⚠️INFO GEMPA BUMI: Magnitudo 5.1 di 19 km WNW of Tomohon, Indonesia pada 2/11/2026, 15.13.14. Baca peringatan dan analisis selengkapnya.
Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Parade Satanik di Pekalongan Picu Polemik, Panitia dan Peserta Minta Maaf

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Parade Satanik di Pekalongan Picu Polemik, Panitia dan Peserta Minta Maaf
BAGIKAN:

Publik dihebohkan dengan beredarnya rekaman video parade satanik yang menampilkan simbol-simbol okultisme dan adegan penyembelihan kambing di atas altar dalam rangkaian Simbang Kulon Night Carnaval (SKNC) 2026. Acara yang dihelat pada Kamis, 10 September 2026, di Kelurahan Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, tersebut sontak menuai kritik tajam akibat kelalaian panitia dalam mengkurasi konten pertunjukan.

Kronologi dan Dalih Minim Literasi Peserta

Menanggapi kegaduhan yang berujung viral di media sosial, pihak penyelenggara dan kelompok peserta akhirnya menyampaikan permohonan maaf terbuka pada Senin, 14 September 2026. Perwakilan Panitia SKNC, Ziyad Azizi, mengakui adanya kecolongan dalam pengawasan detail materi pertunjukan yang merupakan bagian dari perayaan khitanan massal ke-61 dan rangkaian Maulid Nabi oleh Pengurus Nahdlatul Ulama (NU) setempat.

"Kami dari panitia mohon maaf yang sebesar-besarnya atas khilaf atau kekurangan kami," ujar Ziyad, seraya berdalih bahwa pihak panitia tidak mengetahui secara mendalam konsep yang akan dibawakan oleh para pengisi acara demi menjaga elemen kejutan bagi warga dan para kiai yang hadir.

Senada dengan panitia, kelompok peserta dari Tim Simone atau Simbang Gang One yang menampilkan atraksi kontroversial tersebut turut melayangkan permohonan maaf. Perwakilan Tim Simone, M. Akhid, mengaku bahwa konsep pertunjukan tersebut diadopsi secara serampangan dari platform YouTube tanpa pemahaman yang memadai mengenai makna historis maupun kultural di balik atribut yang digunakan.

"Kami menyesal, kami kurang literasi. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya atas penampilan kami di depan panggung," ucap Akhid. Ia menjelaskan bahwa ide tersebut bermula dari ketertarikan mereka pada kostum unik yang disewa dari Malang, sementara gerakan dan referensi panggung sepenuhnya diserap dari tontonan digital tanpa menyadari implikasi simboliknya.

Sikap Pemerintah Daerah dan Polemik Simbol Okultisme

Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pekalongan, Sukirman, yang hadir langsung di lokasi kejadian menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak pernah menerima proposal atau informasi rinci mengenai konsep pertunjukan tersebut. Ia membenarkan adanya adegan penyembelihan kambing, namun meluruskan narasi yang berkembang di ruang publik bahwa tindakan tersebut bukanlah ritual persembahan mistis.

"Memang ada penyembelihan kambing yang sebenarnya setelah acara selesai mau disate bareng-bareng," kata Sukirman. Kendati demikian, ia tidak menepis kenyataan bahwa visualisasi adegan horor serta penggunaan atribut yang menyerupai Sigil of Baphomet—lengkap dengan pentagram terbalik dan aksara Ibrani—telah memicu multitafsir, menimbulkan ketakutan pada anak-anak, serta mencoreng kekhidmatan acara Maulid Nabi.

Pemerintah Kabupaten Pekalongan berencana mengevaluasi insiden ini secara komprehensif agar ruang ekspresi dan kreativitas masyarakat ke depan tetap selaras dengan norma agama serta nilai-nilai Pancasila.

Meow! Tanya Nesi!
😸