China Perketat AI di Drama Pendek, Wajah dan Suara Artis Kini Dilindungi Hukum!
Menyajikan ulasan tajam seputar film lokal, internasional, dan dunia perfilman.

Mahkamah Agung China resmi menerbitkan panduan hukum baru untuk memperketat penggunaan drama pendek China berbasis AI, terutama praktik face-swapping dan kloning suara tanpa izin. Regulasi yang bergulir pada Selasa (8/9) ini menjadi jawaban atas maraknya pelanggaran hak cipta dan hak personalitas di industri micro-drama yang sedang naik daun.
Menurut laporan Global Times, aturan terbaru menetapkan standar perdata: penggunaan identitas visual maupun audio yang bisa dikenali tanpa izin sah masuk kategori pelanggaran hukum. Ini bukan lagi sekadar imbauan administratif, melainkan dasar gugatan yang bisa dieksekusi di pengadilan perdata.
Pengacara Beijing, Wu Xiaolin, menilai regulasi ini menjadi standar peradilan mengikat untuk membatasi ruang gerak AI deep synthesis. Artinya, produsen konten yang selama ini main curang dengan mencomot wajah dan suara artis bakal menghadapi risiko hukum lebih nyata.
Drama Pendek Meledak, Praktik Curang Ikut Mewabah
Data Badan Radio dan Televisi Nasional China mencatat 33 ribu drama pendek tayang sepanjang 2025 dan menjaring hampir 700 juta penonton domestik. Nilai ekonominya menembus 100 miliar yuan atau sekitar Rp261,49 triliun, melonjak dua kali lipat dari tahun sebelumnya.
Tapi ekspansi kilat itu diwarnai praktik kotor. Sejumlah produsen berbiaya murah memakai AI untuk merekayasa wajah dan suara artis ternama seperti Song Weilong, Yang Zi, Xiao Zhan, hingga Dilraba Dilmurat demi mendongkrak traffic instan.
Sutradara sekaligus pemilik studio produksi AI, Feng Anrong, menyebut tayangan AI bodong berbiaya amat murah sempat merusak ekosistem industri. Praktik itu mematikan iklim usaha bagi kreator sah yang berinvestasi besar untuk naskah orisinal, lokasi syuting nyata, dan aktor berizin.
Bukan Larangan Total, Tapi Alarm untuk Kreator
Analis industri Zhang Peng menilai pengetatan aturan ini bakal menaikkan biaya risiko pelanggaran hukum dan menumbangkan model bisnis eksploitatif berbasis pencurian konten AI. Namun, ia menegaskan regulasi baru tidak melarang pemanfaatan AI secara keseluruhan. AI masih boleh dipakai sebagai alat bantu proses kreatif yang sah, seperti penulisan naskah, pascaproduksi, dan penyuntingan suara.
Sebagai pengamat budaya pop, saya melihat langkah China ini seperti tamparan halus bagi industri yang terlalu lama bersandar pada jalan pintas. Drama pendek memang lahir dari kebutuhan cepat, murah, dan viral. Tapi ketika wajah serta suara artis dijadikan komoditas tanpa izin, yang rusak bukan cuma reputasi kreator, melainkan juga kepercayaan penonton.
Penerapan regulasi ini diprediksi tidak hanya berdampak di tingkat domestik, melainkan juga memengaruhi industri hiburan global. Aplikasi drama pendek asal China tengah berekspansi agresif ke Asia Tenggara, Timur Tengah, hingga Amerika Utara, dengan akumulasi unduhan melampaui 270 juta kali pada awal 2025.
Jika aturan ini konsisten dijalankan, bukan tidak mungkin negara lain ikut meniru. Penonton boleh saja menikmati drama pendek yang makin cepat dan murah, tetapi jangan sampai harga murah itu dibayar oleh artis yang wajahnya dicuri dan kreator yang karyanya dibajak.
FAQ Terkait Berita Ini
Apa aturan baru China soal AI di drama pendek? Mahkamah Agung China menerbitkan panduan hukum yang memperketat penggunaan AI, khususnya face-swapping dan kloning suara tanpa izin, sebagai pelanggaran perdata.
Siapa yang paling terdampak? Produsen drama pendek berbiaya murah yang memakai wajah dan suara artis tanpa izin, serta kreator sah yang selama ini dirugikan praktik curang tersebut.
Apakah AI dilarang total? Tidak. AI masih boleh digunakan sebagai alat bantu kreatif yang sah, seperti penulisan naskah, pascaproduksi, dan penyuntingan suara.


