Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Helikopter Jepang Dibekukan: Karhutla Kalbar Menghilangkan Pandangan, Operasi Ditunda

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Helikopter Jepang Dibekukan: Karhutla Kalbar Menghilangkan Pandangan, Operasi Ditunda
BAGIKAN:

Tiga helikopter Chinook milik Jepang yang dikirim untuk membantu pemadaman karhutla di Kalimantan Barat kini tak bisa beroperasi karena kekerasan cuaca yang membuat jarak pandang menurun drastis di bawah satu kilometer. Pemerintah Indonesia melalui BNPB mengungkapkan, meski bantuan udara sudah tiba di Mempawah, operasi ditunda hingga visibilitas mencapai 3.500 hingga 5.000 meter.

Konferensi pers yang dihadiri Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan, Selasa (15/9), mengungkapkan keterbatasan teknis ini. “Kami bisa sampaikan bahwa bantuan helikopter Jepang saat ini sudah tiba di Kalimantan Barat namun belum dapat dioperasikan karena visibility sangat rendah,” ujarnya.

Wilayah yang terpengaruh meliputi sembilan kabupaten/kota: Mempawah, Pontianak, Melawi, Sambas, Ketapang, Kubu Raya, Sintang, Kapuas Hulu, dan Singkawang. Kondisi ini terjadi saat kabut tebal dan asap karhutla saling memperburuk, mengaburkan langit hingga jarak pandang hanya tinggal kurang dari satu kilometer.

Sebelumnya, Jepang mengirimkan tiga unit Chinook JGSDF CH-47 melalui kapal perang JS Kunisaki sebagai respons atas permintaan Indonesia. Helikopter tersebut tiba di Mempawah pada Kamis (10/9) dan direncanakan akan digunakan untuk pemadaman udara serta mengangkut logistik ke daerah sulit dijangkau.

Namun, pernyataan Berton menunjukkan realitas lapangan yang berbeda. “Pihak Jepang mau melakukan operasi ketika visibility mencapai 3.500 sampai 5.000 meter,” tegasnya, mengungkapkan ketidakmampuan teknis untuk beroperasi di kondisi kabut tebal.

Kondisi ini membuktikan bahwa karhutla bukan hanya soal sumber api, tetapi juga kelemahan infrastruktur pendukung. Helikopter yang dirancang untuk operasi penuh tidak bisa berfungsi optimal karena kabut yang terus menerus, menunjukkan bahwa pemadaman karhutla memerlukan koordinasi yang lebih matang antara teknologi dan kondisi cuaca.

Analisis Redaksi

Kasus ini mengungkapkan kelemahan dalam pengelolaan bencana yang seringkali terabaikan. Jepang menyediakan teknologi canggih, namun tanpa kondisi lapangan yang mendukung, bantuan tersebut tak bisa digunakan secara maksimal. Ini menunjukkan bahwa dalam penanggulangan karhutla, tidak cukup hanya bergantung pada bantuan luar negeri, tetapi juga harus memperkuat sistem lokal seperti weather forecasting dan koordinasi darurat yang lebih cepat.

Logisnya, pemerintah harus segera mengambil langkah-langkah seperti mengoptimalkan penggunaan helikopter lokal yang lebih ringan atau mengembangkan sistem pemantauan cuaca real-time untuk meminimalkan kerugian. Selain itu, hal ini juga menjadi peringatan bahwa kebiasaan membakar lahan yang terus berlanjut membuat kondisi semakin sulit dikendalikan.

Tidak hanya masalah teknis, tetapi juga soal kebijakan jangka panjang dalam pengelolaan hutan. Tanpa penanganan yang tegas, karhutla akan terus menjadi musibah tahunan yang menghabiskan sumber daya dan nyawa.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸