⚠️INFO GEMPA BUMI: Magnitudo 5.1 di 19 km WNW of Tomohon, Indonesia pada 2/11/2026, 15.13.14. Baca peringatan dan analisis selengkapnya.
Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Misteri 5 Bayi Orang Utan di Hutan Odisha: Kok Bisa Sampai India?

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Misteri 5 Bayi Orang Utan di Hutan Odisha: Kok Bisa Sampai India?
BAGIKAN:

Bayi orang utan ditemukan berkeliaran di kawasan hutan Bichitrapur/Ranakotha, dekat Desa Badapai, Blok Bhograi, Distrik Balasore, Odisha, India, pada Selasa (8/9) sekitar pukul 06.00 waktu setempat. Penemuan ini memicu pertanyaan besar: bagaimana satwa yang secara alami hanya hidup di Sumatra dan Kalimantan itu bisa berada sekitar 40 kilometer dari ruas jalan Balasore-Kolkata di NH-16? Warga awalnya melihat lima satwa berbulu kemerahan bergerak di antara pepohonan casuarina, lalu petugas Departemen Kehutanan Odisha turun mengamankan mereka.

Dari Hutan Balasore ke Nandankanan

Kepala Konservator Hutan (Satwa Liar) Odisha, Prem Kumar Jha, memperkirakan kelima orang utan berusia sekitar satu hingga dua tahun. Petugas Seksi Kehutanan Udaipur menyelamatkan mereka dan membawanya ke kantor kehutanan. Dokter hewan memeriksa kondisi mereka sebelum dipindahkan ke tempat perawatan. DFO Balasore, Pratik Prakash Indalkar, mengatakan kelima orang utan berukuran kecil dan relatif tidak aktif, tetapi tetap waspada saat ditemukan. Petugas memberi makanan sebelum mengamankan mereka untuk menghindari kerumunan warga. Pada Rabu (9/9), kelima orang utan dipindahkan ke Kebun Binatang Nandankanan di Bhubaneswar dan kini menjalani karantina di bawah pengawasan dokter hewan.

Migrasi Alami Dinilai Tidak Mungkin

Indalkar mengatakan migrasi alami sangat tidak mungkin karena tidak ada koridor yang menghubungkan Odisha dengan habitat alami orang utan di Asia Tenggara. Karena itu, pihak berwenang menduga keberadaan mereka berkaitan dengan campur tangan manusia. Namun dugaan tersebut belum membuktikan perdagangan satwa ilegal. Penyelundupan masih menjadi salah satu kemungkinan, tetapi belum ada bukti konklusif. Pemerintah negara bagian bahkan meminta Biro Pengendalian Kejahatan Satwa Liar (WCCB) ikut menyelidiki. Kemungkinan lain yang diperiksa adalah kelima orang utan melarikan diri atau ditinggalkan seseorang yang sebelumnya memeliharanya secara ilegal.

Uji bagi Rezim CITES

Jika orang utan masuk India melalui jalur legal, seharusnya ada dokumen impor dan izin yang sesuai. Tiga spesies orang utan yang dikenal, yakni Kalimantan, Sumatra, dan Tapanuli, tercantum dalam Lampiran I CITES. Status itu memberi perlindungan tertinggi. Perdagangan komersial internasional spesies Lampiran I umumnya dilarang, sementara perpindahan yang diperbolehkan harus memenuhi persyaratan izin dan dokumentasi ketat. Penyelidik perlu memastikan spesies dan asal kelima orang utan, lalu memeriksa izin CITES, catatan impor India, dokumen bea cukai, serta kemungkinan catatan kebun binatang atau fasilitas penyelamatan. Dokumen CITES mencatat transfer orang utan ke India, termasuk orang utan Tapanuli dari UEA pada 2024 dengan Indonesia sebagai negara asal. Namun belum ada bukti publik yang mengaitkan kelima orang utan di Balasore dengan jalur serupa.

Bayi Orang Utan dan Kerentanan Perdagangan

Usia kelima orang utan yang masih sekitar satu hingga dua tahun juga menjadi perhatian serius. Anak orang utan sangat bergantung pada induknya selama bertahun-tahun sehingga pemisahan dari induk dapat berdampak pada perkembangan dan kelangsungan hidup mereka. Orang utan muda juga rentan menjadi sasaran perdagangan satwa liar ilegal. Sejumlah kasus sebelumnya di Asia Tenggara menunjukkan bayi orang utan diselamatkan dari perdagangan sebagai hewan peliharaan dan kemudian direhabilitasi. Meski demikian, kasus-kasus tersebut belum membuktikan bahwa kelima orang utan di Odisha merupakan korban perdagangan ilegal. Untuk sementara, mereka berada dalam perawatan resmi di Kebun Binatang Nandankanan, menjalani karantina dan pemeriksaan medis sembari pihak berwenang berusaha mengungkap asal-usul dan rencana selanjutnya.

Dalam kacamata hubungan internasional, kasus ini bukan sekadar anomali satwa. Ia memperlihatkan titik lemah rantai pengawasan lintas negara: perbedaan kapasitas penegakan hukum, celah dokumen, dan tingginya permintaan pasar gelap. Jika benar ada campur tangan manusia, respons India tidak cukup berhenti pada penyelamatan; perlu kerja sama dengan Indonesia, Malaysia, dan negara transit untuk melacak rantai pasok. Sebaliknya, bila lima orang utan itu lepas dari pemeliharaan ilegal, pesannya sama: konservasi tidak bisa hanya bergantung pada status hukum CITES, tetapi pada pengawasan harian di pelabuhan, bandara, dan fasilitas penangkaran.

FAQ Terkait Berita Ini

Di mana lima bayi orang utan ditemukan? Di hutan Bichitrapur/Ranakotha, Balasore, Odisha, India, sekitar 40 kilometer dari NH-16.

Mengapa penemuan ini mengejutkan? Karena orang utan tidak memiliki populasi liar di India; habitat alaminya berada di Sumatra dan Kalimantan.

Apakah sudah terbukti terkait perdagangan ilegal? Belum. Penyelidik masih memeriksa kemungkinan penyelundupan, pelarian, atau ditinggalkan pemelihara ilegal.

Meow! Tanya Nesi!
😸