Dunia Kepincut! Jepang hingga Eropa Belajar B50 Indonesia, Devisa Hemat Rp170 T

Indonesia resmi menjadi negara pertama di dunia yang mengimplementasikan biodiesel B50, campuran 50% minyak kelapa sawit dalam solar, sejak 1 Juli 2026. Kebijakan ini tidak hanya menjadi tonggak sejarah ketahanan energi, tetapi juga membuat Jepang, Malaysia, dan sejumlah negara Eropa berbondong-bondong belajar ke Jakarta. Dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XII DPR RI, Kamis (10/9/2026), pemerintah memaparkan capaian, serapan, dan proyeksi ekonomi yang disebut bisa menghemat devisa hingga Rp170 triliun.
Dirjen EBTKE Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menegaskan bahwa posisi Indonesia telah menjadi rujukan dunia. “Berbagai uji ketahanan ini telah dibuktikan oleh user dan baru saat road test B50 ini banyak sekali diikuti oleh user dan kali ini juga baru diikuti oleh mesin-mesin bermerek dari Eropa. Jadi pertama kali Indonesia melakukan pengujian ini dan banyak yang mengikuti bahkan sekarang menjadi ketertarikan negara-negara lain sekarang belajar ke kami. Jadi ada dari Jepang, dari Malaysia, dari Eropa sekarang datang belajar ke kami, Pak,” kata Eniya.
Hingga 7 September 2026, total penyaluran biodiesel nasional mencapai 10,69 juta kiloliter (KL). Rinciannya, 7,273 juta KL produk B40 pada semester I-2026 dan 3,4 juta KL produk B50 yang disalurkan sejak Juli hingga awal September. Saat ini, 90% jaringan distribusi atau sekitar 6.050 lokasi SPBU telah menyalurkan B50, sementara 76 dari 104 titik serah terminal bahan bakar sudah aktif.
“Untuk implementasi B50, ini kami melihat dari konteks peresmian yang dilakukan oleh Bapak Presiden. Ini menjadi tonggak sejarah negara bangsa kita yang pertama di dunia mengimplementasikan B50 mulai dari 1 Juli 2026,” tambahnya.
Eniya membandingkan capaian Indonesia dengan negara lain. Malaysia baru mengumumkan B20 setelah sebelumnya B15, sedangkan Eropa memakai 7% FAME dan rata-rata negara lain 10%. “Nah ini menunjukkan bahwa kita menjadi pionir dan sekarang menjadi rujukan,” jelasnya.
Insight Bisnis: B50 sebagai Strategi Fiskal dan Industrialisasi
Dari kacamata ekonomi makro, B50 bukan sekadar kebijakan energi. Ini adalah instrumen fiskal untuk menekan impor solar, memperkuat devisa negara, dan mendorong hilirisasi industri kelapa sawit. Pemerintah memproyeksikan penghematan devisa Rp170 triliun pada 2026, penyerapan 2,1 juta tenaga kerja, serta nilai tambah industri kelapa sawit domestik hingga Rp20,92 triliun.
Namun, sebagai kolumnis, saya melihat tantangan tidak ringan. Ketergantungan pada CPO harus diimbangi dengan produktivitas kebun, tata kelola ekspor, dan kesiapan mesin. Tanpa itu, B50 bisa menjadi beban logistik dan distorsi pasar. Transisi energi terbarukan tetap membutuhkan diversifikasi, bukan hanya satu komoditas.
FAQ Terkait Berita Ini
Apa itu B50?
B50 adalah bahan bakar solar dengan campuran 50% minyak kelapa sawit atau FAME, yang diimplementasikan Indonesia mulai 1 Juli 2026.
Negara mana yang tertarik belajar ke Indonesia?
Jepang, Malaysia, dan sejumlah negara Eropa datang untuk mempelajari skema teknis dan regulasi B50.
Apa dampak ekonomi B50?
Proyeksi penghematan devisa Rp170 triliun pada 2026, penyerapan 2,1 juta tenaga kerja, dan nilai tambah industri sawit Rp20,92 triliun.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

PFII Berikan Insentif Pajak 50 Tahun, Buka 18 Sektor Keuangan Strategis
BEI Apresiasi Dukungan Chapman Taylor untuk Penetrasi Pasar Modal RI

PHE Rekor Produksi Minyak Tembus 945 Ribu Barel di Kuartal-3 2026, Perkuat Ketahanan Energi
