Houthi Rebut Pelabuhan Mokha, Yaman di Ambang Perang Saudara dan Laut Merah Terancam
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Milisi Houthi merebut kota pelabuhan Mokha sejak Sabtu, memicu kekhawatiran bahwa Yaman dapat kembali mengalami perang saudara antara pemberontak dan pemerintah. Perebutan itu terjadi di tengah memanasnya Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kekerasan juga terjadi antara Houthi dan Arab Saudi. Mokha berada dekat Laut Merah, jalur alternatif energi dunia, di tengah penutupan Selat Hormuz. Gangguan di kawasan ini dikhawatirkan makin menaikkan harga minyak dunia.
Pelabuhan Mokha terletak sekitar 80 kilometer dari Selat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Posisi itu menempatkan Mokha pada titik strategis yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden. Dalam foto yang beredar, kerusakan akibat kekerasan terlihat jelas.
Meski ketegangan meningkat, sebagaimana dikutip Reuters Selasa (15/9/2026), juru bicara Houthi, Abdulsalam, mengatakan bahwa "kebebasan navigasi dan perdagangan internasional di Laut Merah serta selat tersebut tetap aman". Menurutnya, operasi Houthi hanya ditujukan pada target-target tertentu saja meski tak dijelaskan detail. Pernyataan itu muncul saat situasi di lapangan justru memburuk.
Sebelumnya, Houthi pernah menyerang kapal-kapal internasional di Laut Merah. Mereka menyatakan tindakan itu dilakukan sebagai bentuk solidaritas terhadap warga Palestina di Gaza. Serangan-serangan itu menjadikan perairan tersebut sebagai salah satu titik rawan bagi pelayaran global.
Dalam beberapa bulan terakhir, pertempuran antara Houthi dan pemerintah Yaman, yang diakui secara internasional, makin intensif. Situasi ini terjadi setelah sekitar empat tahun relatif tenang, sementara Houthi meningkatkan upaya untuk memperkuat kendali mereka atas wilayah pesisir negara tersebut. Dalam foto terlihat bagaimana sebuah mobil dibakar di tengah gurun.
Foto-foto lain yang dirilis Houthi Media Centre dan Al Joumhouriya TV menunjukkan bagaimana kerusakan karena kekerasan yang terjadi. Gambar-gambar itu memperkuat kesan bahwa konflik tidak hanya berlangsung di front darat, tetapi juga berdampak pada warga dan infrastruktur di sekitar pelabuhan.
Analisis Redaksi
Perebutan Mokha menempatkan Houthi pada posisi yang lebih kuat di pesisir Yaman, terutama karena kota itu berjarak sekitar 80 kilometer dari Selat Bab el-Mandeb. Jika kendali mereka bertahan, tekanan terhadap jalur pelayaran Laut Merah berpotensi meningkat. Klaim Houthi bahwa navigasi tetap aman mesti dibaca kritis. Rekam jejak mereka yang pernah menyerang kapal internasional membuat jaminan itu tidak serta-merta menenangkan pasar.
Yang perlu diwaspadai adalah eskalasi antara Houthi dan pemerintah Yaman yang diakui internasional. Pertempuran yang kembali intensif setelah sekitar empat tahun relatif tenang menunjukkan bahwa upaya memperkuat kendali pesisir bisa memicu perang saudara baru. Di saat yang sama, panasnya hubungan AS dan Iran serta kekerasan Houthi-Arab Saudi membuat konflik ini mudah tersedot ke dalam rivalitas yang lebih besar.
Bagi publik, dampak paling langsung adalah harga minyak dunia. Penutupan Selat Hormuz sudah membuat jalur alternatif energi semakin penting. Gangguan di Mokha dan sekitar Bab el-Mandeb dapat menambah ketidakpastian pasokan. Langkah selanjutnya yang logis adalah menguji apakah Houthi benar-benar menjaga kebebasan navigasi, sambil mencermati apakah pertempuran meluas ke kota pelabuhan lain.


