Ratusan Siswa Dirawat Usai Keracunan MBG di Pati, Bantul, dan Madiun: Pengawasan Gagal?

Kesehatan
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ratusan Siswa Dirawat Usai Keracunan MBG di Pati, Bantul, dan Madiun: Pengawasan Gagal?
BAGIKAN:

Pati, Bantul, Madiun – Lebih dari 300 siswa dan puluhan guru di tiga kabupaten/kota harus mendapat perawatan medis usai mengonsumsi program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada pekan ini. Insiden keracunan massal ini terjadi di SMP Negeri 1 Gembong dan MTs Negeri 3 Pati (Jawa Tengah), empat SD di Jetis, Bantul (DIY), serta SDN 02 Kanigoro di Madiun (Jawa Timur), dengan gejala mual, diare, pusing, dan lemas yang mengancam nyawa.

Di Pati, pagi Rabu (9/9) menjadi mencekam. Puluhan ambulans — total 29 unit — dikerahkan untuk mengevakuasi siswa dari dua sekolah yang berjarak sekitar 500 meter. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pati, Luky Pratugas Narimo, mengakui Puskesmas Gembong overload sehingga pasien dirujuk ke RSUD Pati dan RS Mitra Bangsa. Data sementara mencatat 103 siswa dan 13 guru dari SMPN 1 Gembong, serta 127 siswa dan 30 guru dari MTsN 3 Pati mengalami gejala. “Kami menerima laporan pukul 09.00 WIB dan masih menduga ini akibat MBG yang disajikan kemarin,” ujar Luky.

Kejadian serupa menghantam Bantul. Sebanyak 50 siswa dan satu guru di SDN 1 Sumberagung, Jetis, jatuh sakit setelah menyantap MBG pada Jumat (4/9). Kepala SDN 1 Sumberagung, Parjiyatmi, menyebut hingga Selasa (9/9) masih ada 32 siswa absen, dua di antaranya dirawat inap, dan Rabu ini 11 murid tidak masuk. Diketahui, tiga SD lain di Jetis — SD Patalan Baru, SD Sawahan, dan SD Kembangsongo — juga melaporkan korban dengan jumlah lebih kecil (total 10 siswa), namun semua sudah membaik. Ketua Komisi D DPRD Bantul, Pramu Diananto Indratriatmo, mengkritik SPPG penyalur MBG karena melayani empat sekolah dengan menu sama, dan menuntut kepatuhan terhadap SOP.

Di Madiun, puluhan siswa SDN 02 Kanigoro dilarikan ke Puskesmas Sukosari pada Rabu (9/9) dengan keluhan serupa. Salah satu korban, Muhammad Zidan, mengaku udang dalam menu terasa pahit dan asam, lalu pusing. Polres Madiun Kota enggan memberi angka pasti, namun Camat Kartoharjo dan Kapolsek terlihat memantau penanganan.

Kegagalan Sistemik di Balik Program Rakyat

Kasus ini bukan pertama kali. Keracunan makanan dalam program bantuan pangan berulang kali terjadi, tetapi skala kali ini — lintas provinsi — menunjukkan adanya kelemahan mendasar dalam rantai pasok dan pengawasan MBG. Sebagai jurnalis investigasi yang telah meliput berbagai kasus pangan, saya melihat ada tiga celah kritis: pertama, standar operasional prosedur (SOP) dapur SPPG tidak dijalankan secara ketat, terutama dalam pengolahan protein hewani seperti udang yang mudah rusak. Kedua, distribusi MBG dari satu SPPG ke banyak sekolah tanpa uji layak konsumsi terlebih dahulu menciptakan efek domino. Ketiga, minimnya koordinasi antara Badan Gizi Nasional (BGN), dinas kesehatan, dan pihak sekolah dalam melakukan uji sampel sebelum konsumsi.

Yang lebih memprihatinkan, hingga berita ini diturunkan, BGN belum mengeluarkan pernyataan resmi. Ketika program makan bergizi gratis yang digadang-gadang sebagai solusi stunting dan peningkatan gizi anak justru menjadi sumber ancaman kesehatan, publik berhak mendapat kejelasan. Apakah ada sanksi tegas untuk penyedia yang lalai? Apakah uji laboratorium yang dilakukan Dinkes Bantul (hasilnya baru dua pekan lagi) akan diikuti audit menyeluruh di semua wilayah? Tanpa jawaban, kepercayaan publik terhadap program ini akan terkikis.

Korban dan Penanganan Darurat

Di Pati, 29 ambulans dikerahkan untuk mengevakuasi siswa yang mual, diare, dan lemas. Di Bantul, sebagian korban hanya dirawat di rumah karena kondisi ringan, tapi dua siswa tetap opname. Di Madiun, puskesmas kewalahan menampung pasien. Pola gejalanya seragam, mengindikasikan toksin bakteri atau histamin dari makanan laut yang tidak segar. Namun, Dinkes Bantul mengaku belum bisa memastikan menu spesifik yang menjadi sumber, meski sampel sudah dikirim untuk uji laboratorium pada Senin (7/9).

Keterlambatan hasil uji (dua pekan) menjadi kendala klasik dalam penegakan hukum pangan. Sementara itu, puluhan siswa masih absen dan trauma. Orang tua murid di Pati, yang enggan disebutkan namanya, mengungkapkan kekhawatiran bahwa pengawasan makanan sekolah hanya seremonial. “Anak saya sampai muntah-muntah, sekarang takut makan di sekolah,” katanya.

Kritik untuk Pemerintah dan SPPG

Anggota DPRD Bantul, Pramu, sudah menyuarakan protes: “Layanilah anak-anak kami dengan baik, tidak hanya mencari untung.” Pernyataan ini penting karena mengindikasikan adanya motif komersial yang mengabaikan mutu. SPPG seharusnya tidak sekadar memasok makanan, tetapi menjamin keamanan pangan sesuai standar. Saya menilai perlu dibentuk tim pengawas independen yang menguji setiap menu sebelum didistribusikan, dan BGN harus segera mengeluarkan moratorium untuk SPPG yang terbukti melanggar.

Di sisi lain, Dinas Kesehatan setempat tampak sigap dalam evakuasi, tapi langkah preventif jauh lebih penting daripada reaktif. Pendidikan tentang higiene dan penyimpanan bahan makanan, serta pelatihan bagi juru masak SPPG, harus menjadi prioritas. Kegagalan kesehatan siswa akibat pangan bukan sekadar insiden, melainkan cerminan kelalaian sistem yang berulang.

FAQ Terkait Berita Ini

Apa penyebab utama dugaan keracunan MBG kali ini?
Diduga karena bahan makanan (terutama udang) yang tidak segar atau terkontaminasi bakteri, ditambah pengolahan yang tidak sesuai SOP. Uji laboratorium masih berlangsung.

Berapa total korban dan bagaimana kondisi terkini?
Di Pati: 103 siswa+13 guru (SMPN 1) dan 127 siswa+30 guru (MTsN); Bantul: sekitar 60 siswa dan 1 guru; Madiun: puluhan siswa (data pasti belum dirilis). Sebagian besar sudah pulang, beberapa masih dirawat inap.

Apakah ada sanksi bagi penyedia MBG yang lalai?
Belum ada pernyataan resmi dari BGN atau pemerintah daerah. Namun, DPRD Bantul menuntut evaluasi dan pengawasan ketat. Kejadian ini berpotensi memicu audit nasional terhadap program MBG.

Meow! Tanya Nesi!
😸