Rabu, 4 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Setelah Hormuz, Laut Merah di Ujung Pedang: Houthi Rebut Mocha, Harga Minyak Melonjak

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNBC Indonesia
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Setelah Hormuz, Laut Merah di Ujung Pedang: Houthi Rebut Mocha, Harga Minyak Melonjak
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran memperluas kendali di pesisir Yaman, merebut Kota Pelabuhan Mocha pada Kamis, dan bergerak menuju Kepulauan Hanish.
  • Langkah ini mengancam jalur ekspor minyak Arab Saudi di Laut Merah , hanya berselang setelah konflik di Selat Hormuz membuat pasar energi dunia bergolak.
  • Jumat (11/9/2026), Reuters melaporkan bahwa sumber militer pemerintah Yaman menyebut pergerakan itu sebagai eskalasi paling berbahaya dalam beberapa bulan terakhir.

Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran memperluas kendali di pesisir Yaman, merebut Kota Pelabuhan Mocha pada Kamis, dan bergerak menuju Kepulauan Hanish. Langkah ini mengancam jalur ekspor minyak Arab Saudi di Laut Merah, hanya berselang setelah konflik di Selat Hormuz membuat pasar energi dunia bergolak. Jumat (11/9/2026), Reuters melaporkan bahwa sumber militer pemerintah Yaman menyebut pergerakan itu sebagai eskalasi paling berbahaya dalam beberapa bulan terakhir.

Utusan Khusus PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, memperingatkan bahwa penguasaan Mocha memberi Houthi kehadiran langsung di akses menuju salah satu selat paling vital di dunia. Posisi itu memperkuat cengkeraman mereka di sekitar Selat Bab el-Mandeb, pintu masuk selatan Laut Merah dan salah satu koridor perdagangan paling strategis.

Jika Houthi mampu menguasai jalur tersebut, Iran berpotensi memegang kartu tekanan tambahan terhadap Amerika Serikat. Bagi pasar, ini bukan sekadar berita geopolitik. Ini sinyal bahwa risiko pasokan energi global kembali naik setelah Arab Saudi semakin bergantung pada Laut Merah karena konflik dengan Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur yang sebelumnya membawa sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Pasar Sudah Bereaksi, Bukan Lagi Spekulasi

Ancaman tersebut langsung mengguncang pasar. Harga minyak mentah Brent sempat melonjak 4% hingga menembus US$105 atau sekitar Rp1,848 juta per barel. Kenaikan harga minyak ini juga merembet ke produk turunan, dengan harga rata-rata diesel nasional di Amerika Serikat menembus US$6 atau sekitar Rp105.600 per galon.

Houthi bahkan menyatakan pelayaran di Laut Merah aman bagi semua perusahaan, kecuali kapal-kapal milik Arab Saudi. Pernyataan itu menunjukkan bahwa konflik ini tidak lagi murni militer, melainkan sudah menjadi instrumen ekonomi untuk menekan rival regional.

Ancaman Baru di Selat Hormuz

Di tengah krisis Laut Merah, upaya membuka kembali Selat Hormuz juga kembali terhambat. Data awal pelacakan kapal menunjukkan hanya tujuh kapal melintasi selat tersebut pada Rabu, sekitar separuh dari rata-rata 10 hari terakhir. Media pemerintah Iran melaporkan Garda Revolusi menyerang kapal nirawak AS di pintu masuk Hormuz.

Sumber dari pemerintah Yaman, Iran, dan kawasan setempat mengatakan bahwa pergerakan Houthi di sepanjang pesisir pekan ini dilakukan dengan arahan langsung Korps Garda Revolusi Iran. Namun, juru bicara Houthi, Mohammed Abdulsalam, menegaskan operasi mereka bersifat defensif dan akan berhenti apabila serangan terhadap Yaman dihentikan.

Amerika Serikat menilai eskalasi ini tidak dapat diterima. Perwakilan AS, Jenifer Neidhart de Ortiz, menyebut Houthi sebagai agen dan alat bagi Iran. Grundberg menyerukan langkah internasional untuk menghadapi fase baru yang lebih berbahaya dalam perang Yaman.

Analisis Siti Amalia: Perang Energi yang Semakin Personal

Dalam membaca situasi ini, saya menilai ada tiga hal yang sering luput dari perhatian pasar. Pertama, Serangan Houthi ke Mocha bukan sekadar perang wilayah. Ini adalah operasi untuk mengontrol titik choke point energi dunia. Kedua, setelah Hormuz terganggu, Laut Merah menjadi jalur alternatif yang tidak benar-benar aman. Ketiga, Iran kini memiliki dua kartu sekaligus: Hormuz dan Bab el-Mandeb.

Jika eskalasi berlanjut, premi risiko geopolitik pada minyak akan sulit turun. Negara importir energi, termasuk Indonesia, perlu mewaspadai dampak tidak langsung terhadap biaya logistik, inflasi, dan anggaran subsidi. Pasar mungkin belum sepenuhnya memperhitungkan skenario terburuk: gangguan simultan di dua selat utama dunia.

FAQ Terkait Berita Ini

Apa yang membuat Laut Merah begitu penting? Laut Merah adalah jalur alternatif utama setelah Selat Hormuz terganggu. Selat Bab el-Mandeb di ujung selatannya menjadi pintu masuk perdagangan global, termasuk ekspor minyak Arab Saudi.

Mengapa harga minyak melonjak? Pasar bereaksi terhadap risiko pasokan. Brent sempat naik 4% ke US$105 per barel karena kekhawatiran gangguan ekspor di Laut Merah dan Hormuz.

Apa dampak bagi Indonesia? Indonesia dapat terkena imbas melalui kenaikan harga minyak mentah, biaya impor, pelemahan rupiah, dan tekanan inflasi. Pemerintah perlu mengantisipasi dampak fiskal dari subsidi energi.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ