El Nino Godzilla Ancam Pangan, DPR Ungkap Produksi Beras 31,23 Juta Ton: Irigasi dan Bendungan Jadi Kunci
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Ancaman El Nino Godzilla tidak lagi sekadar peringatan cuaca. Di Ruang Komisi IV DPR RI, Jakarta, Kamis (10/09/2026), Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Hanan A Rozak menegaskan kemarau panjang telah menempatkan ketahanan pangan nasional pada titik rawan: produksi beras baru 31,23 juta ton per akhir Agustus 2026, sementara target tahun ini 34,7 juta ton. DPR mendorong percepatan mitigasi kekeringan, terutama melalui pompa air dan rehabilitasi irigasi, agar masa tanam dan budidaya tidak terganggu.
Dalam dialog bersama Andi Shalini di Squawk Box, Hanan menilai antisipasi pemerintah menghadapi El Nino Godzilla relatif baik. Namun, catatan kritis tetap muncul: wilayah reklamasi sawah seperti Lampung perlu diselamatkan karena sedang dalam fase produksi. Komisi IV meminta pemerintah tidak hanya menyiapkan infrastruktur air, tetapi juga memastikan fasilitas yang sudah dibangun bisa dipakai cepat di lapangan.
Produksi Beras di Bawah Target
Angka 31,23 juta ton per akhir Agustus 2026 menunjukkan capaian yang belum menutup target 34,7 juta ton. Bagi pasar, selisih ini bukan sekadar statistik. Ia adalah sinyal bahwa tekanan inflasi pangan bisa kembali menguat bila panen berikutnya terganggu. Dalam kerangka makroekonomi, produksi beras yang tidak stabil akan mengerek harga, menekan daya beli, dan memperlebar defisit neraca pangan jika impor menjadi opsi darurat.
Karena itu, pernyataan Komisi IV DPR soal keterbatasan anggaran perbaikan dan normalisasi bendungan hingga irigasi harus dibaca sebagai alarm fiskal. Tanpa anggaran yang memadai, percepatan mitigasi hanya menjadi retorika. Pemerintah perlu memprioritaskan belanja yang berdampak langsung pada produktivitas, bukan sekadar program seremonial.
Irigasi dan Bendungan: Titik Kritis
Pengadaan pompa air dan rehabilitasi irigasi memang langkah tepat. Namun, efektivitasnya bergantung pada tata kelola air, kondisi embung, dan kesiapan petugas di daerah. El Nino Godzilla memperbesar risiko gagal tanam, terutama di sentra pangan yang bergantung pada irigasi permukaan. Normalisasi bendungan yang tertunda akan mengurangi pasokan air ke sawah, sementara kerusakan jaringan irigasi memperparah kebocoran air.
Sebagai ekonom, saya melihat ada dua taruhan besar. Pertama, kecepatan eksekusi anggaran di sisa tahun 2026. Kedua, koordinasi pusat-daerah dalam mengelola krisis air. Jika keduanya lambat, target produksi beras berpotensi meleset lebih jauh, dan harga pangan akan menjadi variabel paling sensitif bagi inflasi domestik.
Yang Harus Diawasi Pasar
Pelaku usaha dan investor perlu mencermati tiga indikator: realisasi penyaluran pompa air, progres rehabilitasi irigasi, dan keputusan impor beras. Ketiganya mempengaruhi ekspektasi harga pangan, kinerja sektor pertanian, serta ruang fiskal untuk subsidi. DPR melalui Komisi IV telah membuka tekanan politik agar pemerintah bergerak lebih cepat. Kini pertanyaannya bukan lagi apakah kekeringan akan datang, melainkan seberapa siap negara menyelamatkan panen.
FAQ Terkait Berita Ini
Q: Apa penyebab utama ancaman pada produksi pangan?
A: El Nino Godzilla yang memicu kemarau panjang, ditambah keterbatasan anggaran perbaikan bendungan dan irigasi.
Q: Berapa capaian produksi beras per akhir Agustus 2026?
A: 31,23 juta ton, dari target 34,7 juta ton.
Q: Apa langkah mitigasi yang didorong DPR?
A: Percepatan pengadaan pompa air, rehabilitasi irigasi, dan pemanfaatan fasilitas air untuk menyelamatkan masa tanam, termasuk di Lampung.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

BEI Keluarkan 81 Saham HSC dari IHSG dan India Tuntut Ketua KPU Mundur

Robert Budi Hartono Kembali Tempati Posisi Orang Terkaya RI dengan Harta Rp221,76 Triliun

Saham NATO Tumbuh 216% Saat IHSG Alami Pelemahan Terburuk Sepanjang 2026
