Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Beras Premium Langka di Ritel Modern, Aprindo: Barangnya Ada, tapi Harga Sudah di Atas HET

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNBC Indonesia
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Beras Premium Langka di Ritel Modern, Aprindo: Barangnya Ada, tapi Harga Sudah di Atas HET
BAGIKAN:

Kelangkaan beras premium di sejumlah ritel modern Jakarta Pusat bukan karena barangnya tidak ada di pasar. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin mengungkapkan akar masalahnya: harga dari produsen dan distributor sudah berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp14.900 per kilogram, sehingga ritel modern yang wajib menjual sesuai HET tidak bisa menyerap pasokan. Pantauan di Alfamart, Indomaret, dan Hero pada Jumat (11/9/2026) menunjukkan rak beras premium kosong atau tersisa sangat terbatas, sementara beras SPHP dan beras khusus masih tersedia.

Di Alfamart, rak hanya menyediakan beras SPHP. Di Indomaret, beberapa pilihan masih ada. Di Hero, hanya tersisa beras premium Shirohana kemasan 5 kilogram seharga Rp175.000. Pegawai Hero menyebut stok beras premium lainnya sudah kosong.

Bukan Krisis Pasokan, tapi Krisis Harga

Solihin menegaskan, persoalan utama bukan ketiadaan beras premium di pasar. “Iya benar, untuk beras premium di ritel modern yang menerapkan harus jual sesuai HET senilai Rp14.900 per kg, barangnya sangat minim stoknya. Karena kiriman dari pemasok sedikit sekali. Di luar pasar modern stoknya sangat banyak,” kata Solihin kepada CNBC Indonesia saat dikonfirmasi, Jumat (11/9/2026).

“Beras premium banyak, tapi yang bisa menjual harga sesuai HET itu yang nggak ada,” sambungnya.

Menurut Solihin, ritel modern diwajibkan menjual beras premium dengan harga maksimal Rp14.900 per kg. Sementara di pasar tradisional maupun tingkat grosir, beras premium masih banyak tersedia, tetapi harganya sudah berada di atas HET. Kondisi itu membuat pemasok tidak tertarik memasukkan beras premium ke jaringan ritel modern karena harga beli dari distributor sudah lebih tinggi dibandingkan harga jual yang diperbolehkan pemerintah.

“Nggak ada yang mau masuk. Karena ritel modern harus beli lebih mahal daripada HET,” ucapnya. “Masuk tapi nggak bisa jual.”

Produsen Beralih ke Beras Khusus

Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah menilai kelangkaan ini berkaitan dengan kenaikan biaya produksi di tingkat produsen. Ketika harga jual beras premium dikunci melalui HET, sementara biaya produksi meningkat, produsen memiliki insentif untuk menghentikan produksi beras premium atau beralih ke jenis beras lain.

“Karena biaya produksi di produsen naik, tapi harga dikunci dengan HET, sehingga produsen beras premium berhenti produksi atau beralih ke beras khusus,” terang Budihardjo. Ia menambahkan, beras khusus kini lebih banyak tersedia di ritel modern untuk konsumen kelas menengah dan menengah atas, sedangkan beras SPHP kelas medium tersedia untuk kelas menengah bawah dan bawah. Budihardjo belum dapat memastikan kapan persoalan pasokan ini kembali normal.

Bulog Diminta Turun Tangan

Untuk mengatasi minimnya pasokan, Solihin mengatakan Bulog akan segera mengeluarkan beras premium untuk disalurkan melalui ritel modern. Langkah itu merupakan arahan pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Pangan dan akan dilakukan sesegera mungkin.

“Perintahnya Pak Menko Pangan begitu. As soon as possible. Semakin cepat semakin baik,” tuturnya. Solihin menilai tambahan pasokan tersebut penting agar masyarakat tidak harus membayar lebih mahal untuk mendapatkan beras premium di luar ritel modern. “Kasihan masyarakatnya, membeli harga barang yang biasa premium harus keluar duit lebih banyak lagi,” ucapnya.

Insight Bisnis: Distorsi Harga yang Menekan Sisi Suplai

Dalam kacamata ekonomi makro, kelangkaan ini adalah gejala klasik dari price ceiling yang tidak disertai koreksi sisi suplai. HET Rp14.900 per kg memang melindungi konsumen di hilir, tetapi ketika biaya produksi, distribusi, dan kemasan naik, plafon harga justru membuat pasokan premium mengalir ke kanal yang lebih fleksibel: pasar tradisional dan grosir. Ritel modern, yang terikat aturan, berada di posisi terjepit: ingin menyediakan barang, tetapi tidak bisa membeli di atas harga jual yang ditetapkan.

Jika dibiarkan, distorsi ini tidak hanya membuat rak ritel modern kosong. Konsumen kelas menengah bawah yang mengandalkan ritel modern untuk pembelian harian akan terdorong ke pasar dengan harga lebih tinggi, sementara produsen terus beralih ke segmen beras khusus yang marginnya lebih sehat. Solusi jangka pendek berupa pasokan Bulog bisa menjadi peredam, tetapi tidak menyelesaikan akar masalah. Pemerintah perlu mengevaluasi HET beras premium secara berkala atau menyiapkan subsidi tertarget agar insentif pasokan kembali hidup. Tanpa itu, kelangkaan akan menjadi fenomena berulang setiap kali biaya produksi menanjak.

FAQ Terkait Berita Ini

Mengapa beras premium langka di ritel modern?

Karena harga dari produsen dan distributor sudah berada di atas HET Rp14.900 per kg, sementara ritel modern wajib menjual sesuai HET. Akibatnya, pemasok tidak tertarik memasok ke ritel modern.

Apakah beras premium benar-benar tidak ada di pasar?

Tidak. Beras premium masih banyak tersedia di pasar tradisional dan grosir, tetapi harganya sudah di atas HET.

Apa langkah yang disiapkan pemerintah?

Perum Bulog akan segera menyalurkan beras premium ke ritel modern atas arahan Menteri Koordinator Bidang Pangan. Tambahan pasokan ini diharapkan menekan beban konsumen.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ