Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Ironi NTT: SD dengan Ruang Darurat Dapat Smart TV, Revitalisasi Baru Dijanjikan Setelah Viral

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ironi NTT: SD dengan Ruang Darurat Dapat Smart TV, Revitalisasi Baru Dijanjikan Setelah Viral
BAGIKAN:

Sekolah Dasar Negeri (SDN) Mboeng di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, akhirnya mendapat janji revitalisasi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) setelah kondisi bangunan sekolah yang memprihatinkan viral di media sosial. Ironisnya, sekolah dengan dua ruang kelas rusak berat dan empat ruang darurat itu justru lebih dulu menerima bantuan Smart TV untuk menunjang digitalisasi pembelajaran.

Direktur Sekolah Dasar Kemendikdasmen, Moch. Salim Somad, menyatakan bahwa perbaikan SDN Mboeng akan dilakukan pada tahun ini. Timnya telah turun langsung meninjau lokasi dan mengidentifikasi kebutuhan perbaikan. "Sudah turun, langsung diperbaiki kelas yang rusak berat maupun yang darurat," ujar Salim dalam keterangan resmi, Rabu (9/9).

Fakta di Lapangan: Bangunan Roboh, Kelas Darurat dari Swadaya

SDN Mboeng saat ini menampung 84 siswa dalam enam rombongan belajar, dengan 10 tenaga kependidikan. Dari lima bangunan permanen yang dimiliki, dua ruang kelas mengalami kerusakan berat sehingga tidak layak pakai. Akibatnya, proses belajar mengajar terpaksa digelar di empat ruang darurat yang sebagian besar dibangun dari swadaya masyarakat, terutama orang tua siswa. Kondisi ini menjadi cermin kelambanan pemerintah dalam memenuhi standar sarana-prasarana pendidikan dasar di daerah terpencil.

Prioritas yang Terbalik? Smart TV di Tengah Gentingnya Fisik Sekolah

Pertanyaan kritis yang mengemuka adalah: mengapa SDN Mboeng justru dipilih sebagai penerima bantuan perangkat televisi pintar, padahal bangunan sekolahnya darurat? Salim beralasan bahwa berdasarkan Data Pokok Pendidikan (Dapodik), sekolah tersebut tercatat memiliki sumber listrik, sehingga memenuhi syarat teknis untuk program digitalisasi. Namun, logika birokrasi semacam ini mengabaikan akar masalah โ€” bahwa revitalisasi sekolah seharusnya menjadi prioritas utama sebelum teknologi kelas atas dihadirkan. Seorang guru di lokasi yang enggan disebutkan namanya menyebut, "TV canggih tidak ada gunanya jika atap bocor dan papan tulis rapuh."

Salim menegaskan bahwa digitalisasi dan perbaikan fisik bukanlah dua kebijakan yang bertentangan, melainkan berjalan paralel. "Digitalisasi di sekolah berjalan, perbaikan fisik sekolah juga dilakukan," katanya. Namun, fakta menunjukkan bahwa janji perbaikan baru muncul setelah sorotan publik, bukan dari hasil pemetaan kebutuhan rutin. Ini mengindikasikan bahwa pengawasan dan responsivitas pemerintah masih reaktif, bukan preventif.

Anggaran Rp1,2 Triliun untuk NTT, Tapi Akankah Tepat Sasaran?

Kemendikdasmen mencatat bahwa program revitalisasi di Provinsi NTT hingga 2026 menyasar 1.487 satuan pendidikan dengan anggaran mencapai Rp1,2 triliun. Jumlah yang tidak kecil, tetapi efektivitasnya sangat bergantung pada transparansi dan akurasi data. Kasus SDN Mboeng menjadi uji nyata: jika data Dapodik hanya mencatat ketersediaan listrik tanpa memverifikasi kondisi bangunan, maka ribuan sekolah lain berpotensi mengalami nasib serupa โ€” mendapat bantuan teknologi yang tidak terpakai optimal karena infrastruktur dasar gagal dipenuhi.

Sebagai jurnalis yang telah lama meliput ketimpangan pendidikan di Indonesia Timur, saya menilai bahwa kebijakan ini masih terjebak pada pendekatan simbolik. Smart TV adalah ikon modernisasi yang mudah dipublikasikan, namun perbaikan atap, plafon, dan dinding sekolah โ€” yang tak kalah penting โ€” sering terabaikan hingga menjadi polemik. Pemerintah harus belajar dari kasus ini: jangan sampai program digitalisasi justru menjadi tameng untuk menutupi kelalaian dalam pemenuhan hak dasar siswa akan ruang belajar yang aman.

Salim berkomitmen untuk terus menghadirkan sekolah yang layak dan merata, termasuk pembelajaran bermutu. Namun, komitmen tanpa eksekusi terukur hanya akan menjadi narasi tahunan. Warga NTT, terutama para orang tua siswa, berhak mendapat jadwal pasti dan mekanisme pengawasan publik atas revitalisasi SDN Mboeng. Bukan sekadar janji di tengah hiruk-pikuk media sosial.

FAQ Terkait Berita Ini

1. Mengapa SDN Mboeng mendapat Smart TV meskipun bangunannya rusak?
Kemendikdasmen menyatakan bahwa sekolah tersebut tercatat memiliki sumber listrik dalam Dapodik, sehingga memenuhi syarat program digitalisasi. Namun, kriteria tersebut tidak mempertimbangkan kondisi fisik bangunan yang darurat.

2. Kapan revitalisasi SDN Mboeng akan dimulai?
Direktur SD Kemendikdasmen menyatakan perbaikan akan dilakukan pada tahun 2026, dengan tim yang sudah turun ke lokasi. Namun jadwal rinci dan lingkup pekerjaan belum diumumkan secara terbuka.

3. Berapa total anggaran revitalisasi sekolah di NTT?
Pemerintah mengalokasikan Rp1,2 triliun untuk revitalisasi 1.487 satuan pendidikan di NTT hingga 2026. Angka ini mencakup berbagai perbaikan, namun rincian per sekolah belum dipublikasikan.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ