NASA Ungkap Potret Satelit Erupsi Anak Krakatau yang Ganggu Ribuan Penerbangan
Fokus pada isu keamanan siber, kecerdasan buatan, dan tren teknologi masa depan.

Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) merilis citra satelit yang memperlihatkan momen erupsi eksplosif Gunung Anak Krakatau pada 5 September lalu. Letusan yang berlangsung lebih dari 24 jam itu memuntahkan gas dan abu vulkanik hingga ketinggian belasan kilometer, memicu penutupan delapan bandara serta mengganggu hampir 3.000 penerbangan di Jawa dan Sumatra.
Citra yang diabadikan oleh instrumen Operational Land Imager (OLI) pada satelit Landsat 8 milik NASA-USGS menunjukkan kepulan putih gas vulkanik yang membubung di atas awan abu berwarna cokelat. Sementara itu, instrumen Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS) pada satelit Suomi NPP menangkap sebaran material vulkanik yang jauh lebih luas, mengindikasikan skala letusan yang tidak biasa.
Dampak Luas pada Penerbangan dan Kesehatan
Menurut laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang dikutip NASA, abu vulkanik mencapai ketinggian sekitar 6.000 meter di timur gunung dan 15.000 meter di barat pada 6 September. Kondisi ini memaksa delapan bandara di Jawa dan Sumatra tutup sementara, memengaruhi ribuan jadwal penerbangan masuk dan keluar kawasan tersebut.
Hujan abu juga melanda wilayah berpenduduk, termasuk Jakarta dan sejumlah daerah di Jawa Barat. Indonesian Humanitarian Coordination Platform (IHCP) mencatat bahwa abu vulkanik dapat mengiritasi saluran pernapasan, mata, dan kulit. Karakteristik partikel abu vulkanik berbeda dengan asap kebakaran lahan gambut, sehingga langkah perlindungan yang diperlukan pun berbeda.
Erupsi Mereda, Status Masih Siaga
Pada 6 September, erupsi eksplosif mulai mereda dan kembali ke pola khas Strombolian—lontaran abu dan material vulkanik secara berselang. Bandara-bandara yang sempat terdampak mulai beroperasi kembali pada 8 September. Namun, status Gunung Anak Krakatau masih berada pada level siaga (peringatan kedua tertinggi) yang telah berlaku sejak awal Juli.
NASA menegaskan bahwa erupsi Anak Krakatau sebenarnya merupakan kejadian rutin, namun aktivitas pada awal September 2026 menunjukkan kekuatan yang lebih besar dan berbahaya. Pemantauan satelit menjadi krusial untuk memantau dampak letusan secara real-time, terutama bagi keselamatan penerbangan dan kesehatan masyarakat di sekitarnya.


