Empat Film Indonesia Masuk Seleksi Busan 2026, Dua Berlaga di Kompetisi Utama

Selebriti
Nadia PutriNadia Putri
Sumber: CNN Selebriti
Nadia Putri
Nadia Putri
Editor Hiburan

Pengamat budaya pop dan tren media sosial yang tahu persis apa yang sedang viral.

Empat Film Indonesia Masuk Seleksi Busan 2026, Dua Berlaga di Kompetisi Utama
BAGIKAN:

Busan International Film Festival (BIFF) 2026 resmi mengumumkan daftar seleksi resmi, dan bendera Indonesia terbang tinggi dengan empat film yang lolos ke berbagai kategori kompetisi bergengsi. Festival film terbesar di Asia ini digelar di Busan, Korea Selatan, dan menjadi salah satu gerbang utama menuju nominasi Oscar kategori International Feature Film.

Dari keempat film tersebut, dua karya berhasil menembus Kompetisi Utama (Main Competition) yang hanya diisi 14 film terpilih dari seluruh Asia. Kedua film itu adalah Ibuku karya Sutradara [Nama Sutradara Ibuku - *data tidak ada di sumber, biarkan judul saja*] dan Biru Laut. Satu film lagi, Pertiwi, masuk kategori A Window on Asian Cinema, sedangkan film pendek Banyu berkompetisi di Wide Angle - Asian Short Film Competition.

Dua Pesona Utama: Ibuku dan Biru Laut

Ibuku menghadirkan duet akting berat Christine Hakim dan Ayushita. Film ini mengisahkan Sumiati (Christine Hakim) yang berjuang menemui putrinya Sri (Ayushita) yang menjalani hukuman mati di Arab Saudi atas tuduhan membunuh majikannya. Di balik perjalanan pertemuan ibu-anak yang penuh air mata, film ini mengupas luka-luka lama serta isu buruh migran, perempuan, dan HAM dengan pendekatan yang sangat personal.

Berbeda nuansa, Biru Laut mengantarkan penonton ke suasana kampus Yogyakarta yang muram. Laut, seorang mahasiswa pecinta buku, tergerak melihat teman-temannya ditangkap karena membaca buku terlarang. Ia bergabung dengan kelompok studi Winatra untuk memperjuangkan kebebasan berekspresi—sebuah narasi yang terasa sangat relevan dengan dinamika sosial saat ini.

Pulang Kampung yang Pahit di Pertiwi & Banyu

Masuk kategori A Window on Asian Cinema, Pertiwi dibintangi Putri Marino. Kisahnya mengikuti Pertiwi yang pulang ke desa terpencil setelah 20 tahun pergi. Harapan listrik yang dulu menyala justru tidak membawa perubahan; desa justru lebih kelam. Konflik internal meledak: sahabat menikah dengan mantan kekasih, orang tua menolak kehadirannya, hingga orang yang pernah memenjarakannya kini berkuasa di desa tersebut.

Sementara di kategori film pendek, Banyu menawarkan campuran genre unik. Vokalis punk bernama Banyu dikirim ke rehabilitasi moral dan bertemu Deri—hantu masa lalunya sekaligus ulama terhormat kota. Perlawanan Banyu terhadap sistem justru mengarah pada kebenaran yang hanya bisa dibuka oleh orang yang paling ia hindari.

Kekuatan Kolaborasi Regional

Selain film-film Indonesia murni, BIFF 2026 juga menampilkan dua film produksi internasional yang melibatkan rumah produksi Indonesia. Kolaborasi lintas negara ini melibatkan jaringan luas dari Thailand, Singapura, Prancis, Norwegia, China, Hong Kong, Qatar, Vietnam, Arab Saudi, Kamboja, hingga Taiwan—menegaskan posisi Indonesia sebagai koproduksi penting di peta sinema Asia.

Dengan line-up yang beragam—dari drama HAM, thriller kampus, drama keluarga gelap, hingga film pendek genre campuran—penghargaan Busan Award tahun ini bakal sangat menegangkan. Siapa yang akan bawa pulang tiket emas ke Oscar? Tunggu saja penutupan festival nanti.

Meow! Tanya Nesi!
😸