Pemuda Singapura Curi Kripto Rp4,2 Triliun di AS, Pesta Rp10 Miliar Semalam dan Terancam 20 Tahun Bui

Dunia
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Sumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Pemuda Singapura Curi Kripto Rp4,2 Triliun di AS, Pesta Rp10 Miliar Semalam dan Terancam 20 Tahun Bui
BAGIKAN:

Malone Lam (22), warga Singapura, mengaku bersalah di Amerika Serikat atas konspirasi pemerasan dan pencurian mata uang kripto senilai US$245 juta atau sekitar Rp4,2 triliun. Aksi itu berlangsung sejak sekitar Oktober 2023 hingga setidaknya Mei 2025, dan hasilnya dipakai untuk membiayai gaya hidup mewah, termasuk pesta klub malam hingga US$500 ribu atau sekitar Rp10 miliar dalam satu malam.

Pengakuan itu disampaikan di hadapan otoritas AS setelah Departemen Kehakiman AS (DOJ) mengungkap Lam dan sejumlah rekannya sebagai bagian dari sindikat internasional. Lam disebut berperan mengidentifikasi calon korban dan mengatur pembagian peran. Ia juga menggunakan sejumlah nama samaran, antara lain Anne Hathaway, $$$, dan King Greavy.

Modus dan Dampak Lintas Negara

Menurut dokumen pengadilan, kelompok ini menipu korban agar menyerahkan informasi sensitif, lalu mengakses dan menguras dompet kripto. Dalam sejumlah kasus, mereka membobol rumah korban. Aset yang dicuri kemudian dipindahkan melalui berbagai transaksi untuk menyamarkan asal-usul dan mencucinya. Pola ini menunjukkan bahwa kejahatan siber tidak lagi terikat batas negara dan memanfaatkan celah regulasi antar-yurisdiksi.

Jaksa AS Jeanine Pirro, seperti dilaporkan BBC, menyatakan bahwa Lam memimpin jaringan internasional yang memangsa korban melalui penipuan, melanggar privasi, dan mencuri kripto senilai ratusan juta dolar. Pernyataan itu menegaskan tekanan hukum AS terhadap pencurian mata uang kripto yang makin sering melibatkan pelaku lintas negara.

Barang Mewah dan Jejak Otoritas

DOJ menyebut sebagian hasil kejahatan dipakai untuk membeli mobil mewah seharga US$100 ribu hingga US$3,8 juta, atau sekitar Rp10 miliar hingga Rp66 miliar. Selain itu, Lam dan rekan-rekannya menghabiskan dana besar untuk pesta. Bagi penyidik, pola belanja ekstrem itu menjadi jejak penting yang mempermudah pelacakan aliran dana.

Lam menghadapi ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara. Hakim Distrik AS Colleen Kollar-Kotelly belum menetapkan jadwal pembacaan vonis. Lam diketahui putus sekolah menengah di Singapura pada usia 14 tahun, pindah ke AS pada Oktober 2023, dan tetap tinggal di sana meski visa berakhir Januari 2024. Latar belakang ini menambah dimensi sosial: pelaku muda dengan akses teknologi tinggi dapat masuk ke jaringan kriminal global tanpa struktur tradisional.

Analisis: Kripto, Yurisdiksi, dan Keadilan Global

Kasus Lam memperlihatkan tiga hal. Pertama, aset kripto tetap menjadi target karena transaksi lintas batasnya cepat dan relatif anonim. Kedua, penegakan hukum bergantung pada kerja sama internasional, terutama ketika pelaku berpindah negara dan identitas digitalnya disamarkan. Ketiga, gaya hidup mewah menjadi titik lemah pelaku; semakin besar pengeluaran, semakin besar kemungkinan meninggalkan jejak di sistem keuangan.

Dari sudut pandang hubungan internasional, kasus ini menjadi ujian bagi rezim regulasi kripto global. Tanpa harmonisasi aturan, pelaku dapat memanfaatkan perbedaan standar antarnegara. Penindakan terhadap Lam mengirim sinyal bahwa Departemen Kehakiman AS akan mengejar pelaku lintas yurisdiksi. Namun, efektivitas jangka panjangnya bergantung pada koordinasi dengan negara asal pelaku dan negara-negara transit aset.

Yang juga penting, korban tidak hanya kehilangan aset, tetapi juga privasi dan rasa aman. Karena itu, pemberitaan kasus ini semestinya tidak berhenti pada sensasi belanja mewah. Ia harus mendorong literasi keamanan digital dan reformasi tata kelola kripto. Tanpa itu, gaya hidup mewah hasil kejahatan akan terus menemukan celah untuk berkembang.

FAQ Terkait Berita Ini

Siapa Malone Lam? Malone Lam adalah warga Singapura berusia 22 tahun yang mengaku bersalah di AS atas konspirasi pencurian mata uang kripto senilai US$245 juta.

Berapa kerugian dalam kasus ini? Kerugiannya sekitar US$245 juta atau setara Rp4,2 triliun.

Apa ancaman hukuman bagi Lam? Lam menghadapi hukuman maksimal 20 tahun penjara, dengan jadwal vonis belum ditetapkan.

Meow! Tanya Nesi!
😸