Bukan Sekadar Lari Pagi: Strategi 'Geotrail' Kebumen di Forum Asia-Pasifik Ungkap Ambisi Ekonomi Rp3 Miliar

Ketua Dewan Pakar Badan Pengelola Kebumen UNESCO Global Geopark, Chusni Ansori, membeberkan cetak biru promosi pariwisata berbasis konservasi geologi di hadapan para pakar dunia pada 9th Asia Pacific Geoparks Network Symposium 2026 di Langkawi, Malaysia, Kamis (10/9). Paparan tersebut bukan sekadar pamer kekayaan alam, melainkan langkah strategis untuk mendongkrak perputaran ekonomi daerah melalui pendekatan sport tourism dan bisnis pariwisata terukur.
Sebagai jurnalis yang telah puluhan tahun menelisik kebijakan daerah, saya melihat langkah Kebumen ini sebagai lompatan matang. Mereka tidak lagi bergantung pada retorika 'alam indah', tetapi mulai meracik data menjadi instrumen ekonomi. Chusni—yang juga Peneliti Ahli Utama BRIN—mengangkat tema 'The Glowing Mother Earth of Java' dengan luasan 1.138,7 km persegi daratan dan 21,98 km persegi lautan yang mencakup 22 kecamatan.
Dua Sisi Kekuatan Geologi Karangsambung dan Karangbolong
Kawasan ini berdiri di atas dua pilar warisan geo (geoheritage): Karangsambung di utara dengan bukti lantai samudra purba, serta Karangbolong di selatan dengan bentang alam karst. Dengan 42 geosite, 8 biosite, dan 24 situs budaya, Kebumen meracik tiga jalur geotrail utama yang menggabungkan ilmu tektonik lempeng, ekologi gua, dan kehangatan pesisir.
Kebumen Geopark Trail Run: Olahraga Bernilai Jual Tinggi
Yang menarik, strategi promosi mereka menggunakan Kebumen Geopark Trail Run (KGTR). Bukan sekadar lari, rute ini dipaksa menembus pantai, perbukitan, hingga gua. Pada 2025, 1.600 pelari menyumbang lebih dari Rp1 miliar untuk UMKM. Di 2026, jarak diperpanjang hingga 50 km. Ini adalah cara cerdas menjangkau wisatawan muda tanpa merusak esensi edukasi geopark.
Travel Mart: Bisnis di Balik Pesona Alam
Di sisi komersial, Kebumen Travel Mart 2026 mempertemukan 258 buyer dengan 60 seller, menghasilkan perputaran dana Rp2 miliar. Angka ini bukan basa-basi; ini adalah bukti bahwa pariwisata berbasis masyarakat bisa menjadi tulang punggung ekonomi lokal jika dikelola dengan regulasi kuat seperti Perda Nomor 1 Tahun 2026.
Analisis saya: Keberhasilan ini tidak lepas dari master plan 2025-2034. Pertumbuhan akomodasi 5,33% dan kunjungan 13,98% per tahun adalah sinyal bahwa geopark bukan lagi sekadar 'taman batu', melainkan mesin pembangunan manusia melalui penurunan angka pengangguran dan peningkatan IPM.
FAQ Terkait Berita Ini
Apa itu Geotrail di Kebumen?
Geotrail adalah rute wisata geologi yang dirancang untuk memberi pemahaman tentang sejarah bumi dan budaya lokal melalui tiga jalur tematik: tektonik lempeng, ekologi gua, dan pesisir.
Bagaimana dampak ekonomi KGTR bagi warga?
Melalui kategori lomba yang diperluas dan rute yang menyentuh desa wisata, KGTR 2026 ditargetkan menggerakkan UMKM dengan perputaran dana lebih dari Rp1 miliar.
Mengapa Kebumen perlu Perda Geopark?
Perda Nomor 1 Tahun 2026 menjadi payung hukum agar pengembangan geopark terintegrasi dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah secara berkelanjutan.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Siap-Siap, Warga Jawa dan Sumatra: BMKG Prediksi Hujan Ringan Landa Sebagian Besar Wilayah Hari Ini

Penambahan Daratan 32,8 Hektare di Sekitar Anak Krakatau Diverifikasi, Status 'Pulau Baru' Masih Menunggu Konfirmasi Lapangan

Fenomena Gerah di Indonesia: BMKG Jelaskan Penyebab Udara Lembap Meski Hujan Belum Rutin
