Kisah Malone Lam: Remaja Singapura Curi Kripto Rp4,2 Triliun, Habiskan Rp10 Miliar Semalam

Dunia
Budi SantosoBudi Santoso
Sumber: CNN Internasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Kisah Malone Lam: Remaja Singapura Curi Kripto Rp4,2 Triliun, Habiskan Rp10 Miliar Semalam
BAGIKAN:

Warga Singapura, Malone Lam (22), mengaku bersalah di pengadilan Amerika Serikat atas pencurian mata uang kripto senilai US$245 juta atau sekitar Rp4,2 triliun. Pria yang putus sekolah menengah pada usia 14 tahun itu terlibat dalam konspirasi pemerasan dan pencucian uang yang berlangsung sejak Oktober 2023 hingga Mei 2025, demi membiayai gaya hidup mewah.

Lam, yang pindah ke AS pada Oktober 2023 dan tinggal meski visanya habis Januari 2024, didakwa bersama rekan-rekannya mencuri aset kripto dan mencuci hasil kejahatan. Departemen Kehakiman AS (DOJ) menyebut mereka menggunakan uang curian untuk gaya hidup mewah, termasuk menghabiskan hingga US$500 ribu atau sekitar Rp10 miliar hanya dalam satu malam di kelab malam.

Jaringan Internasional dan Modus Operandi

Menurut dokumen pengadilan, Lam berperan sebagai otak sindikat. Ia mengidentifikasi calon korban dan mengatur peran para pelaku. Mereka menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan informasi rahasia, mulai dari menipu korban hingga membobol rumah, demi mengakses dompet mata uang kripto. Setelah menguras aset, mereka memindahkannya melalui berbagai transaksi untuk menyamarkan asal-usul dan melakukan pencucian uang.

Lam menggunakan sejumlah nama samaran, termasuk Anne Hathaway, $$$, dan King Greavy. Ia mengaku bersalah atas tuduhan konspirasi pemerasan dan pencurian mata uang kripto. Ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara. Hakim Distrik AS Colleen Kollar-Kotelly belum menetapkan jadwal pembacaan vonis.

Jaksa AS Jeanine Pirro menegaskan, 'Jika Anda membangun kerajaan kejahatan siber, kami akan melacak Anda, membongkar operasi Anda, dan meminta pertanggungjawaban Anda.' Ia menambahkan bahwa terdakwa memimpin jaringan internasional yang memangsa korban melalui penipuan, melanggar privasi, dan mencuri kripto senilai ratusan juta dolar.

Analisis: Tantangan Global Kejahatan Siber

Kasus ini menyoroti kompleksitas kejahatan siber lintas negara yang semakin canggih. Lam, yang masih muda dan putus sekolah, mampu mengelola operasi pencurian berskala internasional, menunjukkan bahwa kejahatan ekonomi digital tidak lagi terbatas pada aktor negara atau kelompok terorganisir tradisional. Fenomena ini menuntut respons global yang lebih terkoordinasi, termasuk harmonisasi regulasi kripto dan peningkatan kapasitas penegak hukum di berbagai yurisdiksi.

Selain itu, penggunaan kripto sebagai alat pencucian uang menggarisbawahi perlunya pengawasan yang lebih ketat terhadap transaksi aset digital. Meski teknologi blockchain menawarkan transparansi, anonimitas yang disalahgunakan tetap menjadi celah. Kasus Lam menjadi peringatan bagi pembuat kebijakan untuk memperkuat kerangka anti-pencucian uang (AML) dan mengenal pelanggan (KYC) di industri kripto.

Dari perspektif hubungan internasional, kasus ini juga menunjukkan bagaimana aktor non-negara dapat memanfaatkan celah antar-yurisdiksi untuk melancarkan aksi kejahatan. Kerja sama antara AS dan Singapura, serta negara lain, akan menjadi kunci untuk mencegah terulangnya kejahatan serupa. Lam sendiri kini menghadapi proses hukum yang panjang, dan vonisnya akan menjadi preseden bagi penanganan kejahatan kripto lintas batas.

FAQ Terkait Berita Ini

1. Siapa Malone Lam?
Malone Lam adalah warga Singapura berusia 22 tahun yang mengaku bersalah mencuri mata uang kripto senilai US$245 juta di Amerika Serikat.

2. Berapa hukuman yang dihadapi Lam?
Ia menghadapi ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara. Jadwal pembacaan vonis belum ditetapkan.

3. Bagaimana modus operandi sindikat Lam?
Mereka mengidentifikasi korban, menipu atau membobol rumah untuk mendapatkan akses dompet kripto, lalu mencuci hasil curian melalui transaksi berlapis.

Meow! Tanya Nesi!
😸