Peta Dunia Baru PBB: Jepang Murka, Kepulauan Kuril Berwarna Rusia

Dunia
Budi SantosoBudi Santoso
Sumber: CNN Internasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Peta Dunia Baru PBB: Jepang Murka, Kepulauan Kuril Berwarna Rusia
BAGIKAN:

Jepang resmi memprotes peta dunia PBB yang menampilkan Kepulauan Kuril, atau Chishima dalam klaim Jepang, sebagai bagian dari teritori Rusia. Protes disampaikan Juru Bicara Pemerintah Jepang Minoru Kihara pada Kamis (10/9), setelah Majelis Umum PBB pekan sebelumnya mengadopsi peta baru yang juga menuai keberatan Amerika Serikat.

Kihara menyatakan peta tersebut berisi penggambaran yang bertentangan dengan posisi pemerintah Jepang. Tokyo, katanya, telah melayangkan protes terhadap operator situs peta melalui jalur diplomatik untuk meminta koreksi. Langkah ini menempatkan Jepang pada posisi ganda: mendukung resolusi PBB, tetapi menolak implikasi kartografisnya terhadap sengketa wilayah.

Peta sebagai Alat Diplomasi

Dalam peta baru itu, Afrika digambarkan jauh lebih besar dari sebelumnya, bahkan melampaui Amerika, sementara Amerika Utara dan Eropa mengecil. Perubahan skala ini mendorong Washington ikut protes. Namun bagi Tokyo, persoalan utamanya bukan proporsi benua, melainkan warna politik di timur laut Asia: Kepulauan Kuril ditampilkan senada dengan Rusia.

Kepulauan Kuril/Chishima telah lama menjadi sengketa. Uni Soviet mencaplok wilayah itu pada 1945 dan mengusir populasi Jepang. Jepang menyebutnya Wilayah Utara, sementara Moskow memandangnya sebagai bagian sah Federasi Rusia. Karena itu, peta PBB tidak sekadar soal representasi geografis; ia menyentuh legitimasi sejarah dan hukum yang belum selesai sejak Perang Dunia II.

Ketegangan Jepang-Rusia

Hubungan Jepang dan Rusia kembali mengeruh setelah Presiden Vladimir Putin bulan lalu mengunjungi Kepulauan Kuril untuk pertama kalinya. Jepang langsung memanggil duta besar Moskow. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyebut kunjungan itu menyinggung perasaan rakyat Jepang dan sama sekali tidak bisa diterima.

Secara analitis, protes Jepang memperlihatkan bahwa hubungan Jepang-Rusia masih terjebak dalam warisan Perang Dunia II. Peta PBB, yang dimaksudkan memperbarui representasi global, justru membuka luka lama. Bagi Rusia, kunjungan Putin dan pencantuman Kuril sebagai teritori Rusia adalah penegasan kedaulatan. Bagi Jepang, keduanya adalah provokasi simbolik yang mengikis ruang negosiasi.

Yang menarik, Jepang termasuk 164 anggota yang mendukung resolusi peta baru. Dukungan itu menunjukkan komitmen pada tata kelola global dan representasi yang lebih adil. Namun ketika peta yang sama menyentuh klaim teritorialnya, Tokyo tidak bisa menerima netralitas kartografis. Inilah dilema diplomasi: negara mendukung norma global, tetapi tetap terikat kepentingan nasional.

Implikasi Lebih Luas

Protes Jepang, bersama keberatan Amerika Serikat, menggarisbawahi bahwa peta selalu politis. Tidak ada peta yang benar-benar netral; setiap garis, warna, dan ukuran mengandung pilihan. PBB menghadapi ujian kredibilitas: jika peta baru ingin lebih inklusif, ia harus mampu mengelola sengketa wilayah tanpa memperdalam perpecahan.

Ke depan, Jepang kemungkinan terus menempuh jalur diplomatik, sementara Rusia diperkirakan mempertahankan posisi. Tanpa kesepakatan damai pasca-Perang Dunia II, Kepulauan Kuril akan tetap menjadi simbol persaingan geopolitik di Asia Timur. Peta dunia baru hanya memperjelas bahwa sengketa lama belum berakhir.

FAQ Terkait Berita Ini

Apa yang diprotes Jepang? Jepang memprotes peta dunia baru PBB karena menampilkan Kepulauan Kuril/Chishima sebagai teritori Rusia, bertentangan dengan posisi Tokyo.

Mengapa Kepulauan Kuril disengketakan? Uni Soviet mencaplok wilayah itu pada 1945 dan mengusir populasi Jepang. Jepang menyebutnya Wilayah Utara, sedangkan Rusia menganggapnya bagian sahnya.

Apa dampak protes ini? Protes menambah ketegangan Jepang-Rusia dan menunjukkan bahwa peta PBB tidak lepas dari politik teritorial, meski Jepang mendukung resolusi peta tersebut.

Meow! Tanya Nesi!
😸