Serangan Houthi Guncang Pakta Pertahanan Mekkah, Harga Minyak Naik Mendekati $99
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Kelompok Houthi Yaman melancarkan serangan roket dan drone ke empat kota di Arab Saudi pada 10 September 2026, menargetkan fasilitas energi dan pangkalan militer, memicu ujian pertama bagi pakta pertahanan Gabungan Mekkah yang baru ditandatangani sebulan lalu. Serangan itu menewaskan setidaknya 73 orang, merusak kilang berkapasitas 400.000 barel per hari, serta menimbulkan kerusakan pada fasilitas Saudi Aramco di Abha, Jizan, dan Najran.
Dampak pada Pakta Mekkah
Pakta yang mengikat Riyadh, Ankara, dan Islamabad menyatakan bahwa serangan terhadap satu anggota dianggap serangan terhadap semua, mirip Pasal 5 NATO. Namun, respons militer konkret belum muncul; Pakistan hanya mengutuk serangan, sementara Turki menuntut penghentian tanpa mengaktifkan komite darurat. Analisis Farhad Ibragimov, pengamat Universitas RUDN, menyoroti bahwa formula pertahanan kolektif belum terbukti memiliki mekanisme operasional yang efektif.
Implikasi Pasar Energi
Ketegangan ini mendorong harga minyak mentah Brent naik mendekati US$99 per barel (harga minyak), dipicu oleh ancaman ganda pada jalur pelayaran utama setelah insiden kapal tanker di Selat Hormuz antara AS dan Iran pada 4 September. Bagi para penandatangan pakta, krisis ini bukan pemicu otomatis ke perang, melainkan ujian kemampuan koordinasi kebijakan pertahanan dan respons pasar.
Jika sekutu tidak dapat mengubah retorika menjadi aksi militer yang terkoordinasi, reputasi pakta yang dijanjikan pada puncak Agustus berisiko tergerus, sekaligus menambah volatilitas pada pasar energi global.


