Thailand Siapkan Tarif Cukai EV Bertingkat, Tantang Investasi China di ASEAN
Pakar modifikasi kendaraan dan tren pasar motor di Asia Tenggara.

Thailand mengumumkan rencana tarif cukai tiga tingkat untuk kendaraan listrik, yang akan membebani mobil impor penuh sementara memberi tarif terendah bagi EV dirakit dalam negeri, sebagai upaya menahan arus investasi otomotif pabrikan China yang kini menumpuk di negara tersebut. Kebijakan ini disetujui secara prinsip oleh dewan kebijakan EV nasional pada Kamis, 10 September 2024.
Tarif Baru dan Dampaknya
Tarif dasar saat ini berada pada 10 %, namun mobil listrik impor utuh akan dikenai tambahan di atas angka tersebut, sedangkan EV yang dirakit secara lokal akan menikmati tarif terendah. Pemerintah belum menentukan besaran tarif final maupun masa tenggang kebijakan.
Investasi Pabrikan China di Thailand
Delapan produsen China — BYD, Great Wall, Changan, SAIC, Chery, Hozon, GAC, dan Wuling — telah mengumumkan pabrik perakitan di Thailand, dengan sebagian besar beroperasi pada kuartal II 2026. Skala ini menjadikan Thailand tujuan investasi manufaktur EV China terbesar ketiga di dunia dari segi nilai, di belakang Hungaria dan Brasil, serta terbanyak dari segi jumlah pabrik.
Dengan pabrik lokal yang sudah berjalan, produsen‑produsen tersebut secara otomatis akan masuk dalam kelompok tarif rendah begitu aturan baru berlaku, sehingga efek proteksionis kebijakan belum tentu menggerus pangsa pasar mereka secara signifikan.
Perjanjian perdagangan bebas Thailand‑China sejak 2003 memberikan akses bebas tarif bagi EV buatan China, kontras dengan tarif impor standar yang dapat mencapai 80 % untuk kebanyakan negara lain. Jepang hanya mendapat keringanan 20 % melalui perjanjian bilateral terpisah.
Skema insentif EV 3.0 Thailand yang diluncurkan pada 2022 menggabungkan pemotongan pajak dan subsidi tunai dengan syarat kandungan lokal, namun kewajiban tersebut ditunda hingga 2024, memberi produsen China kira‑kira dua tahun akses bersubsidi dan bebas tarif sebelum persyaratan produksi lokal diberlakukan.
Akibatnya, merek China menguasai 89 % pasar EV Thailand pada akhir 2025, menurunkan harga rata‑rata sebesar 10,2 % antara pameran otomotif 2023‑2024, dan lagi 13,1 % pada awal 2025, sebelum melambat menjadi 2,7 % pada sisa tahun itu. Pada Mei 2026, selisih harga antara EV asal China dan non‑China mencapai hingga 50 %.


