Yayuk Basuki Bongkar Rahasia Janice Tjen: Bukan Stagnan, Tapi Butuh Konsistensi!
Mantan jurnalis olahraga yang kini berfokus pada analisis taktik sepak bola lokal maupun Eropa.

Legenda tenis Indonesia, Yayuk Basuki, angkat bicara soal performa petenis putri nomor satu Tanah Air, Janice Tjen, yang belakangan dinilai mandek di kancah WTA Tour. Dalam perbincangan eksklusif di Jakarta, Rabu (9/9), Yayuk menegaskan bahwa Janice tidak mengalami stagnasi, melainkan sedang menjalani fase krusial menuju kematangan sebagai pemain profesional. Mantan peringkat 19 dunia ini pun optimistis dengan masa depan Janice—asalkan konsistensi dan kepercayaan dirinya kembali terasah.
Janice Tjen memang mulai rutin bertarung di level elite WTA pada musim 2026, setelah menembus turnamen-turnamen besar sejak pertengahan 2025. Namun, hasilnya masih sering pahit: tersingkir di babak pertama atau kedua, baik di ajang WTA 500 maupun Grand Slam. Banyak pengamat menyebutnya sebagai kemandekan, tapi Yayuk Basuki punya pandangan berbeda. Menurutnya, ini adalah proses alami bagi petenis yang baru menginjak tahun kedua di panggung tertinggi.
Bukan Stagnan, Tapi Proses Pendewasaan
“Sebenarnya mengalami stagnan itu juga enggak. Ini semuanya bagian dari proses,” ujar Yayuk dengan nada tegas. Ia menekankan bahwa yang perlu diperbaiki dari Janice bukanlah teknik dasar, melainkan kematangan mental dan konsistensi permainan. “Apa yang perlu diperbaiki mungkin kematangan dia saja. Konsistensinya dia,” tambah legenda hidup tenis Indonesia tersebut.
Sebagai seorang jurnalis olahraga yang mengikuti perjalanan tenis Indonesia, saya melihat bahwa kritik Yayuk ini sangat tepat. Janice memiliki pukulan yang lengkap—bahkan Yayuk sendiri mengakuinya. Namun, tenis level WTA bukan hanya soal kekuatan pukulan; itu adalah pertempuran psikologis setiap poin. Ketidakstabilan servis dan pukulan-pukulan kunci sering menjadi bumerang, dan itu berasal dari kurangnya konsistensi, bukan dari kurangnya kemampuan teknis.
Evaluasi Mendalam: Servis, Pukulan, dan “Bad Luck”
Yayuk mengajak kita untuk tidak melihat persoalan Janice dari sisi teknis semata. “Saya tidak melihat dari sisi pukulan ataupun enggak. Tapi pertandingan. Bad luck kemarin di US Open dia langsung ketemu (Mirra) Andreeva lagi,” kenangnya. Pernyataan ini membuka mata kita bahwa faktor undian dan lawan tangguh di babak awal juga ikut mempengaruhi hasil. Meski begitu, Yayuk tetap optimistis karena Janice dinilai punya modal lebih baik dibandingkan petenis lain seperti Alexandra Eala.
“Dengan permainan Janice sendiri, saya optimistis. Janice itu sebetulnya saya berpikir dia lebih baik daripada seorang Eala. Karena permainannya lengkap,” puji Yayuk. Ini adalah pujian tinggi dari seorang yang pernah merasakan puncak dunia. Namun, saya menambahkan analisis bahwa kelengkapan permainan harus didukung oleh kemampuan membaca pertandingan dan mengelola momen kritis. Di sinilah peran evaluasi dan latihan mental menjadi kunci.
Dukungan Fans dan Kembalinya Kepercayaan Diri
Yayuk juga menyoroti sisi lain yang sering terlupakan: perjuangan mandiri Janice. Petenis kelahiran Jakarta ini membiayai sendiri perjalanan kompetisinya, tanpa sponsor besar. “Dengan dukungan kita semuanya, saya yakin itu akan menambah, mengembalikan confidence dia. Jadi yang perlu dilakukan Janice saat ini adalah mengembalikan kepercayaan dirinya,” ujar Yayuk.
Sebagai pengamat, saya sepakat bahwa dukungan fans Indonesia sangat berarti. Janice tidak hanya bertarung melawan lawan di lapangan, tetapi juga melawan tekanan finansial dan ekspektasi tinggi. Jika kita bisa memberikan energi positif, bukan beban, maka saya yakin perkembangan Janice akan lebih cepat. Yayuk pun menggarisbawahi bahwa secara permainan, Janice sudah punya segalanya—tinggal menambahkan konsistensi dan keyakinan.
Janice Tjen: Masa Depan Cerah di Depan Mata?
Optimisme Yayuk Basuki bukan tanpa dasar. Dalam dunia tenis, banyak pemain besar melewati masa sulit di tahun-tahun awal karier WTA. Yang membedakan adalah kemampuan untuk bangkit dan belajar dari setiap kekalahan. Janice Tjen, dengan dukungan tim yang tepat dan semangat pantang menyerah, memiliki potensi untuk menembus peringkat 50 besar dunia. Namun, jalan itu tidak mulus. Ia harus segera memperbaiki konsistensi servis dan pukulan forehand-nya, serta lebih cerdas dalam menyusun strategi melawan pemain-pemain top.
Dari sudut pandang taktis, saya menyarankan Janice untuk lebih sering bermain di turnamen WTA 250 untuk membangun kepercayaan diri, sebelum kembali menantang level WTA 500 dan Grand Slam. Ini adalah langkah bijak yang pernah ditempuh oleh banyak petenis Asia lainnya. Selain itu, kerja sama dengan pelatih mental bisa menjadi investasi jangka panjang yang sangat berharga.
FAQ Terkait Berita Ini
Apa yang dimaksud Yayuk Basuki dengan 'konsistensi' untuk Janice Tjen?
Konsistensi yang dimaksud adalah kemampuan Janice untuk mempertahankan kualitas permainannya dari satu pertandingan ke pertandingan lain, terutama dalam hal servis, pukulan dasar, dan pengambilan keputusan di momen kritis. Bukan sekadar teknik, tetapi juga kematangan mental.
Apakah Janice Tjen benar-benar lebih baik dari Alexandra Eala?
Menurut Yayuk Basuki, secara kelengkapan permainan, Janice dinilai lebih unggul. Eala memang memiliki prestasi junior yang gemilang, tapi Janice dinilai punya pukulan yang lebih variatif dan kekuatan fisik yang mumpuni. Namun, perbandingan ini tetap subjektif dan hasil di lapangan yang akan menentukan.
Bagaimana cara terbaik mendukung Janice Tjen dari Indonesia?
Dukungan bisa diberikan melalui doa, komentar positif di media sosial, dan tidak memberi tekanan berlebihan. Yayuk menekankan bahwa dukungan moral dapat mengembalikan kepercayaan diri Janice, yang sedang berjuang secara mandiri tanpa sponsor besar.
BERITA TERKAIT (Olahraga)

Pramono Anung Jamin Integritas JIS: 15 Konser Besar Mengalun, Hak Penama Ditawarkan, Kandang Persija Tetap Prioritas

Janice Tjen Diproyeksi Ulangi Kejayaan sebagai Unggulan Pertama Chennai Open 2026

Jokowi dan Shin Tae Yong Saksi Ijab Bahagia Pernikahan Asnawi & Yuriska
