Kennedy Center Jatuhkan Diri: Trump sebagai Jaminan Last Resort

- Kennedy Center , ikon seni Amerika Serikat yang didirikan oleh Presiden John F.
- Kennedy, kini terperosok dalam jurang kebangkrutan dan mempertimbangkan langkah ekstrim: mengganti namanya menjadi “Trump Center” untuk mendapatkan bantuan keuangan dari mantan presiden Donald Trump.
- Laporan The Washington Post , yang didasarkan pada dokumen internal dewan pengawas, mengungkap bahwa institusi ini tengah menghadapi krisis finansial yang parah.
Kennedy Center, ikon seni Amerika Serikat yang didirikan oleh Presiden John F. Kennedy, kini terperosok dalam jurang kebangkrutan dan mempertimbangkan langkah ekstrim: mengganti namanya menjadi “Trump Center” untuk mendapatkan bantuan keuangan dari mantan presiden Donald Trump.
Laporan The Washington Post, yang didasarkan pada dokumen internal dewan pengawas, mengungkap bahwa institusi ini tengah menghadapi krisis finansial yang parah. Dalam dokumen yang disiapkan untuk pertemuan krusial pada Selasa (15/9/2026), tertera bahwa Kennedy Center tidak mampu lagi membayar gaji karyawan atau menutupi biaya perawatan gedung dalam beberapa minggu mendatang.
Trump: Jaminan atau Bumerang?
Krisis ini tidak lepas dari intervensi Trump, yang sejak tahun lalu menjabat sebagai ketua Kennedy Center. Namun, upaya untuk memanfaatkan nama Trump sebagai “jaminan” justru membuktikan diri sebagai bumerang. Sentimen publik terhadap manuver ini menurunkan angka penjualan tiket dan merusak upaya penggalangan dana.
Laporan internal menyebutkan, “Menempatkan nama presiden di fasad gedung mungkin menjadi satu-satunya cara untuk menghindari keruntuhan fiskal yang pasti.” Namun, ironisnya, keterlibatan Trump justru memperburuk situasi finansial Kennedy Center, yang sejak tahun lalu terjerat dalam perombakan kepemimpinan dan gejolak keuangan yang tak kunjung berakhir.
Kontroversi dan Risiko
Langkah mengganti nama Kennedy Center menjadi “Trump Center” bukan hanya soal branding, tetapi juga strategi survival. Namun, risiko reputasional dan dampak pada industri seni tak bisa diabaikan. Apakah ini akan menjadi solusi atau justru memperdalam krisis?
Sampai saat ini, pihak Kennedy Center belum memberikan tanggapan resmi terkait ancaman kebangkrutan maupun proposal pergantian nama yang memicu kontroversi.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

KSPI Tekan Pemerintah: Naikkan Batas Bebas Pajak JHT ke Rp400 Juta, Ajukan Dasar Emas

LPS Ungkap 14 BPR dan BPRS Tumbang di 2026: Lemahnya Tata Kelola Jadi Biang Kerok Utama

Respons Emiten Affiliates Salim & Sinar Mas: Nyalakan Lampu Kuning Pasca Pemanggilan Bos Sawit oleh Singapura
