Minyak Tembus US$100: Mengapa APBN Kita Masih 'Kebal' dari Guncangan Global?

Ekonomi & Pasar
Hendra GunawanHendra Gunawan
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Minyak Tembus US$100: Mengapa APBN Kita Masih 'Kebal' dari Guncangan Global?
BAGIKAN:

JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan bahwa defisit APBN akan tetap terjaga aman di bawah batas aman 3 persen terhadap PDB, meskipun harga minyak dunia kembali melonjak melewati level psikologis US$100 per barel pada Kamis (10/9). Kepastian ini disampaikan langsung di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, guna meredam kekhawatiran pasar atas potensi pembengkakan anggaran subsidi energi nasional akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah.

"Anggarannya masih cukup seperti yang kita hitung sebelumnya," ujar Purbaya optimis. Sikap tenang otoritas fiskal ini bukan tanpa alasan. Pemerintah rupanya telah mengunci asumsi harga minyak mentah pada angka US$100 per barel dalam postur APBN, dengan target defisit maksimal 2,85 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Menguji Ketahanan Fiskal di Tengah Ketegangan Geopolitik

Lonjakan harga minyak kali ini dipicu oleh kekhawatiran gangguan pasokan global setelah meningkatnya ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran di jalur pelayaran kritis Timur Tengah. Data perdagangan menunjukkan minyak mentah Brent merangkak naik ke US$101,34 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) bertengger di level US$96,55 per barel.

Namun, dari kacamata makroekonomi, Indonesia memiliki bantalan fiskal yang cukup tebal tahun ini. Hingga periode Juli-Agustus, realisasi defisit anggaran baru menyentuh kisaran 0,91 hingga 0,95 persen. Jarak yang lebar menuju batas aman 3 persen memberikan fleksibilitas luar biasa bagi pemerintah untuk menyerap guncangan eksternal tanpa harus melakukan penyesuaian anggaran yang drastis.

Dilema Subsidi dan Proteksi Daya Beli

Meskipun tekanan eksternal meningkat, Purbaya menegaskan belum ada urgensi untuk menambah kuota subsidi energi. Strategi pemerintah saat ini adalah melakukan penyerapan dampak (absorb) melalui APBN untuk jenis BBM bersubsidi seperti Pertalite. Sebaliknya, penyesuaian harga kemungkinan hanya akan menyasar BBM non-subsidi seperti Pertamax.

Langkah ini dinilai tepat untuk menjaga daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah yang menjadi motor utama konsumsi domestik. Namun, sebagai catatan kritis, pemerintah harus tetap waspada. Jika harga minyak bertahan di atas US$100 dalam jangka panjang, beban kompensasi kepada BUMN energi seperti Pertamina tetap akan menumpuk di akhir tahun anggaran.

FAQ Terkait Berita Ini

Bagaimana dampak kenaikan harga minyak dunia terhadap APBN Indonesia saat ini?
APBN dinilai masih aman karena asumsi makro pemerintah sudah mematok harga minyak di level US$100 per barel dengan target defisit 2,85%. Saat ini, defisit berjalan masih sangat rendah di bawah 1%.

Apakah harga BBM bersubsidi seperti Pertalite akan naik?
Tidak. Pemerintah berkomitmen menjaga daya beli masyarakat dengan tetap menyubsidi Pertalite, sehingga fluktuasi harga global hanya akan berdampak langsung pada BBM non-subsidi seperti Pertamax.

Meow! Tanya Nesi!
😸