Houthi Digempur dari Berbagai Arah, Perang Yaman Memanas: Ancaman Baru bagi Harga Minyak?
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Jakarta, beritahariini.net — Pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi kembali bentrok dengan Houthi di dekat Al-Hazm, Rabu (9/9/2026), setelah militer Yaman merilis video yang diklaim memperlihatkan pertempuran tersebut. Eskalasi ini menandai peningkatan intensitas konflik Yaman dalam beberapa bulan terakhir dan memicu kekhawatiran perang kembali meluas setelah gencatan senjata yang ditengahi PBB pada 2022 sebagian besar menghentikan pertempuran bertahun-tahun.
Dalam beberapa hari terakhir, pasukan pemerintah Yaman melancarkan serangan dari berbagai arah ke wilayah yang dikuasai Houthi. Operasi itu dilakukan setelah Houthi berupaya memperluas wilayah dengan merangsek menuju posisi pasukan pemerintah. Pemerintah Yaman menyatakan tujuan operasi adalah merebut kembali seluruh wilayah yang saat ini berada di bawah kendali Houthi.
Tekanan dari Berbagai Arah
Bentrokan terbaru terjadi di tengah eskalasi serangan antara Houthi dan Arab Saudi. Houthi dilaporkan melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah wilayah Arab Saudi. Riyadh kemudian menyatakan akan memberikan respons militer terhadap serangan tersebut.
Dari sudut pandang ekonomi makro, eskalasi ini bukan sekadar peristiwa geopolitik Timur Tengah. Yaman dan kawasan Laut Merah berada di jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Eropa, Asia, dan Teluk. Ketegangan yang berlarut akan menaikkan premi risiko asuransi pelayaran, biaya logistik, dan pada akhirnya tekanan terhadap harga minyak dunia serta inflasi global.
Mengapa Pasar Perlu Waspada
Pasar energi biasanya merespons konflik di kawasan dengan menaikkan premi risiko, meski pasokan belum terganggu secara langsung. Jika serangan rudal dan drone Houthi berlanjut, investor akan mengawasi apakah Arab Saudi mengubah strategi pertahanan atau apakah jalur pelayaran di Laut Merah kembali terganggu. Bagi Indonesia, efeknya dapat terasa melalui harga energi impor, nilai tukar, dan biaya angkutan barang.
Namun, analisis yang lebih tajam menunjukkan bahwa perang Yaman adalah cermin dari perebutan pengaruh regional. Dukungan Arab Saudi bagi pemerintah Yaman dan keterkaitan Houthi dengan Iran membuat konflik ini mudah menyeret aktor luar. Tanpa tekanan diplomatik yang efektif, risiko perang berkepanjangan akan tetap tinggi. PBB dan kekuatan regional perlu mendorong de-eskalasi sebelum gencatan senjata 2022 sepenuhnya runtuh.
FAQ Terkait Berita Ini
Q: Apa yang memicu bentrokan terbaru di Yaman?
A: Houthi berupaya memperluas wilayah menuju posisi pasukan pemerintah, lalu pasukan pemerintah yang didukung Arab Saudi melancarkan serangan dari berbagai arah.
Q: Mengapa Arab Saudi terlibat?
A: Arab Saudi mendukung pasukan pemerintah Yaman dan menyatakan akan merespons serangan rudal serta drone Houthi ke wilayahnya.
Q: Apa dampaknya bagi pasar global?
A: Ketegangan dapat menaikkan premi risiko di jalur pelayaran Laut Merah, biaya logistik, dan harga minyak, yang berpotensi memperburuk inflasi global.


