas Pajak JHT ke Rp400 Juta, Ajukan Dasar Emas

LPS Ungkap 14 BPR dan BPRS Tumbang di 2026: Lemahnya Tata Kelola Jadi Biang Kerok Utama

Respons Emiten Affiliates Salim & Sinar Mas: Nyalakan Lampu Kuning Pasca Pemanggilan Bos Sawit oleh Singapura
