Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Hilang Tujuh Hari: Operasi SAR Selat Sunda Masih Tidak Menemukan 8 Korban

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Hilang Tujuh Hari: Operasi SAR Selat Sunda Masih Tidak Menemukan 8 Korban
BAGIKAN:

Delapan orang, termasuk lima jurnalis dan tiga awak kapal, masih hilang sejak rombongan tersebut tenggelam di Selat Sunda pada Senin (7/9) pagi saat meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) memasuki hari ketujuh tanpa hasil, sementara tim gabungan terus menyisir tujuh sektor perairan seluas 6.559 NM² dengan sumber daya laut, udara, dan darat.

Kepala Kantor SAR Banten, Al Amrad, mengungkapkan optimasi sumber daya terus dilakukan, namun tantangan cuaca dan luas wilayah menjadi penghalang utama. “Kami membagi operasi menjadi tujuh sektor dengan luas masing-masing berkisar antara 413 hingga 2.063 NM², melibatkan 14 kapal SAR, dua drone termal, dan helikopter HR 3604,” jelasnya.

Strategi SAR yang Terfragmentasi

Pencarian hari ini dimulai pukul 07.00 WIB dengan koordinasi antara Basarnas, TNI, Polri, dan pemerintah daerah. Namun, kondisi cuaca berawan dengan angin 10–20 knot dan gelombang 0,5–2,5 meter membuat akses menjadi lebih sulit. “Keselamatan personel tetap prioritas utama,” tegas Al Amrad.

Identitas Korban dan Keterlambatan

Delapan korban terdiri dari:

  • Muhammad Bagus Khoirunas (ANTARA), Arie Basuki (merdeka.com), Donal Husni (fotografer lepas), Yudhistira (iNews), dan Daus (Anadolu) — lima jurnalis yang hilang saat meliput erupsi.
  • Warta (55, kapten kapal), Surakman (60, ABK), dan Heriyanto (49, guide) — tiga awak kapal yang juga terperosok.

Rombongan berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, pada pukul 14.00 WIB Senin (7/9) dengan tujuan meliput aktivitas vulkanik. Namun, kapal speedboat mereka menghilang tanpa jejak saat berada di zona erupsi.

Kritikan: Mengapa SAR Terlambat?

Analisis awal menunjukkan koordinasi awal antara jurnalis dan pihak lokal kurang optimal. Kapal yang digunakan, speedboat, tidak memiliki sistem navigasi canggih atau komunikasi darurat yang memadai. Selain itu, kekurangan data real-time tentang perubahan kondisi Selat Sunda setelah erupsi Gunung Anak Krakatau pada 2018 menjadi faktor risiko tersembunyi.

Saat ini, tim SAR masih menunggu data dari drone termal dan pemetaan sonar untuk menentukan lokasi pasti. Namun, dengan setiap harinya berlalu, harapan menemukan korban dengan kondisi baik semakin tipis.

Pertanyaan Terkait

1. Mengapa pencarian masih berlangsung hingga hari ketujuh? Operasi SAR membutuhkan waktu karena luas wilayah (6.559 NM²) dan kondisi cuaca yang tidak stabil. Selain itu, teknologi seperti drone termal dan sonar masih dalam proses analisis.

2. Apakah ada bukti korban telah ditemukan? Tidak ada konfirmasi resmi hingga saat ini. Tim SAR hanya melaporkan penemuan beberapa benda apung yang belum dapat dikaitkan dengan korban.

3. Siapa yang bertanggung jawab atas keterlambatan? Penyidikan masih berlangsung, namun analisis awal menunjukkan kelemahan dalam persiapan logistik dan komunikasi antara jurnalis dengan pihak lokal.

Meow! Tanya Nesi!
😸