Kebakaran di RSSA Malang: Infrastruktur Tua dan Risiko yang Diabaikan?
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Malang, 9 September 2026 — Dua ruangan vital di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang dilalap api pada Rabu (9/9) siang, memicu kerugian material ditaksir mencapai Rp900 juta. Kebakaran terjadi di area dapur gizi dan laundry room, merembet ke atap kayu yang akhirnya roboh. Meski tidak menimbulkan korban jiwa berkat respons cepat sistem code red, insiden ini kembali mengungkap rapuhnya infrastruktur bangunan rumah sakit rujukan nasional yang dibangun secara bertahap sejak puluhan tahun lalu.
Direktur Utama RSSA, dr. Mochamad Bachtiar Budianto, mengakui bahwa pembaruan jaringan listrik di kompleks rumah sakit baru tuntas 60 persen. “Kami tidak bisa menghentikan layanan secara bersamaan, sehingga proses modernisasi harus dilakukan bertahap,” katanya. Namun, pengakuan itu justru menimbulkan pertanyaan kritis: apakah keselamatan pasien dan staf harus dikompromikan demi kelangsungan operasional?
Kabel Lama Jadi Tersangka, Investigasi Masih Berlangsung
Bachtiar tidak menampik kemungkinan kabel listrik tua sebagai pemicu kebakaran—kejadian serupa pernah terjadi pada 2019 meski di lokasi berbeda. “Kemungkinan kabel yang lama itu memang tidak bisa kami pungkiri,” ujarnya, meski menegaskan sistem tanggap darurat telah berfungsi optimal. Polisi masih melakukan investigasi untuk menentukan penyebab pasti.
Fakta bahwa atap bangunan terbuat dari kayu—material mudah terbakar—menunjukkan standar keselamatan bangunan belum sepenuhnya mengikuti regulasi modern. Wakil Direktur Umum dan Keuangan RSSA, Kurniawan Hary Putranto, mengatakan struktur yang terbakar kemungkinan besar harus diganti total, termasuk penyesuaian konstruksi sesuai standar keamanan terkini.
Perbaikan Butuh Waktu, Layanan Tetap Berjalan
Proses perbaikan diperkirakan memakan waktu sekitar dua bulan karena tidak hanya mencakup rekonstruksi fisik, tetapi juga rekondisi peralatan medis dan dapur yang rusak akibat reruntuhan genting. Sertifikasi ulang—termasuk standar higienitas dapur rumah sakit—wajib dilalui sebelum layanan dapur gizi dapat beroperasi normal.
Petugas Damkar mengerahkan lima unit armada dan 20 personel setelah menerima laporan pukul 14.57 WIB. Api berhasil dipadamkan pukul 16.30 WIB. Material yang hangus meliputi peralatan dapur, bahan makanan, serta selimut dan seprai di laundry room—semua benda mudah terbakar yang memperparah penyebaran api.
Insiden ini bukan sekadar musibah, melainkan cerminan dari dilema infrastruktur publik di Indonesia: antara menjaga layanan berjalan terus dan memperbarui fondasi yang sudah rapuh. Selama modernisasi dilakukan separuh hati, risiko serupa akan terus mengintai—bukan hanya di RSSA, tapi di ratusan fasilitas kesehatan lain yang dibangun era sebelum reformasi.
FAQ Terkait Berita Ini
Apa penyebab kebakaran di RSSA Malang?
Belum diketahui pasti. Pihak rumah sakit menduga kabel listrik tua berperan, tetapi investigasi resmi oleh kepolisian masih berlangsung.
Apakah ada korban jiwa dalam insiden ini?
Tidak. Sistem tanggap darurat (code red) RSSA berfungsi efektif, sehingga api berhasil dilokalisir dan tidak menyebar ke ruang pelayanan lain.
Berapa lama proses perbaikan diperkirakan selesai?
Sekitar dua bulan, karena melibatkan rekonstruksi atap, rekondisi peralatan, dan sertifikasi ulang standar higienitas serta keselamatan.


