Pagar Bolong Jatinegara: Warga Nekat Menyeberang demi Hemat 50 Meter, Nyawa Jadi Taruhan?
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Sebuah lubang kecil di pagar besi sekitar Stasiun Jatinegara, Jakarta Timur, menjadi fenomena yang mengundang tanya. Warga memilih melewati celah sempit itu ketimbang menggunakan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang hanya berjarak sekitar 50 meter. Perilaku ini bukan tanpa alasan: jarak tempuh ke Pasar Jatibening menjadi lebih dekat. Namun, di balik kepraktisan itu, bahaya mengintai.
Lubang tersebut terbentuk dari dua jari-jari pagar besi yang diduga terpotong. Ukurannya hanya cukup untuk satu orang dengan sedikit menunduk dan memiringkan badan. Meski terlihat berisiko, sejumlah warga tetap nekat melintas. Taufik, seorang warga, mengaku pernah mencobanya. "Emang lebih dekat sih. Tapi agak ngeri kan ya kalau ada mobil atau motor kenceng yang lewat," ujarnya.
Ironi Infrastruktur di Tengah Kota
Keberadaan JPO seharusnya menjadi solusi utama bagi pejalan kaki. Jembatan itu difungsikan untuk menyeberang sekaligus jalur masuk ke Stasiun KA Jatinegara dan Halte Transjakarta. Namun, fakta di lapangan berkata lain. Warga lebih memilih pagar bolong karena alasan efisiensi jarak. Fenomena ini menjadi cermin bahwa desain kota sering kali tidak selaras dengan kebutuhan riil masyarakat.
Dalam analisis saya, ini bukan sekadar persoalan kedisiplinan warga. Ada kegagalan sistemik dalam perencanaan transportasi dan tata ruang. Jika JPO dirancang lebih strategis, misalnya dengan akses langsung ke Pasar Jatibening, mungkin tidak akan ada celah bagi perilaku berisiko. Selama ini, kebijakan publik kerap mengabaikan aspek psikologis dan kebiasaan harian warga.
Keselamatan yang Dipertaruhkan
Taufik mengaku sudah bosan mengingatkan warga lain. "Beberapa kali gua bilangin, 'Oi jangan lewat situ', tapi ya pada susah Bang. Pada tetap pingin lewat situ. Sekarang paling gua bilangin anak-anak aja, yang lebih nurut," katanya. Ia berharap pagar segera diperbaiki agar warga kembali tertib menggunakan JPO. "Biar selamat dan sama-sama enak gitu, Bang. Yang orang nyebrang bisa selamat, enggak usah was-was sama kendaraan," tambahnya.
Harapan Taufik sejalan dengan prinsip dasar keselamatan publik. Perbaikan pagar bukan hanya soal menutup lubang, tetapi juga memastikan tidak ada lagi pilihan berbahaya bagi pejalan kaki. Pemerintah daerah dan pengelola stasiun perlu segera bertindak, bukan hanya menunggu korban jatuh.
FAQ Terkait Berita Ini
Mengapa warga memilih melewati pagar bolong?
Karena jaraknya lebih dekat untuk menyeberang ke arah Pasar Jatibening dibandingkan harus memutar melalui JPO.
Apakah pagar bolong itu berbahaya?
Sangat berbahaya. Warga harus menunduk dan memiringkan badan, sementara kendaraan di sekitar melaju dengan kecepatan tinggi.
Apa yang diharapkan warga?
Warga berharap pagar segera diperbaiki agar mereka kembali menggunakan JPO dan keselamatan terjamin.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Warkop Agam Laen Hadirkan Autentisitas Kuliner Aceh di Margonda, Sasar Perhimpunan Mahasiswa dengan Harga Terjangkau

Siap-Siap, Warga Jawa dan Sumatra: BMKG Prediksi Hujan Ringan Landa Sebagian Besar Wilayah Hari Ini

Penambahan Daratan 32,8 Hektare di Sekitar Anak Krakatau Diverifikasi, Status 'Pulau Baru' Masih Menunggu Konfirmasi Lapangan
