Nuklir Bukan Lagi 'Opsi Terakhir': Ambisi 35 GW dan Peta Jalan Transisi Energi Indonesia 2060

Ekonomi & Pasar
Hendra GunawanHendra Gunawan
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Nuklir Bukan Lagi 'Opsi Terakhir': Ambisi 35 GW dan Peta Jalan Transisi Energi Indonesia 2060
BAGIKAN:

Indonesia secara resmi menggeser paradigma energinya dengan menempatkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sebagai pilar strategis dekarbonisasi nasional. Dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XII DPR RI di Jakarta, Rabu (9/9/2026), Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) memproyeksikan nuklir akan menyumbang 14,2% dari total pasokan listrik nasional atau setara 276 Terawatt hour (TWh) pada tahun 2060. Langkah berani ini menandai berakhirnya era nuklir sebagai pilihan cadangan dan memulainya sebagai penyeimbang utama dalam mengejar target net zero emission.

SMR: Solusi Taktis untuk Geografi Kepulauan

Pemerintah melalui Dewan Energi Nasional (DEN) mengonfirmasi bahwa pengoperasian komersial perdana ditargetkan mulai 2032 dengan kapasitas awal 500 Mega Watt (MW). Menariknya, teknologi yang diusung adalah Reaktor Modular Kecil atau Small Modular Reactor (SMR). Secara makroekonomi, pilihan SMR sangat rasional bagi Indonesia. Dibandingkan reaktor skala besar yang kaku, SMR menawarkan fleksibilitas investasi dan penempatan di wilayah terpencil atau kawasan industri di Sumatra dan Kalimantan, yang selama ini sulit dijangkau transmisi terpusat.

Kesiapan Regulasi dan Mitigasi Risiko

Plt. Kepala Bapeten, Zainal Arifin, menegaskan bahwa pengawasan infrastruktur nuklir kini diperkuat melalui lima pilar utama, mulai dari tata kelola hingga analisis keselamatan. Sebagai pengamat, saya melihat ini sebagai sinyal positif bagi para pelaku usaha. Kepastian regulasi adalah mata uang utama dalam investasi infrastruktur energi yang padat modal. Bapeten memposisikan diri secara tegas: tidak mendorong pun tidak menghambat, namun memastikan standar keselamatan tertinggi terpenuhi sebelum satu watt pun dialirkan ke jaringan nasional.

Namun, tantangan sesungguhnya bukan hanya pada kecanggihan teknologi, melainkan pada konsistensi kebijakan lintas periode kepemimpinan. Integrasi nuklir ke dalam bauran energi nasional memerlukan komitmen jangka panjang karena siklus hidup PLTN yang mencapai puluhan tahun. Jika berhasil dieksekusi, nuklir akan menjadi baseload yang stabil, menutupi kelemahan energi terbarukan intermiten seperti surya dan angin, sekaligus menjaga daya saing industri nasional melalui stabilitas pasokan energi jangka panjang.

FAQ Terkait Berita Ini

Kapan PLTN pertama Indonesia mulai beroperasi?
Pemerintah menargetkan PLTN perdana dengan kapasitas 500 MW mulai beroperasi secara komersial pada rentang tahun 2032-2034.

Mengapa Indonesia memilih teknologi SMR dibandingkan reaktor konvensional?
Teknologi Small Modular Reactor (SMR) dipilih karena fleksibilitas penempatannya di daerah terpencil dan kemampuannya untuk diintegrasikan ke dalam jaringan listrik regional yang lebih kecil, sesuai dengan kondisi geografis Indonesia.

Berapa target kapasitas total tenaga nuklir Indonesia di masa depan?
Hingga tahun 2060, Indonesia menargetkan kapasitas kumulatif sebesar 44 GW, di mana 35 GW dialokasikan untuk listrik dan 9 GW untuk mendukung produksi hidrogen nasional.

Meow! Tanya Nesi!
😸