Antrean BBM Makassar Mengular hingga Dini Hari, Pertamina Buka Suara: Ini Bukan Soal Stok
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Makassar, Sulawesi Selatan – PT Pertamina Patra Niaga akhirnya mengungkap penyebab antrean kendaraan yang terjadi di sejumlah SPBU Kota Makassar, bahkan hingga pukul 02.00 dini hari dalam beberapa bulan terakhir. Sales Area Manager Retail Sulselbar Pertamina, Rainier Axel Siegfried Parlindungan Gultom, menjelaskan bahwa lonjakan permintaan dari sektor pariwisata dan logistik menjadi pemicu utama, namun yang lebih mengkhawatirkan adalah adanya isu kenaikan harga BBM dan LPG yang membuat masyarakat panik membeli.
Dalam rapat bersama DPRD Sulsel, Rabu (9/9), Rainier menegaskan bahwa stok Pertalite dan LPG di Makassar aman dan terus disuplai setiap hari tanpa putus. “Antrean tetap terjadi meskipun pasokan selalu kami kirim. Ini indikasi kuat adanya faktor psikologis dan spekulasi di tengah masyarakat,” ujarnya. Pertamina pun meminta bantuan aparat penegak hukum dan Dinas Perhubungan untuk mengatur kendaraan yang mengantre hingga keluar area SPBU karena dinilai sudah mengganggu ketertiban umum.
Isu Harga dan Perilaku Konsumen Jadi Sorotan
Yang menarik dari pernyataan Pertamina adalah pengakuan bahwa antrean hingga dini hari tidak wajar. “Sampai jam 02.00-03.00 pagi masih ada antrean, itu di luar kebiasaan,” tegas Rainier. Fenomena ini mengingatkan kita pada pola serupa saat terjadi gejolak harga komoditas, di mana masyarakat cenderung melakukan panic buying meskipun pasokan mencukupi. Sebagai pengamat ekonomi makro, saya melihat ini sebagai sinyal lemahnya literasi energi dan ketidakpastian kebijakan subsidi yang kerap menjadi momok bagi konsumen kelas menengah bawah.
Pertamina merespons dengan menambah jam operasional sejumlah SPBU dan meningkatkan penyaluran LPG di wilayah yang mengalami kenaikan kebutuhan signifikan. Namun, langkah teknis ini tidak akan efektif tanpa adanya komunikasi publik yang masif untuk meredam isu. Ketua DPRD Sulsel, Andi Rachmatika (Cicu), menyatakan akan turun ke daerah pemilihan masing-masing untuk mengawasi tepat sasaran subsidi, namun pengawasan saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan edukasi bahwa subsidi BBM dan LPG tetap berjalan sesuai kuota.
Analisis: Krisis Kepercayaan atau Kelangkaan Buatan?
Dalam pengalaman saya meliput kebijakan energi selama dua dekade, antrean berkepanjangan seperti ini jarang murni karena peningkatan demand musiman. Sektor pariwisata dan logistik memang tumbuh pascapandemi, tapi lonjakan konsumsi BBM di Makassar tidak serta-merta menciptakan kelangkaan fisik. Yang terjadi justru adalah kelangkaan persepsi—masyarakat khawatir harga naik sehingga menimbun, sementara agen dan pengecer ikut menahan pasokan untuk spekulasi. Kondisi ini merugikan konsumen akhir dan menambah beban distribusi yang seharusnya terkelola.
Pertamina perlu lebih transparan dalam merilis data real-time stok dan kuota subsidi per wilayah. Selain itu, kolaborasi dengan aparat untuk mengurai antrean fisik adalah langkah darurat, tetapi solusi jangka panjangnya adalah reformasi sistem subsidi yang lebih terukur, seperti bantuan langsung tunai atau kartu pintar, agar masyarakat tidak lagi bergantung pada antrean di SPBU. Sayangnya, wacana tersebut masih terganjal politik anggaran.
FAQ Terkait Berita Ini
Apakah benar BBM dan LPG subsidi akan naik harga dalam waktu dekat?
Pertamina dan pemerintah belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai kenaikan harga. Isu yang beredar tidak berdasar, dan Pertamina memastikan harga subsidi tetap sesuai ketentuan hingga ada kebijakan baru dari pemerintah pusat.
Bagaimana cara masyarakat memastikan pasokan BBM di SPBU sekitar?
Masyarakat bisa memantau aplikasi MyPertamina atau menghubungi call center Pertamina untuk informasi stok. Namun, yang terpenting adalah tidak melakukan pembelian berlebihan (panic buying) karena justru memperparah antrean.
Langkah apa yang diambil Pertamina jika antrean terus berlanjut?
Selain menambah jam operasional dan koordinasi dengan Dishub, Pertamina akan menambah alokasi LPG dan meminta dukungan APH. Jika diperlukan, perusahaan akan melakukan operasi pasar khusus untuk daerah yang mengalami krisis pasokan.

