Kabut Asap Karhutla Indonesia Kembali Serang Filipina: Darurat Kesehatan di Davao

Dunia
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Kabut Asap Karhutla Indonesia Kembali Serang Filipina: Darurat Kesehatan di Davao
BAGIKAN:

Kualitas udara di Davao, Filipina, tercatat sangat tidak sehat pada Selasa (8/9) setelah kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali menyelimuti sejumlah wilayah Asia Tenggara. Kepala Divisi Pemantauan dan Penegakan Lingkungan Departemen Lingkungan dan Sumber Daya Alam-XI (DENR-XI), Miralou Blanco, mengungkapkan tingkat PM2.5 di Davao mencapai 157,08 mikrogram per meter kubik—masuk kategori berbahaya bagi semua kelompok usia, terutama anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan.

Partikel PM2.5, yang berukuran lebih kecil atau sama dengan 2,5 mikrometer, mampu menembus aliran darah dan memicu stroke, kanker paru-paru, serta penyakit paru obstruktif kronis. Blanco menambahkan bahwa sejak 30 Agustus, stasiun pemantauan Calinan telah mencatat indeks kualitas udara tidak sehat yang mengancam kelompok rentan. Masyarakat diimbau mengenakan masker N95 dan membatasi aktivitas luar ruangan hingga kondisi membaik.

Dampak Lintas Batas dan Respons ASEAN

Filipina bukan satu-satunya negara tetangga yang terdampak. Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam juga merasakan kiriman asap dari Sumatra dan Kalimantan, bahkan Negeri Jiran sempat mendeklarasikan darurat asap. Fenomena ini mengingatkan pada krisis kabut asap tahunan yang kerap terjadi seiring musim kemarau dan praktik pembakaran lahan untuk pertanian. Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia tidak hanya merugikan ekosistem lokal, tetapi juga menjadi ujian bagi mekanisme kerja sama regional di bawah payung ASEAN.

Kementerian Luar Negeri RI melalui Juru Bicara Vahd Nabyl menegaskan bahwa pemerintah Indonesia terus berkoordinasi dengan negara-negara Asia Tenggara dan mengedepankan diplomasi bilateral dalam menangani isu lingkungan lintas batas. Namun, upaya pencegahan yang bersifat reaktif—seperti pemadaman dan peringatan dini—masih belum cukup tanpa komitmen bersama dalam restorasi gambut, penegakan hukum terhadap pembakaran ilegal, serta investasi teknologi pemantauan berbasis satelit.

Analisis: Kebutuhan Kerja Sama Struktural

Para pengamat lingkungan menilai bahwa siklus kabut asap yang berulang menunjukkan celah dalam implementasi ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution, yang telah diratifikasi oleh semua negara anggota. Faktor El Niño dan perubahan iklim turut memperparah kekeringan, sehingga lahan gambut lebih mudah terbakar. Di sisi lain, ketergantungan ekonomi masyarakat pada perkebunan skala kecil membuat penghentian pembakaran lahan menjadi tantangan sosial-ekonomi yang kompleks.

Solusi jangka panjang membutuhkan pendekatan terpadu: insentif bagi petani untuk beralih ke metode tanpa bakar, penguatan kapasitas pemadam kebakaran, serta sistem peringatan dini yang terintegrasi di tingkat regional. Kualitas udara yang buruk bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga mengancam produktivitas ekonomi dan kesehatan publik, dengan biaya perawatan kesehatan yang melonjak setiap musim asap. Tanpa tindakan kolektif yang lebih berani, negara-negara di kawasan akan terus menjadi korban dari kebakaran yang sebenarnya dapat dicegah.

FAQ Terkait Berita Ini

Apa penyebab utama kabut asap di Filipina kali ini?
Kabut asap berasal dari kebakaran hutan dan lahan di pulau Sumatra dan Kalimantan, Indonesia, yang terbawa angin ke arah timur hingga menyelimuti Filipina bagian selatan, khususnya Davao.

Bagaimana dampak PM2.5 terhadap kesehatan masyarakat?
Partikel PM2.5 sangat halus sehingga dapat masuk ke paru-paru dan aliran darah, memicu penyakit pernapasan akut, stroke, kanker paru-paru, dan memperburuk kondisi jantung. Kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia paling berisiko.

Langkah apa yang diambil Indonesia untuk mengatasi karhutla?
Pemerintah Indonesia melakukan koordinasi dengan negara tetangga, mengerahkan tim pemadam, dan menerapkan sanksi bagi pembakar lahan ilegal. Namun, upaya pencegahan jangka panjang masih bergantung pada reformasi tata kelola lahan dan kerja sama regional yang lebih efektif.

Meow! Tanya Nesi!
😸