Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Singapura Genjot Ketahanan Mental Masyarakat Hadapi Ancaman Teror 'Lone Wolf'

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNBC Indonesia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Singapura Genjot Ketahanan Mental Masyarakat Hadapi Ancaman Teror 'Lone Wolf'
BAGIKAN:

Pemerintah Singapura menggeser paradigma mitigasi terorisme dari ketergantungan penuh pada aparat keamanan ke partisipasi aktif masyarakat, usai Departemen Keamanan Dalam Negeri (ISD) mengungkap penyidikan seorang pelajar berusia 14 tahun yang merencanakan penusukan massal di sekolahnya.

Insiden yang berhasil digagalkan ISD itu mempertajam urgensi menghadapi ancaman terorisme berbasis radikalisasi mandiri (self-radicalization) yang kian senyap dan tak terduga. Asisten Direktur Divisi Psikologi Home Team, Jasmine Tan, menegaskan bahwa kesiapan publik tidak sekadar soal prosedur fisik, melainkan penguasaan kognitif dan emosional untuk mengelola rasa takut.

Pertolongan Pertama Psikologis sebagai 'Plester Emosional'

Direktur Divisi Psikologi Home Team, Dr. Diong Siew Maan, memperkenalkan konsep Psychological First Aid (PFA) sebagai keterampilan hidup wajib warga. Teknik ini dilatih melalui tiga tahap: persiapan diri dan pengamatan keselamatan, mendengarkan luapan emosi korban tanpa menghakimi, hingga menghubungkan mereka ke bantuan profesional.

"Secara realistis, jumlah psikolog sangat sedikit untuk menangani semua orang. Jika setiap warga memiliki keterampilan ini, mereka bisa saling membantu," ujar Diong. Pendekatan ini juga diterapkan internal untuk personel first responder yang rentan trauma sekunder akibat tugas.

Membobol 'Intention-Action Gap' Masyarakat

Tantangan utama bukan ketidaktahuan, melainkan kesenjangan antara niat dan aksi. Eksperimen sosial ISD menunjukkan hanya 5,9% partisipan (26 dari 440) yang melaporkan benda mencurigakan. Sisanya terjebak bystander effect, kesibukan, atau sikap acuh tak acuh.

Transformasi mindset menjadi kunci: terorisme bukan lagi ancaman abstrak di wilayah lain, melainkan risiko nyata di lingkungan terdekat. Rehabilitasi pelaku pun diprioritaskan dengan pendekatan humanis untuk memahami celah kerentanan psikologis mereka, bukan sekadar hukuman.

Keseimbangan Antara Ketakutan dan Persiapan

Konteks geopolitik—terutama eskalasi Timur Tengah—menempatkan Singapura sebagai target strategis kelompok radikal internasional. Jasmine Tan menyoroti perlunya kalibrasi proporsional: "Rasa takut baik agar orang beraksi, tapi harus dikelola agar tidak memicu kepanikan. Fokus utamanya adalah persiapan mental bahwa hal ini bisa terjadi."

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸