Dari Buku Bekas ke Cuan: Tri Sugiarti Sulap Sampah Jadi Bank Sampah Bernilai Ekonomi

Tri Sugiarti, pendiri Bank Sampah Unit Tri Alam Lestari di Sawangan, Depok, Jawa Barat, membuktikan bahwa tumpukan buku bekas dan sampah terpilah bukan akhir dari cerita. Sejak mengelola bank sampah, ia mengubah limbah rumah tangga menjadi sumber penghasilan, membiayai pendidikan anak hingga perguruan tinggi, sekaligus menggerakkan warga sekitar untuk rutin menyetorkan sampah. Kisah ini menjadi bagian dari ekosistem bank sampah yang dikembangkan PT Azzahra Multi Solusindo (AMS) bersama Unilever Indonesia sejak 2013 di Jabodetabek.
Dari Tumpukan Buku Bekas ke Rantai Nilai Ekonomi
Ide Tri bermula dari buku-buku bekas anaknya yang tak terpakai. Alih-alih membuangnya, ia melihat potensi mengolah kembali barang tersebut menjadi produk bernilai jual. Ketika permintaan meningkat, kebutuhan bahan baku ikut membesar. Dari situ, ia mendirikan bank sampah sebagai wadah masyarakat menyetorkan sampah terpilah secara langsung. Inilah titik awal Bank Sampah Unit Tri Alam Lestari tumbuh sebagai model ekonomi sirkular berbasis komunitas.
Data PT Azzahra Multi Solusindo memperlihatkan skala dampaknya. Hingga 2025, AMS telah menginisiasi lebih dari 500 bank sampah, menciptakan lebih dari 500 wirausaha, dan berkontribusi pada pengurangan lebih dari 10.000 ton sampah plastik. Kolaborasi dengan Unilever Indonesia sejak 2013 itu pun diklaim memberi manfaat kepada lebih dari 151 ribu individu. Angka-angka ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah bukan sekadar biaya lingkungan, melainkan rantai pasok yang bisa menghasilkan nilai tambah.
Bukan Sekadar Aktivisme, Ini Model Bisnis Komunitas
Sebagai pengamat ekonomi makro, saya melihat kisah Tri Sugiarti sebagai contoh bagaimana persoalan struktural sampah dapat disentuh dari hilir ke hulu. Bank sampah menjembatani rumah tangga, pengelola lokal, dan industri. Ketika sampah terpilah memiliki pembeli tetap, insentif ekonomi muncul. Warga tidak lagi diminta peduli lingkungan semata, tetapi diberi alasan finansial untuk memilah. Model ini lebih berkelanjutan daripada kampanye kebersihan yang berhenti di ajakan moral.
Namun, skalanya tidak otomatis mudah direplikasi. Harga komoditas daur ulang fluktuatif, tata kelola unit bank sampah bervariasi, dan akses pasar masih bergantung pada mitra besar. Tanpa penguatan kelembagaan dan transparansi harga, bank sampah bisa berhenti sebagai proyek percontohan. Di sinilah peran industri dan kebijakan pemerintah daerah diuji: apakah mereka mampu menjadikan bank sampah sebagai infrastruktur ekonomi tetap, bukan program seremonial.
Tantangan: Mengubah Cara Pandang
Bagi Tri, hambatan terbesar bukan teknologi, melainkan pola pikir. “Masih banyak orang yang berpikir bahwa sampah itu jijik, kotor, dan tidak memiliki nilai. Padahal, sampah bisa memiliki nilai ekonomi yang tinggi jika dikelola dan diolah dengan baik. Karena itu, membangun kesadaran masyarakat agar melihat sampah sebagai sumber daya yang bernilai menjadi salah satu tantangan terbesar yang sering aku dihadapi,” ungkap Tri kepada CNBC.
Perlahan, kesadaran itu tumbuh. Warga di sekitar Tri semakin rutin menyetorkan sampah karena melihat nilai ekonomi di balik kebiasaan tersebut. Selain menjaga kebersihan lingkungan, kegiatan itu memberi tambahan pendapatan. Dampak bergandanya jelas: lingkungan lebih bersih, rumah tangga lebih berdaya, dan usaha mikro berbasis sampah ikut hidup.
Pelajaran bagi Ekonomi Sirkular Indonesia
Kisah Tri Sugiarti memperlihatkan bahwa perubahan besar bisa berawal dari langkah sederhana. Kepedulian lingkungan bertemu dengan kejelian bisnis. Jika pemerintah, industri, dan masyarakat mampu memperkuat rantai nilai ini, sampah tidak lagi menjadi beban akhir zaman, melainkan sumber daya yang menyejahterakan. Pertanyaannya kini bukan apakah sampah bisa bernilai, tetapi seberapa cepat kita membangun sistem yang membuat nilai itu mengalir secara adil dan konsisten.
FAQ Terkait Berita Ini
Apa itu Bank Sampah Unit Tri Alam Lestari?
Bank sampah yang didirikan Tri Sugiarti di Depok, Jawa Barat, sebagai wadah masyarakat menyetorkan sampah terpilah dan mengubahnya menjadi produk bernilai ekonomi.
Bagaimana Tri Sugiarti memulai usahanya?
Ia berawal dari tumpukan buku bekas anaknya yang tidak terpakai, lalu mengolahnya menjadi produk bernilai jual. Meningkatnya permintaan mendorongnya mendirikan bank sampah.
Apa dampak ekonomi dari bank sampah?
Bank sampah memberi penghasilan tambahan bagi pengelola dan warga, membuka wirausaha, serta membantu membiayai kebutuhan keluarga, termasuk pendidikan anak Tri hingga perguruan tinggi.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Polri Tetapkan 20 Korporasi sebagai Tersangka Karhutla, Empat PMA

Ekspansi Masif MDIY: 202 Toko Baru Terbuka, Laba Bersih Naik 12,9% di 9 Bulan 2026
