Blok M Makin Ramai, Sampah Ratusan Kg per Hari: Biaya Tersembunyi di Balik Placemaking MRT
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Revitalisasi Blok M mengubah kawasan itu menjadi pusat keramaian, tetapi juga meninggalkan beban yang tak murah: ratusan kilogram sampah per hari. PT MRT Jakarta (Perseroda) mengungkapkan lonjakan volume limbah itu dalam workshop MRT Jakarta Fellowship Program 2026 di Kantor MRT, Jakarta Pusat, Rabu (9/9). Samuel Ryan Pradipta, Division Head Business Planning and Expansion Division MRT Jakarta, menyatakan sampah harian kawasan Blok M kini didominasi sisa makanan. Ia menilai persoalan ini bukan sekadar kebersihan, melainkan bagian dari placemaking yang diusung MRT.
Samuel mengatakan pengelolaan sampah menjadi salah satu aspek yang diperhitungkan dalam konsep placemaking. Menurut dia, dari satu kawasan Blok M, sampah per hari bisa mencapai ratusan kilogram, terutama sampah organik berupa sisa makanan. MRT pun bekerja sama dengan sejumlah mitra untuk mengelola sampah organik hingga limbah elektronik atau e-waste agar didaur ulang.
Lonjakan sampah itu berbanding lurus dengan perubahan aktivitas. Jumlah pengunjung Blok M semula hanya 400 orang per hari, tetapi setelah revitalisasi naik menjadi sekitar 40 ribu orang per hari pada hari kerja. Pada akhir pekan, angka itu mencapai 60-70 ribu tanpa acara, dan bisa menembus 80-90 ribu saat ada event. Bagi MRT, jumlah kunjungan menjadi indikator keberhasilan ekonomi kawasan, bersama akses, konektivitas, kenyamanan, serta interaksi komunitas dan pelaku usaha.
Dampak Ekonomi: Rp20 Miliar-Rp30 Miliar per Festival
Keramaian Blok M juga dinilai membawa dampak ekonomi ke sekitarnya. Samuel menyebut salah satu festival di kawasan itu diperkirakan menghasilkan dampak ekonomi sekitar Rp20 miliar hingga Rp30 miliar. Angka itu bukan pendapatan atau keuntungan MRT, melainkan estimasi dari belanja pengunjung, transaksi tenant, okupansi hotel, dan aktivitas lain selama festival.
Sebagai pembanding, kegiatan berskala besar di Gelora Bung Karno (GBK) dapat memberi dampak ekonomi Rp70 miliar hingga Rp100 miliar per acara. Jika menghadirkan artis internasional, dampaknya bisa meningkat hingga sekitar Rp200 miliar. Dalam kacamata ekonomi makro, perbandingan ini menunjukkan bahwa keramaian punya nilai fiskal dan multiplier effect, tetapi juga menuntut biaya operasional, termasuk kebersihan, keamanan, pengelolaan limbah, dan perawatan fasilitas.
Biaya Tersembunyi dan Keseimbangan Sosial-Lingkungan
MRT mengakui menghidupkan kawasan tidak berhenti pada pembangunan fisik. Ada pengelolaan sampah organik dan e-waste, pengurangan emisi, hingga kegiatan tanggung jawab sosial. Samuel mengatakan aspek lingkungan dan sosial menjadi bagian dari placemaking bersama aspek ekonomi. Ia menegaskan perusahaan tetap harus mencari untung, tetapi tidak bisa mengabaikan tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Menurut dia, sebagian pendapatan setelah dikurangi biaya pengelolaan kawasan dapat dialokasikan kembali untuk kebutuhan sosial dan lingkungan. Bagi MRT, keramaian adalah ukuran keberhasilan placemaking, tetapi bukan satu-satunya. Konsep itu juga diarahkan agar kawasan tetap terhubung dengan transportasi publik, nyaman, aktif, dan memiliki ruang bagi komunitas.
Analisis: ledakan sampah di Blok M adalah cermin klasik dari pembangunan kawasan berbasis transit. Ketika sebuah ruang publik berhasil menarik puluhan ribu orang, konsumsi naik, transaksi naik, tetapi eksternalitas negatif juga naik. Tanpa model bisnis yang memasukkan biaya lingkungan, keberhasilan placemaking bisa berubah menjadi beban anggaran. Di sinilah ujian bagi MRT dan Pemerintah Jakarta: menjaga pertumbuhan tetap inklusif, bersih, dan berkelanjutan.
FAQ Terkait Berita Ini
Berapa volume sampah Blok M per hari? Menurut MRT Jakarta, sampah kawasan Blok M mencapai ratusan kilogram per hari, terutama sisa makanan atau sampah organik.
Apa itu placemaking MRT di Blok M? Placemaking adalah pendekatan menghidupkan kawasan dengan mengukur kunjungan, akses, konektivitas, kenyamanan, interaksi sosial, serta pengelolaan lingkungan dan sosial.
Berapa dampak ekonomi festival di Blok M? Satu festival di Blok M diperkirakan memberi dampak ekonomi sekitar Rp20 miliar hingga Rp30 miliar, bukan pendapatan MRT, melainkan estimasi belanja pengunjung dan transaksi sekitar.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Iran Waspadai Eskalasi Lama, Ancam Perluas Jangkauan Konflik Jika AS Teruskan Serangan

OJK Genjot Efisiensi Industri BPR: Merger Empat Bank Lokal Ini Efektif Mulai Agustus

Kolaborasi No Na dan Shopee Raih Antusiasme Tinggi Lewat Iklan 11.11 Big Sale
