Bendungan USD167 Miliar di Tibet: Mega Proyek China di Atas Patahan Aktif, Bom Waktu bagi Asia?
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

China resmi memulai konstruksi proyek PLTA raksasa senilai USD167 miliar di Daerah Otonomi Tibet pada Juli 2025. Proyek ini terdiri dari lima stasiun kaskade di sepanjang hilir Sungai Yarlung Tsangpo, yang mengalir ke India sebagai Sungai Siang dan Brahmaputra, dengan target kapasitas 60 gigawatt pada awal 2030-an.
Namun, ambisi energi Beijing itu berdiri di atas fondasi yang secara geologis rapuh. Sejumlah ilmuwan China sendiri memperingatkan bahwa kawasan tersebut dilintasi Patahan Paizhen yang aktif sejak Zaman Es, sehingga risiko gempa dan longsor menjadi perhatian utama.
Peringatan dari Ilmuwan China Sendiri
Jurnal Sedimentary Geology and Tethyan Geology mempublikasikan temuan bahwa garis patahan aktif berada tepat di bawah mega-bendungan. Para peneliti dari Universitas Teknologi Chengdu mendesak pembangun memperkuat stabilitas lereng guna mencegah tanah longsor. Temuan ini juga dilaporkan media South China Morning Post, yang menunjukkan keraguan terhadap kelayakan proyek tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam China.
Pengamat geopolitik Italia, Marco Respinti, menilai proyek tersebut sebagai bom waktu. “Penilaian ini bukanlah alarmisme dari pihak asing, melainkan kesimpulan dari para ahli geologi China sendiri,” ujarnya. Menurut Respinti, China memiliki rekam jejak panjang dalam mengabaikan fakta tidak nyaman yang berpotensi menodai narasi penguasaannya atas alam.
Pemakoe: Lembah Suci di Zona Gempa
Kawasan inti proyek, Pemakoe, memiliki catatan volatilitas seismik yang mematikan. Dalam cerita rakyat Tibet, Pemakoe dihormati sebagai Beyul, lembah tersembunyi yang diyakini sebagai kediaman pelindung Vajravārāhī. Selama berabad-abad, hanya komunitas kecil yang tinggal di sana karena pengabdian spiritual.
Keseimbangan itu hancur pada 15 Agustus 1950 saat gempa berkekuatan 8,6 magnitudo, yang terkuat di abad ke-20, meratakan Tibet Selatan. Saksi mata seperti Lama Kunzang Dechen Lingpa Rinpoche dan penjelajah Inggris Francis Kingdon-Ward mencatat kehancuran apokaliptik ketika jutaan batu dan hutan tumbang membendung Sungai Tsangpo dan melepaskan gelombang banjir dahsyat. Berlatar memori itu, peringatan sains mengenai pergeseran aktif Patahan Paizhen seharusnya menjadi perhatian utama.
Dampak Lintas Batas dan Manuver Geopolitik
Keruntuhan seismik tidak hanya akan menghancurkan Pemakoe, tetapi juga menghantam jutaan penduduk di India dan Bangladesh yang bergantung pada Sungai Brahmaputra untuk pertanian dan mata pencaharian. Penurunan sungai dari ketinggian 2.900 meter ke 600 meter di kawasan Great Bend memang menawarkan potensi hidroelektrik luar biasa, tetapi risikonya berlipat ganda.
Lebih dari sekadar energi, proyek ini dilihat sebagai manuver geopolitik China. Rute pengalihan bendungan berada di dekat terowongan Doshung-la dan jalan raya baru G219, jalan yang melintasi wilayah sengketa di Ladakh. Puluhan ribu pekerja migran dari daratan China didatangkan ke desa-desa baru di wilayah perbatasan, yang disebut Respinti sebagai taktik demografis untuk menanamkan pengaruh Beijing lebih dalam.
Sejarah menyimpan ironi. Pada 1913, Kapten G.A. Nevill dari Kepolisian India sempat mengusulkan agar perbatasan ditarik melewati puncak Namcha Barwa. Jika usulan itu diterima Inggris, Pemakoe akan masuk wilayah India dan terlindung dari eksploitasi ambisius Beijing.
Ujian bagi Beijing
Proyek Pemakoe menjadi ujian mutlak bagi China: apakah ambisi unjuk kekuatan bersedia mengindahkan peringatan ilmuwannya sendiri. Tanah di bawah Pemakoe sangat tidak stabil dan tatanan spiritualnya telah dikoyak. Mengabaikan realitas ini sama dengan mengundang malapetaka, sekaligus memberi Beijing panggung lain untuk menunjukkan sikap tidak acuh pada tragedi yang sudah diramalkan.
Dalam perspektif hubungan internasional, mega-bendungan ini memperlihatkan tarik-menarik antara kebutuhan energi, ambisi geopolitik, dan risiko bencana lintas batas. Keputusan Beijing dalam beberapa tahun ke depan tidak hanya akan menentukan nasib Pemakoe, tetapi juga stabilitas kawasan Asia Selatan dan kredibilitas China sebagai kekuatan yang bertanggung jawab.
FAQ Terkait Berita Ini
Apa proyek bendungan terbesar China di Tibet? Proyek PLTA lima kaskade di hilir Sungai Yarlung Tsangpo dengan nilai USD167 miliar dan target 60 gigawatt pada awal 2030-an.
Mengapa proyek ini berisiko? Karena berada di atas Patahan Paizhen yang aktif, rawan gempa dan longsor, serta memiliki catatan gempa dahsyat pada 1950.
Apa dampaknya bagi negara tetangga? Keruntuhan bendungan berpotensi memicu banjir besar yang mengancam jutaan penduduk di India dan Bangladesh yang bergantung pada Sungai Brahmaputra.


